Matched Content

Showing posts with label intermezzo. Show all posts
Showing posts with label intermezzo. Show all posts

Sunday, July 19, 2026

Gergaji Dahan Pohon Tinggi Dengan Galah

 


Gergaji kayu dapat digunakan untuk potong dahan atau cabang pohon yang tinggi. Dengan cara disambung pada galah kayu.

Bilah gergaji dibor sebuah lubang di tengah bilah. Lubang ini untuk pemasangan sekrup untuk mengunci bilah pada galah kayu.


Pada foto di atas, sekrup yang digunakan untuk mengikat, bisa mengunakan sekrup yang biasa dipakai untuk baja ringan. Terlihat juga ditambahkan ring agar tekanan sekrup melebar, terutama pada jalur di bagian pangkal gergaji.



Photo saat gergaji dengan galah kayu ukuran penampang 3x4 cm digunakan memotong dahan pohon mangga.

Panjang galah berpengaruh pada kekuatan potong. Semakin panjang galah, semakin menjangkau dahan dan ranting yang tinggi. Tapi akan semakin lemah daya potongnya, karena kesulitan menggerak-gerakkan galah yang panjang dan berat tersebut.

Posisi dahan yang hampir vertikal di atas kepala, adalah posisi yang sulit dipotong. Karena beratnya galah, dan kurang tekanan pada gergaji ke arah dahan yang sedang dipotong. Posisi dahan yang agak mendatar terhadap pekerja, adalah lebih mudah dipotong.

Dengan panjang galah sekitar 4 meter, posisi dahan hampir tepat di atas kepala. Alat ini mampu memotong dahan pohon mangga yang keras, dengan diameter sekitar 3-4 cm. Untuk dahan yang lebih lunak, seperti dahan pohon kemboja (plumeria), maka diameter dahan yang dapat dipotong bisa lebih besar.

Galah yang pendek, sekitar 1 sampai 2 meter, juga bisa sangat efektif. Uhtuk menjangkau dahan yang tinggi. Tapi pekerja harus memanjat pohon tersebut terlebih dahulu, agar mendekat dengan dahan yang akan dipotong. Lalu dengan galah 1-2 meter itu dahan dijangkau dan digergaji.

Kelemahan dari alat ini adalah bilah gergaji bisa bengkok jika tidak tepat gerakannya. Bengkoknya bilah bisa dicegah dengan memajukan sekrup lebih ke ujung depan bilah. Tapi hal ini membuat galah lebih maju ke ujung depan gergaji. Sehingga gerakan gergaji bisa tertahan ranting-ranting, di area di mana rantingnya banyak dan rapat.

Cara lain untuk mencegah bilah bengkok, adalah dengan menambah batang besi sebagai tulang penguat. Bisa menggunakan besi siku 1x1 centimeter. Kekurangannya adalah tulang besi menambah berat gergaji. Sehingga akan menyulitkan terutama jika menggunakan galah panjang.





Saturday, February 21, 2026

Roses Flower Diligently At Partly Shady

 


The rose, as seen in the photo above, is a popular cut flower in Indonesia. Roses can grow and thrive in both lowland and highland areas in Indonesia.

I tried planting it in a slightly shady spot next to a green wall, and it bloomed consistently. As the old flowers faded, new shoots emerged. It's perfect for homes with limited garden space. Perhaps because it originates from the subtropics, roses can remain productive even in slightly shady areas in tropical country.

Fossil records indicate that roses have existed for 30 million years in Europe, Asia, and North America. Roses are believed to have been first cultivated in China, where they were planted in the gardens of the Chou Dynasty, as described by Confucius (551–479 BC). Many of the cultivated roses we grow today are hybrids and selections of native Chinese species.

Here are some details about roses in Indonesia:

• Production: Indonesia produced approximately 169.10 million rose stems in 2022, making it the second-largest ornamental plant after chrysanthemums. East Java is the largest production center nationally.

• Varieties: Some well-known Indonesian rose varieties include 'Mawar Putri', 'Mawar Mega Putih', 'Mawar Pertiwi', and 'Mawar Megawati'. Hybrid Tea roses are also popular in Indonesia.

• Origin: Many roses considered "village roses" or local roses that have long been available in Indonesia are actually imported old rose varieties.

• Cultivation: Cultivated rose seedlings are often imported from other countries such as South China, South America, and the Netherlands.

The rose in the photo, with its full, creamy white petals and water droplets, is a hybrid variety commonly cultivated on rose farms in Indonesia.

View high-resolution of my photos and videos of roses and other flora on Shutterstock.

Roses require at least 6 to 8 hours of direct sunlight per day to thrive and bloom optimally. Full sunlight is essential for photosynthesis and flowering. A sunny location is ideal, but avoid the hot midday sun, which can cause wilting or drying of the plant, especially in summer. Morning sunlight is preferable, and using a shade net (paranet) can help regulate heat intensity.

Roses can bloom year-round if conditions are right. These include adequate sunlight, about 6 hours of morning sun, fertilization, pruning flowers before they wilt, and pruning wilted leaves. Water in the morning to keep the soil moist but not soggy.

Some rose species known for their frequent flowering include Knock Out Roses (continuous blooms and disease resistance), Polyantha Roses (small, clustered flowers, year-round flowering), China Roses (repeat-flowering, compact), and varieties like 'Tahitian Sunset' (repeat-flowering) and Kordes Jubilee and Magie (adaptive and frequent flowering).

Roses are fragrant. But not all roses are fragrant; about 20% of all roses are scentless, and modern varieties are often bred for appearance or durability, rather than fragrance, although wild roses and old garden roses tend to be more fragrant. Rose scents vary from strong and sweet to soft, fresh, or even nonexistent, depending on the variety and environmental factors.




Thursday, January 22, 2026

Mawar Rajin Berbunga Walau Agak Teduh Tempatnya

 


Bunga mawar seperti yang terlihat pada foto di atas adalah salah satu jenis bunga potong unggulan yang populer di Indonesia. Bunga mawar dapat tumbuh dan berkembang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi di Indonesia. 

Saya coba tanam di tempat yang agak teduh di samping tembok hijau, ternyata bisa selalu berbunga. Bunga lama layu, muncul lagi tunas bunga baru. Cocok untuk rumah dengan taman berlahan terbatas. Mungkin karena berasal dari daerah subtropis, mawar bisa tetap produktif walau di tempat agak teduh di negara tropis.

Catatan fosil menunjukkan bahwa mawar telah ada 30 juta tahun yang lalu di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Mawar diyakini pertama kali dibudidayakan di Tiongkok, di mana mawar ditanam di taman kekaisaran dinasti Chou seperti yang dijelaskan oleh Konfusius (551-479 SM). Banyak mawar budidaya yang kita tanam saat ini adalah hibrida dan hasil seleksi dari spesies asli Tiongkok.

Berikut adalah beberapa detail mengenai mawar di Indonesia:

• Produksi: Indonesia memproduksi sekitar 169,10 juta tangkai mawar pada tahun 2022, menjadikannya tanaman hias terbesar kedua setelah krisan. Jawa Timur adalah sentra produksi terbesar secara nasional. 

• Varietas: Beberapa jenis mawar khas Indonesia yang dikenal antara lain 'Mawar Putri', 'Mawar Mega Putih', 'Mawar Pertiwi', dan 'Mawar Megawati'. Jenis mawar Hybrid Tea juga populer di Indonesia. 

• Asal usul: banyak mawar yang dianggap "mawar kampung" atau mawar lokal yang sudah ada sejak lama di Indonesia sebenarnya adalah jenis mawar tua (old rose) yang diimpor. 

• Budidaya: Bibit mawar yang dibudidayakan sering didatangkan dari negara lain seperti Cina Selatan, Amerika Selatan dan Belanda. 

Bunga mawar pada foto, dengan kelopak putih krem yang penuh dan tetesan air, adalah varietas hibrida yang umum dibudidayakan di perkebunan mawar di Indonesia. 

Lihat foto dan video mawar dan flora lainnya beresolusi tinggi di Shutterstock.

Bunga mawar membutuhkan sinar matahari langsung minimal 6 hingga 8 jam per hari agar tumbuh subur dan berbunga maksimal. Karena sinar matahari penuh sangat penting untuk fotosintesis dan pembungaan. Lokasi yang cerah sangat ideal, namun hindari matahari terik di siang bolong yang bisa membuat tanaman layu atau kering, terutama di musim panas; sinar matahari pagi lebih baik, dan penggunaan jaring peneduh (paranet) bisa membantu mengatur intensitas panas. 

Bunga mawar dapat berbunga sepanjang tahun jika kondisinya tepat. Seperti sinar matahari yang cukup, sekitar 6 jam matahari pagi, pemupukan, pemangkasan bunga sebelum layu, daun layu juga dipangkas. Siram di pagi hari, agar tanahnya lembab tapi tidak becek.

Beberapa spesies mawar yang dikenal rajin berbunga antara lain Knock Out Roses (mekar terus-menerus dan tahan penyakit), Mawar Polyantha (bunga kecil berkelompok, berbunga sepanjang tahun), Mawar Cina (berbunga berulang, kompak), dan varietas seperti 'Tahitian Sunset' (berbunga berulang) serta Kordes Jubilee dan Magie (adaptif dan rajin berbunga). 

Mawar beraroma harum. Tapi tidak semua bunga mawar beraroma harum; sekitar 20% dari semua jenis mawar tidak memiliki aroma, dan varietas modern sering kali dibiakkan untuk tampilan atau daya tahan, bukan wangi, meskipun mawar liar dan mawar taman tua cenderung lebih harum. Aroma mawar bervariasi dari kuat dan manis hingga lembut, segar, atau bahkan tidak ada sama sekali aromanya, tergantung pada varietas dan faktor lingkungan. 



Friday, November 14, 2025

Calathea Cleans the Air, Safe for Children and Pets

 


The Calathea zebrina plant, also known as: Goeppertia, zebra plant, calathea, meranti sepat, mersepat, cathedral plant, peacock plant, zebra plant, rattlesnake plant, and prayer plant, is a species of the Calathea genus, known for its striped, velvety leaves. It originates from Brazil.

The leaf size of Calathea zebrina varies depending on the variety and growing conditions, but its leaves are typically quite large, reaching up to about 22 cm in length and 10 cm in width, as is the case with the similar Calathea louisae. In general, Calathea zebrina plants can grow to a height of 30-90 cm and a width of 30-60 cm.


See also various photos and videos of plants with high-detail intensity on Shutterstock.


• Identification: This plant has large, bright green leaves with a distinctive dark green striped pattern, resembling a zebra, making it one of the most easily recognized Calathea species.

• This plant is part of the Marantaceae family and is primarily grown for its beautiful leaves and its ability to purify indoor air.

• Characteristics: Calathea zebrina is often referred to as the "praying plant" because its leaves fold up at night.

• Care: This plant is suitable for both shade and indoor use. It is an easy-care plant, and it is important not to overwater it.

Hydroponic propagation method: Calathea cuttings can be planted in water, but this is only temporary. Repot them in soil once healthy roots have developed for better long-term growth.

Watch for signs of root rot: If the Calathea leaves turn yellow or wilt, it could be a sign that the roots are starting to rot from overwatering. Reduce watering immediately and ensure the pot has good air circulation.

• Indoors: Calathea are a popular choice for indoor plants because they prefer indirect light and can tolerate low light conditions. They thrive in a home environment, where humidity and temperature can be adjusted to a comfortable room temperature for humans. Direct sunlight can scorch the leaves and cause their bright colors to fade.

• Outdoors: In warm, tropical climates without frost, Calathea can be grown outdoors. They should be placed in a shady location, such as a location with partially shaded or filtered sunlight. This mimics their native rainforest habitat, where sunlight is partially blocked by the leaves of taller trees.

• This plant is considered non-toxic to cats, dogs, and humans or children, making it a safe choice for households with small children and pets.

• Myth: There is a myth that snakes like this plant, but this is simply a myth.

Calathea zebrina can be propagated by division during transplanting. This is best done in spring in countries with four seasons. To do this, gently remove the plant from the soil or pot and separate the root ball. Carefully pull or cut the root ball and stem, ensuring each new division has part of the root system and at least one set of leaves or leaf buds.

Transplant each plant division into its own container with moist, well-draining soil, then place it in an area with high humidity. The light should be bright, but not direct sunlight.

Tuesday, October 14, 2025

Calathea Bersihkan Udara, Anak dan Hewan Aman

 


Tanaman Calathea zebrina, yang juga dikenal sebagai Goeppertia, tanaman zebra, kalatea, meranti sepat, mersepat, tanaman katedral, tanaman merak, tanaman zebra, tanaman ular derik, dan tanaman doa

Tanaman ini adalah salah satu spesies dari genus Calathea, yang terkenal karena daunnya yang bergaris-garis dan bertekstur seperti beludru. Berasal dari Brazil.

Ukuran daun Calathea zebrina bervariasi tergantung varietas dan kondisi pertumbuhan, namun daunnya. Biasanya cukup besar, daunnya bisa mencapai panjang hingga sekitar 22 cm dan lebar 10 cm, demikian juga untuk Calathea louisae yang mirip. Secara umum, tanaman Calathea zebrina bisa tumbuh hingga tinggi 30-90 cm dengan lebar 30-60 cm.  


Lihat juga berbagai foto dan video tanaman dengan detail berintensitas tinggi di Shutterstock.

• Identifikasi: Tanaman ini memiliki daun besar berwarna hijau cerah dengan pola garis-garis hijau gelap yang khas, yang menyerupai pola zebra, menjadikannya salah satu jenis Calathea yang paling mudah dikenali. 

• Tanaman ini merupakan bagian dari suku Ararut-ararutan (Marantaceae) dan terutama ditanam untuk dimanfaatkan keindahan daunnya, dan kemampuannya memurnikan udara di dalam ruang.

• Karakteristik: Calathea zebrina sering disebut sebagai "praying plant" (tanaman berdoa) karena daunnya dapat melipat pada malam hari. 

• Perawatan: Tanaman ini cocok untuk diletakkan di tempat teduh atau di dalam ruangan. Termasuk tanaman yang mudah dirawat, dan penting untuk tidak menyiramnya secara berlebihan.

Metode hidroponik untuk perbanyakan: stek Calathea bisa ditanam di air, tetapi ini hanya untuk sementara. Pindahkan kembali ke tanah setelah akar yang sehat tumbuh agar tanamannya bisa tumbuh lebih baik dalam jangka panjang. 

Perhatikan tanda-tanda busuk akar: Jika daun Calathea menguning atau layu, itu bisa menjadi tanda akar mulai membusuk akibat terlalu banyak air. Segera kurangi penyiraman dan pastikan pot memiliki sirkulasi udara yang baik. 

• Dalam ruangan: Calathea merupakan pilihan populer untuk dalam ruangan karena mereka lebih menyukai cahaya tidak langsung dan dapat mentolerir kondisi cahaya redup. Mereka tumbuh subur di lingkungan rumah, di mana kelembapan dan suhu dapat diatur sesuai suhu ruang yang nyaman juga bagi manusia. Sinar matahari langsung dapat menghanguskan daunnya dan menyebabkan warna cerahnya memudar. 

• Luar Ruangan: Di daerah beriklim tropis yang hangat dan bebas embun beku, Calathea dapat ditanam di luar ruangan. Mereka harus ditempatkan di tempat yang teduh, seperti lokasi dengan sinar matahari yang agak terhalang-halang atau tersaring. Untuk meniru habitat hutan hujan asli mereka, di mana sinar matahari agak terhalang dedaunan pohon yang lebih tinggi.

• Tanaman ini dianggap tidak beracun bagi kucing, anjing, dan manusia atau anak kecil, menjadikannya pilihan yang aman untuk rumah tangga dengan anak kecil dan yang memiliki hewan peliharaan. 

• Mitos: Terdapat mitos bahwa tanaman ini disukai ular, namun hal tersebut tidak benar dan hanya sekedar mitos. 

Untuk memperbanyak Calathea zebrina adalah dengan pembagian selama pemindahan. Sebaiknya dilakukan di musim semi di negara dengan 4 musim. Untuk melakukannya, keluarkan tanaman secara perlahan dari tanah atau potnya, pisahkan umbi akar. Tarik atau potong dengan hati-hati rumpun akar dan batang, pastikan setiap pembagian baru memiliki sebagian sistem akar dan setidaknya satu set daun atau tunas daun. 

Pindahkan setiap bagian tanaman ke dalam wadah tersendiri dengan tanah yang lembap dan memiliki drainase yang baik, lalu letakkan di area dengan tingkat kelembapan tinggi. Cahaya harus cukup terang, tapi tidak langsung terkena panas matahari.


Thursday, October 9, 2025

Peace Lily Purifies Your Indoor Air

 

The Peace Lily, also known as Spathiphyllum, is a popular houseplant characterized by its distinctive white flower-like structure, called a spathe, surrounding a central spike (spadix), as shown in the photo above. Its leaves are glossy and dark green.

This houseplant is widespread in Central America and the northern part of the South American continent. Two species are found in the Pacific islands: one on Cocos Island (S. laeve) and one in Indonesia and the Philippines (S. commutatum).


Photo of variegated peace lily leaves; also see other high-resolution houseplant photos and videos on Shutterstock.



YouTube video of a small bee on a peace lily.

• Growth and Size: Peace lilies have a moderate growth rate and can reach up to 1 meter (3 feet) in height.

• Care: This plant is relatively easy to grow and thrives in indirect light, and is suitable for shade and indoors. The soil should be kept moist; it can tolerate wet soil. Rehydrate after the top third soil dries out.

• Flowers: They can bloom twice a year. If conditions are right, they can flower year-round, and the flowers can last for several weeks. They can flower indoor or in shade.

• Air Purification: Peace lilies are known for their air-purifying properties, making them ideal for reducing indoor pollution.

• Toxicity: They can cause gastrointestinal upset if ingested, so it's important to keep them away from pets and children who might chew on them.

To propagate peace lilies, divide healthy, mature plants by removing them from their pots, carefully separating the root ball and clump into smaller pieces, and repotting them in their own containers or new locations with fresh, moist soil.



Thursday, September 25, 2025

Lili Perdamaian Membersihkan Udara Dalam Rumah

 


Peace Lily, Spathiphyllum, spath, lili perdamaian, bakung perdamaian, adalah tanaman hias populer yang ditandai dengan struktur khasnya yang menyerupai bunga berwarna putih, disebut spathe, yang mengelilingi paku pusat (spadix), sebagaimana foto di atas. Daunnya mengkilap dan berwarna hijau tua. 

Tanaman hias ini tersebar luas di Amerika Tengah dan di bagian utara dari benua Amerika Selatan. Dua spesies ditemukan di kepulauan Pasifik: satu di Pulau Cocos ( S. laeve ) dan satu di Indonesia dan Filipina ( S. commutatum ).


Foto daun lili perdamaian varigata, lihat juga berbagai foto dan video tanaman hias resolusi tinggi lainnya di Shutterstock.



Video YouTube tentang lebah kecil di bunga lili perdamaian.

• Pertumbuhan dan Ukuran: bunga lili perdamaian memiliki tingkat pertumbuhan sedang dan dapat mencapai tinggi hingga 1 meter atau 3 kaki.

• Perawatan: tanaman ini relatif mudah tumbuh dan berkembang dalam cahaya tidak langsung, cocok di tempat teduh dan di dalam ruang. Tanah harus selalu lembab, bisa hidup di tanah becek. Dihidrasi kembali setelah sepertiga bagian atas tanah mengering. 

• Bunga: dapat berbunga dua kali setahun. Jika kondisi cocok, bisa berbunga sepanjang tahun, dan bunga bisa bertahan selama beberapa minggu. Bisa berbunga di dalam ruang atau di tempat teduh.

• Pemurnian Udara: lili perdamaian dikenal karena kemampuannya dalam memurnikan udara, cocok unruk mengurangi polusi di dalam ruangan.

• Toksisitas: Dapat menyebabkan gangguan pencernaan jika tertelan, jadi penting untuk menjauhkannya dari hewan peliharaan dan anak-anak yang mungkin mengunyah tanaman ini.

Untuk memperbanyak bunga lili perdamaian, bagilah tanaman yang sehat dan dewasa dengan mengeluarkannya dari pot, pisahkan dengan hati-hati umbi akar dan rumpun menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, dan dipindahkan ke dalam wadahnya atau tempat baru dengan tanah yang segar dan lembab. 

Monday, August 25, 2025

Pintoi Ornamental Beans Cover Ground Effectively

 


Arachis pintoi is an ornamental bean. Arachis pintoi synonyms and common names include Pinto peanut, Forage peanut, Perennial peanut, Pintoi peanut, and Amarillo peanut. Other terms used in different languages are Maní Forrajero Plerenne (Spanish) and Amendoim Forrageiro (Portuguese). 

This tropical legume forms dense, low mats, typically growing to a height of 10 to 20 cm. Its leaves are arranged in four oval leaflets, and its flowers are pale yellow to lemon yellow, resembling small peanut blossoms.


See my high-resolution photos of Pintoi, as well as other plants, on Shutterstock.


Origin and Distribution:

Native to South America, specifically the Amazon Basin in Brazil, this plant has been introduced and cultivated in other tropical regions due to its adaptability.


Uses:

Arachis pintoi is used for a variety of purposes, including as a pasture grass, ground cover, and ornamental plant. As a ground cover, this plant can suppress weeds after 3-4 months of planting, even more effectively than herbicides. It can reduce erosion and maintain soil moisture. It is also used in some cultures for rituals and ceremonies, symbolizing hope and joy, and is considered a good luck charm.

As a legume plant, this ornamental beans have the ability to absorb nitrogen from the air and store nitrogen in the soil, which is beneficial for soil fertility.


General Growth:

This plant is a legume that propagates and forms shoots, which can form dense stretches. Similar to peanuts, after pollination, the flower stalk elongates and grows in the soil to produce underground fruit.

This plant likes sunlight, at least 60% per day. Soil must be moist but not soggy or well-drained.

It spreads by rhizomes or continuously growing horizontal underground stems that periodically send out lateral shoots and roots.


Pintoi can be propagated from seeds. But it is usually propagated by stem cuttings. Because the cuttings propagation method is more effective and faster than using seeds. The method is:

• Choose healthy stems that are not too young or too old.

• Cut a 10-15 cm stem with a sharp knife.

• Remove the leaves at the bottom of the cutting to reduce evaporation before roots develop.

• Plant the cutting in a moist, loose growing medium.

• Maintain the moisture of the growing medium and provide shade until the root grows. New leaves will usually appear.

• Transfer the cutting to a pot or larger area. 

If the plant is not yet dense, the area can sometimes be overwhelmed by other plants such as grass, weeds, moss, and others. Therefore, other plants that interfere with the growth need to be removed. If Pintoi is already dense, other plants will usually be outcompeted.


Care:

This plant is known for its toughness and easy maintenance. Water it once a week to keep the soil moist, not dry, but not soggy. It is tolerant of being trampled and does not require intensive pruning. It is suitable for areas between stepping stones on walkways or as a substitute for grass to cover the ground.

Monday, August 11, 2025

Kacang Hias Landep Efektif Menutup Tanah


Arachis pintoi, yang umumnya dikenal sebagai Kacang Pinto atau Kacang Landep, Kacang Hias. Sejenis kacang-kacangan tropis yang membentuk anyaman tikar padat dan rendah, biasanya dapat tumbuh hingga setinggi 10 hingga 20 cm. Daunnya tersusun atas empat helai anak daun berbentuk lonjong, dan bunganya berwarna kuning pucat hingga kuning lemon, menyerupai bunga kacang tanah kecil.   


Lihat foto-foto landep saya yang beresolusi tinggi, juga foto tanaman lainnya, di Shutterstock.


• Asal dan Distribusi:

Berasal dari Amerika Selatan, khususnya Lembah Amazon di Brasil, tanaman ini telah diperkenalkan dan dibudidayakan di wilayah tropis lainnya karena kemampuan beradaptasinya.   


• Kegunaan :

Arachis pintoi dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, termasuk sebagai padang rumput, penutup tanah, dan sebagai tanaman hias. Sebagai penutup tanah, tanaman landep ini dapat mencegah tumbuhnya gulma setelah 3-4 bulan ditanam, bahkan bisa lebih efektif daripada herbisida. Dapat mengurangi erosi, dan mejaga kelembaban tanah. Ia juga digunakan dalam beberapa budaya untuk ritual dan upacara, melambangkan harapan dan kegembiraan, dan dianggap sebagai jimat pembawa keberuntungan.   

Sebagai tanaman leguminosa, kacang hias memiliki kemampuan untuk mengikat nitrogen dari udara dan menyimpan nitrogen di dalam tanah, yang bermanfaat untuk kesuburan tanah.


• Pertumbuhan Umumnya :

Tanaman ini merupakan legum atau tumbuhan polong yang merambat dan membentuk tunas, yang dapat membentuk hamparan yang padat. Mirip dengan kacang tanah, setelah penyerbukan, tangkai bunga memanjang dan tumbuh di dalam tanah untuk menghasilkan polong di bawah tanah.   

Menyukai sinar matahari, setidaknya 60% per hari. Tanah yang lembab tapi tidak becek atau berdrainase yang baik.

Menyebar dengan rizoma atau batang bawah tanah horizontal yang tumbuh terus menerus yang mengeluarkan tunas lateral dan akar secara berkala.

Landep dapat diperbanyak dari biji. Tapi biasanya diperbanyak dengan cara stek batang. Karena metode perbanyakan stek lebih efektif dan lebih cepat dibandingkan menggunakan biji. Caranya adalah:

• Pilih batang yang sehat dan tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

• Potong batang sepanjang 10-15 cm dengan pisau tajam.

• Buang daun pada bagian bawah stek, agar mengurangi penguapan air di saat akar belum tumbuh.

• Tanam stek pada media tanam yang lembab dan gembur.

• Jaga kelembaban media tanam dan berikan naungan hingga stek berakar. Biasanya daun baru juga sudah bermunculan.

• Pindahkan stek yang sudah berakar ke pot atau lahan yang lebih luas. 

Jika belum lebat dan padat, landep kadang kalah dengan tanaman lain seperti rumput, ilalang, lumut, dan gulma lainnya. Sehingga tananam lain yang mengganggu perlu dicabut. Jika landep sudah lebat dan padat, maka tanaman lain biasanya akan kalah.


• Perawatan :

Tanaman ini dikenal karena ketangguhannya dan perawatannya yang mudah. Bisa disiram air sekali seminggu, agar tanah lembab, tidak kering, tapi juga tidak becek. Toleran terhadap lalu lintas pejalan kaki, dan tidak memerlukan pemangkasan intensif. Cocok untuk area di antara batu pijakan jalan setapak atau sebagai pengganti rumput untuk menutup tanah.

Tuesday, August 5, 2025

Mini Ambarella Ornamental Tree Fruits Productive

 


The Ambarella fruit, scientifically known as Spondias dulcis, is also known as the Golden Apple or Ambarella, a tropical fruit tree with edible fruit. Spondias dulcis is a versatile tree with a variety of uses, and its fruit is a popular ingredient in many tropical dishes.


• Origin and Distribution:

This plant is native to the Indo-Malaysian region to Tahiti and has spread widely throughout the tropics.


• Fruit Characteristics:

Ambarella fruit is oval, green when young, and turns yellowish-green when ripe. The flesh is crispy with a sweet-sour flavor.

The maximum tree height can reach 15 meters.


Mini Ambarella

The photo above shows a mini ambarella already bearing fruit, with a tree about 50 cm tall. The mini ambarella is a variety of ambarella plant that is smaller than the typical ambarella, both in terms of tree height and fruit size. This plant, also known as Bangkok ambarella, has the advantage of bearing fruit quickly and being able to bear fruit all year round.


Here are some important points about mini ambarella:


Size:

Mini ambarella trees reach a maximum height of around 2-3 meters, much shorter than regular ambarella.


Fruit:

Mini ambarella fruit is oval-shaped, has a sour and slightly sweet taste, and is perfect for making rujak (fruit salad), pickles, or preserves.


Advantages:

Mini ambarella is known for being very early-growing, meaning it bears fruit quickly. Some sources state that this plant can begin bearing fruit at 1-2 years old. Furthermore, mini ambarella trees can bear fruit all year round.


Care:

Mini ambarella is relatively easy to care for, and some even say it doesn't require special fertilization to produce fruit.


Suitable for Potted Plants:

Due to its relatively small size, mini ambarella is very suitable for growing in pots (potted flowering plants). Can be propagated by cuttings or grafting.


Ambarella trees generally begin to bear fruit 1-2 years after planting, especially the mini ambarella variety. The main harvest season for ambarella in Indonesia usually occurs during the rainy season, around January to March, although some also bear fruit outside of this season.

The leaves are pinnate, with 5-11 leaflets.

See my high-quality flora photos on Shutterstock.


Uses

1. Food: The fruit is edible and can be eaten raw, cooked, or used in jams and preserves. In addition to the fruit, the leaf tips of the mini ambarella can also be used as a spice to add a sour flavor to dishes.

2. Medicine: The bark, leaves, and fruit of this tree have been used in traditional medicine for various purposes.

3. Wood: The wood is sometimes used to make furniture and other wood products.


Cultivation

Spondias dulcis prefers tropical climates with high humidity and warm temperatures.

This tree can grow in a variety of soil types, but prefers moist, but not soggy, soil with good drainage.

Ambarella trees require at least 6 hours of direct sunlight daily for healthy growth and optimal fruit production.


Monday, July 28, 2025

Pohon Hias Kedondong Mini Rajin Berbuah

 


Buah kedondong, yang memiliki nama ilmiah Spondias dulcis, juga dikenal sebagai Ambarella atau Apel Emas, yang merupakan pohon buah tropis dengan buah yang dapat dimakan. Spondias dulcis adalah pohon serbaguna dengan beragam kegunaan, dan buahnya merupakan bahan populer dalam banyak masakan tropis.

• Asal dan Penyebaran:

Tanaman ini berasal dari wilayah Indo-Malaysia hingga Tahiti dan telah tersebar luas di seluruh daerah tropis. 

• Ciri-ciri Buah:

Buah kedondong berbentuk lonjong, berwarna hijau saat muda, dan akan berubah menjadi hijau kekuningan saat matang. Daging buahnya renyah dengan rasa asam-manis. 

Ketinggian pohon maximal.dapat mencapai 15 meter.


Kedondong Mini

Foto di atas adalah kedondong mini yang sudah berbuah dengan tinggi pohon sekitar 50 cm. Kedondong mini adalah varietas tanaman kedondong yang memiliki ukuran lebih kecil dari kedondong pada umumnya, baik dari segi tinggi pohon maupun ukuran buahnya. Tanaman ini juga dikenal dengan sebutan kedondong bangkok, dan memiliki keunggulan yaitu cepat berbuah (genjah) serta mampu berbuah sepanjang tahun. 

Berikut adalah beberapa poin penting tentang kedondong mini:

Ukuran:

Pohon kedondong mini memiliki tinggi maksimal sekitar 2-3 meter, jauh lebih pendek dibandingkan kedondong biasa. 

Buah:

Buah kedondong mini berbentuk lonjong seperti telur, rasanya asam dengan sedikit manis, dan sangat cocok untuk dibuat rujak, asinan, atau manisan. 

Keunggulan:

Kedondong mini dikenal sangat genjah, artinya cepat berbuah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tanaman ini sudah bisa mulai berbuah pada usia 1-2 tahun. Selain itu, pohon kedondong mini juga mampu berbuah sepanjang tahun. 

Perawatan:

Perawatan kedondong mini tergolong mudah, bahkan ada yang menyebutkan tidak memerlukan pemupukan khusus untuk bisa berbuah. 

Cocok untuk Tabulampot:

Karena ukurannya yang relatif kecil, kedondong mini sangat cocok ditanam dalam pot (tabulampot, tanaman bunga dalam pot). Dapat diperbanyak dengan stek atau cangkok.


Pohon kedondong umumnya mulai berbuah pada usia 1-2 tahun setelah ditanam, terutama jenis kedondong mini. Musim panen utama kedondong di Indonesia biasanya terjadi pada musim hujan, yaitu sekitar bulan Januari hingga Maret, meskipun ada juga yang berbuah di luar musim tersebut. 

Daunnya menyirip, dengan 5-11 helai daun.

Lihat berbagai foto flora saya dengan kualitas tinggi di Shutterstock.

Kegunaan

1. Makanan: Buahnya dapat dimakan dan dapat dimakan mentah, dimasak, atau digunakan dalam selai dan manisan. Selain buahnya, pucuk daun kedondong mini juga bisa dimanfaatkan sebagai bumbu dapur untuk memberikan rasa asam pada masakan. 

2. Obat: Kulit kayu, daun, dan buah pohon ini telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keperluan.

3. Kayu: Kayunya terkadang digunakan untuk pembuatan furnitur dan produk kayu lainnya.


Budidaya

Spondias dulcis lebih menyukai iklim tropis dengan kelembapan tinggi dan suhu hangat.

Pohon ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, tetapi lebih menyukai tanah lembab tapi tidak becek atau berdrainase baik.

Pohon kedondong membutuhkan minimal 6 jam sinar matahari langsung setiap hari untuk pertumbuhan yang sehat dan produksi buah yang optimal.



Friday, June 20, 2025

Sirih Cina, Gulma Tapi Banyak Manfaat

 


Sirih Cina dengan nama latin Peperomia pellucida, juga dikenal dengan nama umum seperti: Ketumpang Air, Tumpang Air, Tumpang Angin, Daun Babawangan, Suruhan. 

Sering dianggap gulma, lalu dicabut dan dibuang, padahal banyak manfaatnya.

Sirih Cina menyukai daerah lembab dan teduh dan dapat ditemukan di berbagai wilayah di dunia, termasuk Neotropik (Amerika Tengah dan Selatan, Karibia, dan Florida Selatan), Afrika, Asia Tenggara, dan Australia.   

Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 0,4 meter dan ditandai dengan daunnya yang  selebar sekitar 1- 3,5 cm, berbentuk bulat telur atau segitiga bulat telur, mirip juga bentuk hati, berwarna hijau muda, sukulen, dan batang yang bercabang dan tidak berbulu.   


Lihat juga berbagai foto saya dengan detail resolusi tinggi tentang Sirih Cina dan flora lainnya di Shutterstock.

Berbunga-bunga kecil tersusun berjarak dalam setangkai mengarah ke atas tanpa bulu sepanjang 2-6 cm. Bunga-bunga tersebut dikelilingi oleh daun pelindung berbentuk bulat.

Buahnya kering yang tidak pecah dikenal sebagai nutlet. Buah ini berbentuk bulat dan lebarnya sekitar 0,5 mm.

Peperomia pellucida secara tradisional digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit, termasuk peradangan, nyeri, dan kondisi kulit tertentu.   

Dalam pengobatan tradisional Indonesia, daun yang diremas dioleskan ke kepala untuk meredakan sakit kepala saat demam. Air perasan daunnya diminum untuk mengatasi sakit perut dan kolik. Di Filipina, tanaman ini dioleskan sebagai tapal untuk abses dan bisul. Di India, rebusan tanaman diminum untuk menghentikan pendarahan. Di Brasil digunakan untuk menurunkan kolesterol dan mengobati infeksi. 

Tanaman ini juga dapat dimakan dan dapat dikonsumsi mentah, atau dimasak, digunakan dalam salad atau lalap, juga bisa sebagai teh atau jamu.



Wednesday, May 21, 2025

Plumeria, Fragrant Flower Keeps Mosquito Away


Plumeria rubra or Plumeria alba, also known as Frangipani. These flowers are characterized by five petals that are tightly pressed together at the base, creating a spiral effect in the center.

Frangipani are known for their fragrant flowers, which appear from early summer through fall. The scent is often described as sweet and quite strong, making it a popular choice for gardens and floral arrangements.

In various cultures, Plumeria has symbolic meaning. In Bali, this flower is used in prayer activities. In Hawaii, this flower is a popular flower for bouquets. This flower is also the national flower of Laos and Nicaragua.


Photo of red frangipani tree with yellow frangipani background. See also my detailed high-resolution photos of frangipani and other floras on Shutterstock.

Frangipani trees are relatively small, usually growing 15 to 25 feet tall, about 5 to 8 meters, with a shape like a vase or umbrella. This tree grows well in warm climates in tropical areas. The leaves are long, rough, and grow in clusters at the ends of branches. Although generally sturdy, the branches are somewhat brittle and contain a milky sap that can irritate the skin.

Frangipani is usually propagated by cuttings, because it grows faster. It can also be planted from seed.

Take branch cuttings from pruned tree branches and plant them. Select cuttings that are at least 50 cm long, with a stem diameter of over 4 cm and a hardened texture for optimal results.

The stem is planted about 10 cm deep in the ground.

Usually yellow Frangipani grows roots more easily. The stem can be dipped into a container of water mixed with soil, or muddy soil. Without worrying that the stem will rot.


Red Frangipani is usually more susceptible to stem and root rot in muddy soil. Some experts recommend that red Frangipani stem cuttings be left for 4-7 days in a dry, dark place. Until the scar is covered with callus. Then planted in moist, but not muddy soil.

Remove the older leaves from the lower part of the stem cuttings, leaving about 30-50% of the younger leaves intact. Also, cut off any flower stems to direct the cutting's energy towards root growth. Excessive leaves can lead to increased transpiration, causing the stem to wilt and potentially rot. Older leaves near the bottom are more prone to rot, which can spread to the rest of the stem.

After establishing a strong root system, this tree prefers full sun exposure throughout the day, which will encourage abundant flowering.

Plumeria milk sap contains compounds that can inhibit termite metabolism and act as a repellent, so termites will not attack plants.

Frangipani are susceptible to pests such as whiteflies, mealybugs, and spider mites. These pests can be controlled with appropriate pest control methods such as soapy water, insecticides. Soapy water is sprayed on to mealy bugs infested leaves, sometimes it needs to be brushed too.

This tree is included in the deciduous group. In horticulture and botany, the term "deciduous" means "shedding when mature" and "tending to shed", referring to trees and shrubs that shed their leaves seasonally, usually in the fall, dropping their petals, after flowering, and dropping their ripe fruit. Therefore, the surrounding area should be swept up frequently to remove fallen leaves and flowers.

The fragrant scent of frangipani flowers is believed to have a calming and relaxing effect in aromatherapy, and it is used in perfumes and other personal care products. The scent is also used in bouquets and flower arrangements, adding a touch and cultural meaning.

The fragrant scent of the flowers is also believed to repel mosquitoes.

Frangipani can be considered an easy plant to grow. It thrives with easy care. It can live in shade, but will flower diligently in a place with full sun, in warm temperatures. The soil should be well-drained, moist but not soggy or water-logged.


Friday, May 9, 2025

Kemboja Rajin Berbunga Wangi Anti Nyamuk

 


Plumeria rubra atau Plumeria alba, juga dikenal sebagai Frangipani, Kemboja atau Kamboja. Bunga-bunga ini memiliki ciri khas berupa lima kelopak yang saling menempel erat di pangkalnya, sehingga menciptakan efek spiral di bagian tengahnya. 

Kemboja dikenal karena bunganya yang harum, yang muncul dari awal musim panas hingga musim gugur. Aromanya sering digambarkan sebagai manis dan cukup kuat, sehingga menjadi pilihan populer untuk taman dan karangan bunga. 

Dalam berbagai budaya, Plumeria memiliki makna simbolis. Di Bali, bunga ini digunakan dalam kegiatan doa. Di Hawaii, bunga ini merupakan bunga yang populer untuk karangan bunga. Bunga ini juga merupakan bunga nasional Laos dan Nikaragua.



Pohon Kemboja merah dengan latar belakang Kemboja kuning. Lihat juga berbagai foto saya dengan detail resolusi tinggi tentang Kemboja dan flora lainnya di Shutterstock.

Pohon Kemboja berukuran relatif kecil, biasanya tumbuh setinggi 15 hingga 25 kaki, sekitar 5 sampai 8 meter, dengan bentuk seperti vas atau payung. Pohon ini tumbuh subur di daerah beriklim hangat dan sering ditemukan di daerah tropis. Daunnya panjang, kasar, dan tumbuh berkelompok di ujung cabang. Meskipun umumnya kokoh, cabang-cabangnya agak rapuh dan mengandung getah susu yang dapat mengiritasi kulit.

Kemboja biasanya diperbanyak dengan cara stek, karena lebih cepat besar. Bisa juga ditanam dari biji.

Potongan dahan dari sisa cukuran pohon bisa ditanam. Pilih potongan panjang setidaknya 50 cm. Lebih baik jika sudah cukup keras batangnya atau di atas 4 cm diameternya.

Potongan ditanam sekitar 10 cm ke dalam tanah.

Biasanya Kemboja kuning lebih mudah tumbuh akarnya. Potongan batang bisa dicelup dalam wadah air yang bercampur tanah, atau tanah yang becek. Tanpa khawatir batang akan membusuk. 

Kemboja merah biasanya lebih mudah terserang busuk batang dan akar di tanah yang becek. Beberapa ahli menyarankan agar potongan batang Kemboja merah dibiarkan 4-7 hari di tempat kering dan gelap. Sampai bekas luka tertutup kalus. Kemudian ditanam di tanah yang lembab, tapi tidak becek.

Cukur daun tua yang ada di bawah potongan batang stek. Sehingga hanya tersisa sekitar 30-50% daun, pastikan daun tersebut masih muda. Potong juga tangkai bunga jika ada. Supaya batang stek fokus mengalokasikan energi/makanan dan air untuk menumbuhkan akar. Terlalu banyak daun akan meningkatkan penguapan air sehingga batang stek bisa layu. Daun tua di bagian bawah rentan busuk, yang dapat menular ke batang stek.

Jika sudah berakar, pohon ini menyukai matahari penuh sepanjang hari agar rajin berbunga.

Getah susu Kemboja mengandung senyawa yang dapat menghambat metabolisme rayap dan bertindak sebagai pengusir, sehingga rayap tidak akan menyerang tanaman.

Kemboja rentan terhadap hama seperti lalat putih, kutu putih, dan tungau laba-laba. Hama-hama tersebut dapat dikendalikan dengan metode pengendalian hama yang tepat seperti sabun, insektisida. Air sabun disemprotkan ke daun yang terserang kutu putih, kadang perlu disikat dengan kuas juga.

Pohon ini termasuk golongan peluruh atau gugur (deciduous). Dalam bidang hortikultura dan botani, istilah "deciduous" atau "gugur" berarti "rontok saat dewasa" dan "cenderung rontok", mengacu pada pohon dan semak yang menggugurkan daunnya secara musiman, biasanya di musim gugur, menggugurkan kelopaknya, setelah berbunga, dan menggugurkan buah matang. Sehingga harus sering disapu guguran daun dan bunganya.

Aroma harum bunga kemboja dipercaya dapat memberi efek yang menenangkan dan merelaksasi dalam aromaterapi, serta digunakan dalam parfum dan produk perawatan pribadi lainnya. Aromanya juga digunakan dalam karangan bunga dan rangkaian bunga, menambahkan sentuhan keanggunan dan makna budaya.

Aroma wangi bunganya juga dipercaya dapat mengusir nyamuk.

Kemboja dapat dianggap sebagai tanaman yang mudah tumbuh. Tanaman ini tumbuh subur dengan perawatan yang mudah. Bisa hidup di tempat teduh, tapi akan rajin berbunga di tempat dengan sinar matahari sepanjang hari, suhu hangat. Tanahnya memiliki drainase yang baik, lembab tapi tidak becek atau tidak tergenang air.


Wednesday, April 23, 2025

Sansevieria, No Fussy Mother-in-law's Tongue

 


The Sansevieria plant, now botanically classified in the genus Dracaena, is a popular and hardy houseplant native to tropical Africa, particularly Madagascar, and South Asia. It includes about 70 or more species, many of which were historically contained within the genus Sansevieria.

In the photo above, shoots are seen growing among mature plants with yellow edges. The ground is covered with white coral rocks (pebbles) and paving blocks.


See also my high-resolution Sansevieria and other photos and videos of flora and fauna at Shutterstock.


Some other names include snake plant, mother-in-law's tongue, sword plant, or bow string hemp. Here's a rundown of what makes Sansevieria so popular:

Appearance:

* This is an evergreen perennial characterized by its stiff, upright, often sword-shaped leaves.

* Leaf shape, color, and size vary greatly between different species and cultivars. Some have flat, broad leaves, while others have cylindrical, spear-like leaves.

* Leaf color ranges from dark green to silvery gray, often showing variegation in the form of bands, stripes, or edges of light green, yellow, or white.

* Some varieties, such as the Bird's Nest Sansevieria (Dracaena trifasciata 'Hahnii'), have shorter leaves that grow in a rosette, a circular arrangement of leaves or of structures resembling leaves.


Sansevieria or mother-in-law's tongue can be propagated vegetatively by leaf cuttings, shoots, or plant division.

Care:

* Easy Care: Sansevieria are known for their hardiness, low maintenance. Their leaves are long-lived, rarely wilt and fall off, and are low-littering, making them suitable for beginners or busy people.

* Light: They thrive in bright, indirect light, but can adapt to low light conditions. However, growth may be slower and the variegation less visible in low light. Avoid the heat of direct sunlight during the day, which can burn the leaves.

* Watering: Although fairly tolerant of flooding, overwatering over a long period of time can rot the roots. Allow the soil to dry out completely between waterings; there is no need to water it every day. Ensure good drainage to prevent root blockage.

* Soil: They prefer well-draining soil, such as a potting mix for cacti or succulents.

* Temperature: An average room temperature between 60-85°F (16-29°C) is ideal.

* Humidity: Sansevieria prefers low humidity levels. Avoid misting them or keeping them in very humid environments.

* Fertilizing: They do not require much fertilizer.


Benefits:

* Air Purifier: Sansevieria are renowned for their ability to filter indoor air, removing toxins such as formaldehyde, benzene, xylene, toluene, and trichloroethylene. In particular, they can convert carbon dioxide into oxygen even at night.

* Low Maintenance: Their hardiness and minimal care requirements make them a great choice for many.

* Better sleep quality: By releasing oxygen at night, they can contribute to a healthier bedroom environment.

* Aesthetic appeal: With their varied shapes and striking foliage, they can add a touch of modern flair, fitting into any space.

* Adaptability: They can tolerate a wide range of indoor conditions.


Varieties:

There are many different varieties of Sansevieria, each with unique characteristics. Some popular examples include:

* Dracaena trifasciata 'Laurentii': Tall, sword-like leaves with yellow edges, as in the photo above, and the top photo.

* Dracaena trifasciata 'Zeylanica': Similar to Laurentii but without the yellow edges.

* Dracaena angolensis 'Starfish' (formerly Sansevieria cylindrica): Round, lance-like leaves that spread out, as seen in the photo above.

* Dracaena hanningtonii 'Fernwood Mikado': Slender, arching, cylindrical leaves.

* Dracaena masoniana: Known as the Whalefin Snake Plant, it has single, broad leaves.

* Dracaena trifasciata 'Hahnii': A compact, bird's nest-shaped variety.


Toxicity:

Sansevieria plants are slightly toxic if ingested due to the presence of saponins. It is best to keep this plant out of the reach of curious pets and small children.


Conclusion:

Sansevieria are stylish, adaptable, and useful houseplants that are easy to care for and not fussy. They can purify indoor air, increasing oxygen levels. They are a popular choice for both experienced and novice plant enthusiasts. If they are of good quality, winning contests, their prices can skyrocket.


Monday, March 17, 2025

Belimbing Wuluh Kaya Manfaat Selalu Berbuah

 


Belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn) atau belimbing sayur adalah pohon buah tropis yang berasal dari Asia Tenggara, diperkirakan berasal dari Maluku, Indonesia. 


Shutterstock foto belimbing resolusi tinggi dan foto-foto saya lainnya.


Ciri-ciri

1. Pohon: belimbing wuluh adalah pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh hingga setinggi 10 meter (33 kaki).

2. Daun: daunnya berseling, tunggal, dan memiliki rasa asam.

3. Buah: buahnya kecil, hijau, dan berbentuk silinder, menyerupai mentimun kecil. Panjangnya sekitar 4-6 cm (1,5-2,5 inci) dan lebarnya 1-2 cm (0,5-1 inci).

4. Rasa: buahnya memiliki rasa asam dan sedikit manis, sering digunakan dalam masakan dan sebagai bumbu.


Kegunaan

1. Kuliner: buah belimbing wuluh digunakan dalam berbagai hidangan, seperti kari, sup, dan salad.

2. Obat: buah, daun, dan akarnya digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk demam, rematik, dan masalah pencernaan.

3. Kosmetik: ekstrak buahnya terkadang digunakan dalam produk perawatan kulit karena sifat antioksidan dan antiradangnya.


Nilai Gizi

Buah belimbing wuluh kaya akan:

1. Vitamin C: penting untuk fungsi kekebalan tubuh dan produksi kolagen.

2. Antioksidan: membantu melindungi dari stres oksidatif dan peradangan.

3. Flavonoid: senyawa tanaman dengan sifat antiradang dan antimikroba.

4. Mineral: seperti kalium, magnesium, dan zat besi.


Budidaya

Pohon belimbing wuluh cocok dengan kondisi:

1. Iklim tropis: Suhu hangat antara 20-30°C (68-86°F).

2. Tanah yang lembab tetapi tidak tergenang air.

3. Cahaya matahari sekitar 50%, bisa di tempat agak teduh.

Secara keseluruhan, belimbing wuluh dapat ditanam di halaman rumah, buahnya serbaguna dan bergizi dengan berbagai kegunaan, mulai dari memasak hingga pengobatan tradisional dan kosmetik.

Pohon belimbing wuluh biasanya mulai berbuah setelah berumur 3-4 tahun setelah ditanam, dan dapat berbuah sepanjang tahun dengan panen terberat terjadi 3 kali dalam setahun. 

Mengonsumsi belimbing wuluh dengan madu dan air hangat saat perut kosong di pagi hari merupakan praktik tradisional di beberapa budaya Asia, khususnya di Malaysia dan Indonesia. Berikut ini adalah rincian manfaat potensialnya:


Manfaat

1. Kesehatan pencernaan: rasa asam belimbing wuluh dapat membantu merangsang enzim pencernaan dan meningkatkan pencernaan.

2. Detoksifikasi: beberapa orang percaya bahwa sifat antioksidan dan antiperadangan belimbing wuluh dapat membantu mengeluarkan racun dari tubuh.

3. Meningkatkan kekebalan tubuh: kandungan vitamin C dalam belimbing wuluh dapat membantu mendukung fungsi kekebalan tubuh.

4. Membuat tubuh menjadi basa: madu memiliki sifat antimikroba, dan air hangat dapat membantu menghidrasi kembali tubuh setelah berpuasa semalaman.

Manfaat belimbing wuluh secara lebih rinci: 

• Mengontrol tekanan darah

• Menurunkan demam

• Mengatasi hipertensi

• Mengatasi diabetes

• Menghambat pertumbuhan bakteri

• Mengatasi jerawat, bintik hitam, bekas luka, dan noda

• Mengurangi pembengkakan

• Melancarkan buang air besar

• Menjaga berat badan ideal

• Menyehatkan syaraf

Belimbing wuluh, meskipun kaya manfaat, juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan, terutama bagi penderita gangguan ginjal. Efek sampingnya meliputi pembentukan batu ginjal, keracunan, dan gangguan neurologis akibat kandungan oksalat dan neurotoksin. 


Tindakan pencegahan

1. Reaksi alergi: jika Anda alergi terhadap belimbing wuluh atau madu, hindari mengonsumsi campuran ini.

2. Kontrol gula darah: madu mengandung gula yang tinggi, jadi penderita diabetes atau masalah gula darah harus memantau asupannya.

3. Kehamilan dan menyusui: seperti halnya makanan atau suplemen baru lainnya, konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi campuran ini, terutama jika Anda sedang hamil atau menyusui.

4. Interaksi dengan obat-obatan: jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan, konsultasikan dengan dokter untuk memastikan campuran ini tidak akan berinteraksi dengan obat-obatan Anda.


Petunjuk

1. Pilih belimbing wuluh segar: pilih buah belimbing wuluh segar dan hijau.

2. Siapkan campuran: iris belimbing wuluh tipis-tipis, campur dengan sesendok madu, dan tambahkan air hangat.

3. Konsumsi secukupnya: mulailah dengan jumlah sedikit (sekitar 1 sendok teh belimbing wuluh) dan sesuaikan dengan selera.

Bisa juga dengan belimbing yang diolesi madu terlebih dulu, lalu dimakan. Dan kemudian minum air hangat. Rasanya asam manis agak mirip rasa jeruk lemon. 

Ingat, meskipun campuran ini mungkin menawarkan manfaat kesehatan yang potensial, penting untuk menjaga pola makan yang seimbang dan berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki masalah kesehatan tertentu.


Mencegah Kulit Kaki Kering dan Retak

Belimbing wuluh bisa membantu mencegah kulit kaki pecah-pecah karena kandungan vitamin C, asam oksalat, dan vitamin A yang dimilikinya. Nutrisi ini berperan dalam menjaga kesehatan kulit dan melindunginya dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, belimbing wuluh juga memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu mencegah infeksi pada kulit yang pecah. 

Bersihkan kaki terlebih dahulu. Iris belimbing wuluh, lalu dioleskan ke kulit kaki terutama di bagian kulit yang retak atau pecah. Pastikan airnya membasahi kulit kaki yang retak. Diamkan sekitar 30 menit, lalu kaki dibilas, sebaiknya dengan air hangat. Bisa dilakukan sekali sehari.

Bisa juga dioleskan di sekitar kuku kaki. Berguna untuk melenturkan kulit di sekitar kuku kaki. Mencegah luka dan infeksi (cantengan) karena kulit tertusuk atau tergores kuku kaki.

Jika muncul iritasi atau reaksi alergi, segera hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan dokter. 

Dari pengalaman saya, kulit kaki akan membaik signifikan sekitar 1 sampai 2 minggu. Tidak ada lagi kulit kaki yang kering dan retak.


Tuesday, February 25, 2025

Sweet Custard Apple Productive but Small Tree



The custard apple (Annona squamosa) is a small tree that produces sweet, heart-shaped fruit with green, knobbly skin and creamy white flesh. It is native to tropical America but is now cultivated in many parts of the world.


Plantation

Custard apple plantations are usually located in warm, tropical climates with well-drained soil. The tree is usually propagated from seed or by grafting.

The tree grows relatively quickly and can begin producing fruit within 3-5 years. A tree about 2 meters tall can already produce a lot of fruit. Because the tree is not too big, it can be planted in the home yard.


Planting

Custard apple trees need full sunlight, or at least 6 hours per day, and regular watering, especially during the dry season.

The tree in my yard was infested with mealybugs on the fruit. Fortunately, the fruit was only about 1.5 meters from the ground. So the mealybugs were easy to clean with a brush and water with a little detergent soap.


Harvesting

Custard apple is harvested when it is fully ripe but still somewhat hard. The fruit is usually picked by hand to avoid bruising the soft fruit.

If it is soft already, it will usually rot quickly. This is an obstacle to its distribution.

The fruit season is in January-March and September-November. It is a seasonal fruit that can be harvested twice a year. Some articles state that it can be harvested all year round.

YouTube video of harvesting custard apple fruit in the home yard.



Utilization

Custard apple is eaten fresh or processed into desserts, jams, and juices. This fruit is a good source of vitamins C and B, as well as fiber and antioxidants.

In Southeast Asia custard apple is called srikaya. And there is a popular Serikaya jam that is generally sold in Southeast Asia, but this jam is not made from srikaya (custard apple) fruit. Instead, it is made from coconut milk, egg and sugar. Only the name is about similar.


Economy

Custard apple cultivation is an important source of income for many farmers in tropical countries. This fruit is also exported to various parts of the world, where it is considered a delicacy. The taste and texture are somewhat similar to Soursop fruit. But custard apple is much smaller in size.


Monday, February 17, 2025

Srikaya Si Manis Rajin Berbuah Pendek Pohonnya

 

 

Srikaya (Annona squamosa) adalah pohon kecil yang menghasilkan buah manis berbentuk hati dengan kulit hijau berbonggol dan daging buah berwarna putih krem. Tanaman ini berasal dari daerah tropis Amerika tetapi sekarang dibudidayakan di banyak bagian dunia.


Perkebunan

Perkebunan srikaya biasanya terletak di daerah beriklim tropis yang hangat dengan tanah yang dikeringkan dengan baik. Pohon ini biasanya diperbanyak dari biji atau dengan mencangkok. 

Pohon ini tumbuh relatif cepat dan dapat mulai menghasilkan buah dalam waktu 3-5 tahun. Dengan tinggi pohon sekitar 2 meter sudah bisa berbuah banyak. Karena pohonnya tidak terlalu besar, maka bisa ditanam di halaman rumah.


Penanaman

Pohon srikaya membutuhkan sinar matahari penuh, atau minimal 6 jam per hari, dan penyiraman secara teratur, terutama selama musim kemarau. 

Pada pohon di halaman saya, terkena hama kutu putih pada buahnya. Untungnya posisi buah hanya sekitar 1,5 meter dari tanah. Sehingga kutu putih mudah dibersihkan dengan kuas dan air dengan sedikit sabun deterjen.


Pemanenan

Srikaya dipanen saat sudah matang sepenuhnya tetapi masih agak keras. Pohon ini biasanya dipetik dengan tangan untuk menghindari memar pada buah yang lembut.

Jika sudah lunak biasanya akan cepat membusuk. Hal ini merupakan kendala pada distribusinya.

Musim buah srikaya adalah pada bulan Januari-Maret dan September-November. Srikaya merupakan buah musiman yang dapat dipanen dua kali dalam satu tahun. Beberapa tulisan menyatakan Srikaya bisa berbuah sepanjang tahun.

Video YouTube panen buah Srikaya di halaman rumah.


Pemanfaatan

Srikaya dimakan segar atau diolah untuk dijadikan makanan penutup, selai, dan jus. Pohon ini merupakan sumber vitamin C dan B yang baik, serta serat dan antioksidan.

Akan tetapi selai serikaya yang umumnya beredar di pasaran di Asia Tenggara, bukan terbuat dari buah Srikaya. Melainkan terbuat dari santan, telur dan gula. Hanya namanya saja yang mirip.


Ekonomi

Budidaya srikaya merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak petani di negara tropis. Buah ini juga diekspor ke berbagai belahan dunia, di mana buah ini dianggap sebagai makanan lezat. Rasa dan textur agak mirip dengan buah Sirsak. Tapi Srikaya jauh lebih kecil ukurannya.


Thursday, February 6, 2025

Cyanide Poisonous But Useful, Millipedes Yellow-spotted

 


The poisonous but very useful decomposer. Yellow-spotted millipede is also known as yellow-dotted millipede, almond-scented millipede, cyanide millipede.

Orthomorpha coarctata is a species of millipede belonging to the Paradoxosomatidae family. Here are some important facts about this species:


Physical Characteristics

1. Body shape: Long, slender, and cylindrical, similar to a centipede.

2. Color: Dark brown or black with bright yellow or orange spots or dots along the back.

3. Size: Usually about 3-5 cm (1.2-2 inches) long.


Habitat and Distribution

1. Native area: Southeast Asia, including countries such as Indonesia, Malaysia, and Thailand.

2. Habitat: Found in humid environments, such as tropical forests, grasslands, and agricultural areas.

For region: Western North America, from British Columbia to California. With a slightly flattened back rather than cylindrical shape, it is known as Harpaphe haydeniana.


Behavior and Ecology

1. Food: Detritivores, feeding on decaying plant matter, fungi, and bacteria.

2. Burrowing behavior: Millipedes such as Orthomorpha coarctata are known to burrow in soil and leaf litter, helping to break down organic matter and recycle nutrients. However, their burrows are shallow, only about 1-2 cm, not as deep as wormholes. Some writings mention that millipede burrows in the soil reach a depth of 30 cm following rotten wood roots. Meanwhile, earthworm burrows can reach a depth of 2 meters from the ground surface.


Reproduction and Life Cycle

1. Mating: Male millipedes perform elaborate courtship rituals to attract female millipedes.

2. Eggs: Female millipedes lay eggs in protected locations, which hatch into legless larvae after a few weeks.

3. Molting: Young millipedes undergo several molts as they grow, eventually reaching adulthood after a few months.


Fun Facts

1. Unique name: The species name "coarctata" comes from the Latin word "coarctare," meaning "to press together," which likely refers to the millipede's body shape.

2. Important ecological role: As a detritivore, Orthomorpha coarctata helps break down organic matter, recycle nutrients, and contribute to soil health.


Orthomorpha coarctata, like many other centipedes, has a defense mechanism that involves releasing chemicals to deter predators. These chemicals can be toxic to some animals, but the level of toxicity varies depending on the species and the specific chemicals released.


Toxicity level:

Orthomorpha coarctata is considered mildly toxic. Its defensive secretions contain toxic chemicals that contain a variety of harmful chemicals, such as hydrochloric acid, hydrogen cyanide, organic acids, phenols, cresols, benzoquinones, and hydroquinones, which can cause:

1. Irritation: Skin and eye irritation in humans, especially if handled carelessly.

2. Allergic reactions: Some people may experience allergic reactions, such as itching, redness, or swelling, after exposure to centipede secretions.


Precautions:

If you need to handle Orthomorpha coarctata or other centipedes, take the following precautions:

1. Wear gloves: Protect your skin from potential irritants.

2. Avoid touching your eyes: Wash your hands thoroughly after handling millipedes.

3. Keep away from pets: Millipede secretions can be toxic to pets, especially if swallowed.


Important notes:

Although Orthomorpha coarctata is mildly toxic, it is usually not life-threatening to humans. If you experience serious symptoms or problems after exposure, seek medical attention immediately.

There are reports that they attack earthworms. Actually, these millipedes prefer to be above ground. While earthworms live in the soil. If earthworms come to the surface, they may be attacked by millipedes.


Millipedes, including the yellow-spotted millipede, generally have limited or blind vision. This is the explanation:

- Simple eyes: Millipedes have simple eyes, also known as ocelli, which can detect light and dark but cannot form images.

- No compound eyes: Unlike insects, millipedes do not have compound eyes, which consist of multiple lenses and can detect movement and detail.

- Poor eyesight: Millipedes rely more on their sense of touch and smell to navigate their environment.


Despite their limited vision, millipedes can:

- Detect vibrations: Millipedes can sense vibrations in the ground, helping them detect potential threats or prey.

- Follow chemical trails: Millipedes use their antennae to detect chemical cues, such as pheromones, to find food, mate, or shelter.

So, although millipedes may not have sharp eyesight, they have developed other senses to explore and interact with their environment.

According to Sand Diego Zoo, millipedes do feel with their legs, along with their antennae. Millipedes have tactile hairs on their limbs and antennae that act as sensory receptors, allowing them to detect touch and vibrations. They can also use their legs to feel the ground and navigate. They could possibly communicate by scent as well.


Application to Plant Seedlings

Because they can release poison and its aroma, body shape, as well as its striking color as a warning, millipedes have only few natural predators. Other animals tend to avoid millipedes.

YouTube video of millipedes are trapped in a pot.


My high resolution videos on shutterstock.


Therefore, I use it to protect red cayenne pepper seedlings that are being planted. Millipedes do not eat living plants. Plant pests such as caterpillars, ants, whiteflies, snails, grasshoppers, flies, lizards, and others, will stay away. Because of the smell of the poison, cats, dogs, and mice also stay away. I don't know yet the reaction of squirrels, rabbits and marmots, and other disturbing herbivores or pests that eat plants.


The shape of the pot with a lip that has a thick and wide horizontal part of about 5 millimeters, prevents millipedes from getting out of the pot. Millipedes can walk on vertical wall. Despite their many legs, millipedes cannot walk on the underside of horizontal wall, such as ceiling or plafond.

The yellow spots on these millipedes make them look great as decorations in plant pots. The yellow spots contrast with the color of the soil, and they appear to be moving.

They are called detritivores because millipedes are organisms that decompose and eat dead and decaying organic matter, recycling it back into the ecosystem as energy and nutrients so that it can be reabsorbed by primary producers (plants, phytoplankton, oceanic cyanobacteria). So the presence of millipedes in pots can help decompose organic matter so that it produces compost for red cayenne peppers that are growing in the pot.


Used bottle of mineral water can be used as pot cover, so that millipedes cannot get out. In the photo above, the plastic water bottle is cut and the top end or cone is used to cover the pot. The cover also prevents pests from attacking the plants. Make sure the lip of the pot is tight with the inside of the cone of the mineral water bottle.


The photo above is a used mineral water bottle with the top cut off, and it is used as a plant pot. The top of the pot is slightly tapered inwards, so as to prevent the millipedes from escaping the pot.

If you are bothered by the presence of millipedes, then prevent or avoid damp places. You can do this by placing silica gel in the cupboard, moisture absorbers (such as: Vacplus, Natruth), desiccant (such as: Griot's garage, wisedry, wisesorb), dehumidifiers (such as: Tabyik, ToLife, NineSky), and so on. If necessary, insecticides are generally quite effective against millipedes.