Gergaji kayu dapat digunakan untuk potong dahan atau cabang pohon yang tinggi. Dengan cara disambung pada galah kayu.
Bilah gergaji dibor sebuah lubang di tengah bilah. Lubang ini untuk pemasangan sekrup untuk mengunci bilah pada galah kayu.
Pada foto di atas, sekrup yang digunakan untuk mengikat, bisa mengunakan sekrup yang biasa dipakai untuk baja ringan. Terlihat juga ditambahkan ring agar tekanan sekrup melebar, terutama pada jalur di bagian pangkal gergaji.
Photo saat gergaji dengan galah kayu ukuran penampang 3x4 cm digunakan memotong dahan pohon mangga.
Panjang galah berpengaruh pada kekuatan potong. Semakin panjang galah, semakin menjangkau dahan dan ranting yang tinggi. Tapi akan semakin lemah daya potongnya, karena kesulitan menggerak-gerakkan galah yang panjang dan berat tersebut.
Posisi dahan yang hampir vertikal di atas kepala, adalah posisi yang sulit dipotong. Karena beratnya galah, dan kurang tekanan pada gergaji ke arah dahan yang sedang dipotong. Posisi dahan yang agak mendatar terhadap pekerja, adalah lebih mudah dipotong.
Dengan panjang galah sekitar 4 meter, posisi dahan hampir tepat di atas kepala. Alat ini mampu memotong dahan pohon mangga yang keras, dengan diameter sekitar 3-4 cm. Untuk dahan yang lebih lunak, seperti dahan pohon kemboja (plumeria), maka diameter dahan yang dapat dipotong bisa lebih besar.
Galah yang pendek, sekitar 1 sampai 2 meter, juga bisa sangat efektif, untuk menjangkau dahan yang tinggi. Tapi pekerja harus memanjat pohon tersebut terlebih dahulu, agar mendekat dengan dahan yang akan dipotong. Lalu dengan galah 1-2 meter itu dahan dijangkau dan digergaji.
Kelemahan dari alat ini adalah bilah gergaji bisa bengkok jika tidak tepat gerakannya. Bengkoknya bilah bisa dicegah dengan memajukan sekrup lebih ke ujung depan bilah. Tapi hal ini membuat galah lebih maju ke ujung depan gergaji. Sehingga gerakan gergaji bisa tertahan ranting-ranting, di area di mana rantingnya banyak dan rapat.
Cara lain untuk mencegah bilah bengkok, adalah dengan menambah batang besi sebagai tulang penguat. Bisa menggunakan besi siku 1x1 centimeter. Kekurangannya adalah tulang besi menambah berat gergaji. Sehingga akan menyulitkan terutama jika menggunakan galah panjang.
A 24VDC relay can be used to trace electrical wires up to several meters long. This makes it suitable for detecting electrical wires in structures such as houses, factories, warehouses, big buildings, or other structures, including electrical wires on ships.
This method allows to check a single wire path. Unlike a typical multitester, which requires two wire paths: a positive wire and a negative or neutral wire, to check continuity.
Photo of a 24VDC relay circuit that produces high voltage, transmitted through the power cable, and can be detected with just a voltage tester screwdriver. No multimeter is needed. The short power cable in the photo, in practice, will be a long power cable with both ends separated by several meters.
The induced voltage generated by the coil is relatively safe to touch. Although the voltage is high, the current is very weak, so the power is very small. It does not cause injury if touched, but usually only causes a bit shock.
The 24VDC relay is powered by two 9-volt batteries connected in series to produce 18 volts.
The relay is set to vibrate to generate an electromagnetic field (EMF). The relay pins are connected as follows:
The Common (Com) pin is connected to one of the coil pins. The high positive voltage (H) is generated from this Com pin, and can be detected with a voltage tester screwdriver.
The other coil pin is connected to the positive terminal of the battery.
The 24VDC relay, as shown in the photo above, has a coil resistance of approximately 1.6 kiloohms.
The Normally Closed (NC) pin on the relay is connected to the negative terminal and ground. The NC pin is connected to the Com position when the relay is inactive. When the relay operates or vibrates, the resulting induced voltage illuminates the voltage tester lamp.
The negative terminal of the battery must be connected to ground, which can be connected to a nail in a concrete wall, a steel frame, a metal water faucet, or something else. If the negative terminal is not properly connected to the ground, the voltage tester lamp will be dim.
Video of a 24VDC relay on YouTube during an NCV test.
The electromagnetic field generated by the relay can be detected with a digital multitester with a Non-Contact Voltage function. If the cable is connected directly to the Com terminal on the relay, the NCV on the multitester will detect a strong electromagnetic field.
The photo of the NCV function on Aneng's multi-tester detects an electromagnetic field in a piece of black insulated cable whose conductor is connected to a long coil of cable. The multi-tester display shows a very strong electromagnetic field detected, reaching full scale.
Also, read various other relay circuits for detecting long, hidden electrical cables.
In a long double-core (twin) cable, a weak electromagnetic field is detected in the adjacent cable not directly connected to the relay's Com pin. This type of cable is often used in electrical networks, usually with the code NYMHY, which is a double-core stranded cable with an insulated layer.
If the cable is broken, the electromagnetic field will be very weak in the broken section.
CAUTION:
The high voltage from the induction coil, even at very low wattage, can damage sensitive electronic equipment, as it can reach voltage exceeding 220V.
In a 24-volt relay or solenoid, the highest induced voltage (also known as inductive kick or flyback voltage) can easily reach hundreds to thousands of volts.
Therefore, before performing the procedure with the tools mentioned above, it's best to unplug all electronic equipment, such as cell phone chargers, TVs, radios/stereos, computers, laptops, and other high-voltage sensitive devices, from the electrical network. This will prevent damage from exposure to high voltage from the coil.
The tools described here cannot work well for tracing grounded power lines, and neutral power lines.
Relai 24VDC dapat digunakan untuk menelusuri kabel listrik yang panjang hingga beberapa meter. Sehingga cocok untuk deteksi kabel listrik pada bangunan seperti rumah, gedung, gudang, pabrik, atau bangunan lainnya, termasuk juga kabel listrik pada kapal.
Dengan cara ini, satu jalur kabel bisacdicek dan ditemukan. Tidak sebagaimana biasanya dengan multi tester, dibutuhkan 2 jalur kabel. Yaitu kabel positif, dan kabel negatif atau netral, untuk melakukan cek kontinuitasnya.
Tegangan induksi yang timbulkan koil cukup aman jika tersentuh tangan. Walau tegangannya tinggi, tapi arusnya lemah sekali, sehingga dayanya sangat kecil. Tidak menyebabkan cedera jika tersentuh, tapi biasanya hanya sedikit terkejut saja.
Relai 24VDC tersebut disuplai dengan 2 buah baterai 9 volt tersusun serie agar didapat tegangan 18 volt.
Relai dibuat bergetar agar menghasilkan medan elektromagnet (EMF, Electro Magnetic Field). Kaki-kaki relai terhubung sebagaimana skema berikut:
Kaki atau pin Common (Com) dihubungkan ke salah satu kaki koil. Tegangan tinggi positif H didapat dari kaki Com ini, dapat dideteksi dengan obeng tespen.
Kaki koil lainnya dihubungkan ke kutub positif baterai.
Relai 24VDC sebagaimana foto di atas mempunyai resistansi koil sekitar 1,6 kilo ohm.
Foto rangkaian relai 24VDC yang menghasilkan tegangan tinggi, ditransmisikan melalui kabel listrik, dan bisa dideteksi hanya dengan tespen. Tanpa perlu multitester. Kabel listrik pendek pada foto, pada prakteknya nanti adalah kabel listrik panjang dengan kedua ujung terpisah beberapa meter.
Kaki Normally Closed (NC) pada relai dihubungkan ke kutub negatif dan tanah. Kaki NC pada posisi tersambung dengan Com, di saat relai tidak aktif.
Pada saat relai bekerja atau bergetar, tegangan induksi yang dihasilkan dapat menyalakan lampu tespen dengan terang.
Kutub negatif baterai harus dihubungkan ke tanah, bisa dihubungkan ke paku di dinding beton, rangka baja, metal keran air, dan lain-lain. Jika hubungan kutub negatif ke tanah kurang baik, maka nyala lampu tespen kurang terang.
Video relai 24vdc di Youtube saat test NCV.
Medan elektromagnet yang dihasilkan relai dapat dideteksi dengan digital multi tester dengan fungsi Non-Contact Voltage.
Pada kabel yang terhubung langsung dengan kaki Com pada relai, NCV pada multi tester akan mendeteksi medan elektromagnet yang kuat.
Foto fungsi NCV pada multi tester Aneng mendeteksi adanya medan elektromagnetik, pada sepotong kabel dengan insulator hitam yang konduktornya terhubung dengan gulungan kabel panjang. Terlihat pada layar multi tester, medan elektromagnet terdeteksi sangat kuat hingga skala penuh (full scale).
Baca juga berbagai rangkaian relai lainnya untuk mendeteksi kabel listrik yang panjang dan tersembunyi.
Pada kabel inti ganda (double core, twin) yang panjang, kabel di sebelah yang tidak terhubung langsung dengan kaki Com relai, terdapat medan elektro magnet yang terdeteksi lemah. Kabel tipe ini sering digunakan pada jaringan listrik, biasanya dengan kode NYMHY, yaitu kabel serabut inti ganda dengan lapisan isolasi.
Jika kabel terputus, maka medan elektro magnet akan sangat lemah pada bagian kabel yang terputus itu.
PERHATIAN:
Tegangan tinggi dari induksi koil, walaupun berdaya sangat kecil, dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif. Karena dapat mencapai tegangan melebihi 220V.
Pada relay atau solenoida 24 volt, tegangan induksi tertinggi, juga dikenal sebagai tegangan induktif balik atau tegangan flyback, dapat dengan mudah mencapai ratusan hingga ribuan volt.
Oleh karena itu, sebelum melaksanakan prosedur dengan alat-alat tersebut di atas, sebaiknya semua peralatan elektronik seperti: charger handphone, tv, radio tape / stereo set, komputer, laptop, dan lain-lain, yang sensitif tegangan tinggi, dilepas dari jaringan listrik. Untuk mencegah kerusakan akibat terkena tegangan tinggi dari koil.
Alat bantu yang dijelaskan di sini tidak dapat bekerja baik untuk menelusuri kabel listrik yang terhubung ke tanah, dan kabel listrik yang terhubung ke netral.
Charger laptop dapat digunakan untuk mencas atau setrum aki mobil dan sepeda motor dengan menyesuaikan tegangannya. Biasanya tegangan charger laptop sekitar 19 volt. Jadi tegangan tersebut perlu diturunkan, agar aki tidak kelebihan tegangan (overcharged) dan charger tidak rusak.
Prosedur ini cukup mudah dan rangkaiannya sederhana namun handal, dengan komponen yang mudah didapat di pasaran, dan gampang dirangkai.
Terdapat dua lampu indikator LED agar memudahkan operasi.
PERHATIAN: sebelum cas aki dilakukan cek level air aki terlebih dulu. Dan tutup aki tetap dibiarkan longgar di lubangnya selama aki dicas agar ventilasi gas lebih baik. Cas berlebihan dapat meledakkan aki. Tegangan cas maximum untuk aki sel kering sekitar 13.8 volt, sedangkan untuk aki basah sekitar 14.4 volt, harap berpatokan pada spesifikasi aki anda untuk mencegah cas berlebihan (overcharged).
Rangkaian sederhana ini menurunkan tegangan charger laptop agar sesuai dengan tegangan dan arus cas aki.
Komponen yang digunakan adalah:
D1 - D8 = dioda BY127, arus rata- rata 1 sampai 1,5 ampere
L1 = LED warna hijau 5 mm
L2 = LED warna putih 1 watt, surface-mount device (SMD, dipasang pada permukaan)
Dz = dioda zener 12 volt 1 watt
R1 = resistor 2,7 kilo ohm, 0,5 watt
R2 = resistor 6,8 kilo ohm, 0,5 watt
R3 = resistor 120 ohm, 1 watt
S= sekring 1 sampai 3 ampere, tergantung besarnya beban, dalam hal ini aki.
Arus maximal yang dibutuhkan aki saat pengisian adalah sekitar 10 persen dari kapasitas aki. Jadi untuk aki 36 ampere jam, arus maximal cas adalah 3.6 ampere, jika aki tersebut sangat kosong atau sangat rendah tegangannya.
Charger laptop yang digunakan pada artikel ini mempunyai tegangan 19 volt dan arus maximal 3,95 ampere, sebagaimana foto berikut.
Sehingga cukup kuat untuk mengisi aki berkapasitas 36 ampere jam.
Rangkaian di atas akan menurunkan tegangan 19 volt dari charger laptop menjadi sekitar 13 sampai 14 volt dengan melalui beberapa dioda.
Lampu-lampu LED berfungsi sebagai indikator.
LED putih menandakan sistem bekerja baik dan siap digunakan. LED putih menyala saat rangkaian tanpa beban. LED ini sengaja dibuat besar, agar menurunkan tegangan sehingga terbaca lebih normal, saat tanpa beban.
LED hijau akan menyala saat adanya beban yang mengkonsumsi arus, misalnya saat sedang cas aki. Pada saat rangkaian diberi beban, maka LED putih akan padam.
Secara teoritis, jika arus melalui satu buah dioda, maka tegangan output akan turun sebesar 0,6 volt. Karena dioda membutuhkan tegangan maju (forward voltage).
Pada saat terkoneksi dengan charger laptop 19 volt. Tegangan output tanpa beban yang terukur dengan melalui 8 dioda adalah 15,4 volt.
Perlu diperhatikan, walau tegangan ini sepertinya terlalu tinggi untuk cas aki. Tegangan akan turun jika rangkaian diberi beban. Hal ini sesuai sifat dioda, yang mana tegangan maju (forward voltage) akan naik jika arus bertambah, sehingga tegangan output akan turun jika arus output meningkat.
Saat rangkaian tanpa beban, lampu LED putih menyala terang. Sebagai tanda rangkaian siap digunakan. Sedangkan lampu LED hijau menyala sangat redup.
Jika rangkaian diberi beban 220 ohm, maka tegangan turun menjadi 14,3 volt. Dengan arus output sekitar 0,065 ampere. Pada saat ini lampu LED putih mulai meredup, sedangkan LED hijau menyala terang.
Tegangan menjadi 12,9 volt jika diberi beban 24 ohm, dengan arus sekitar 0,5 ampere. Pada saat ini lampu LED putih sudah mulai padam. Sedangkan lampu LED hijau tetap menyala terang.
Tegangan menjadi 12,5 volt jika diberi beban 12 ohm. Dengan arus sekitar 1 ampere. LED hijau tetap menyala terang. LED putih padam, karena tegangan tidak cukup untuk memungkinkan arus melalui rangkaian LED putih dan zener.
Tegangan tersebut di atas termasuk normal untuk cas aki. Jika tegangan menjadi dinilai terlalu rendah, maka jumlah dioda bisa dikurangi, agar didapat tegangan output yang lebih tinggi. Dioda dikurangi mulai dari bagian akhir output (D8), misalnya: output diambil dari D7, atau bahkan dari D6. Koneksi suplai arus ke LED putih bisa dipindah jika dioda dikurangi, bisa juga tidak dipindah.
Jika arus kontinyu yang dibutuhkan kurang dari 0,5 ampere, misalnya untuk cas aki motor, maka bisa menggunakan dioda yang lebih kecil seperti 1N4007. Berhubung dioda ini sangat popular, banyak pabrikan yang memproduksi, tapi kadang kualitasnya kurang bagus.
Lihat juga videonya di Youtube:
Foto di bawah memperlihatkan susunan rangkaian yang sederhana sehingga bisa menggunakan papan matrix, dengan komponen-komponen bekas yang didaur-ulang.
Arus pengisian akan mengecil seiring naiknya tegangan aki. Jika tegangan aki sudah sama dengan tegangan charger maka arus pengisian akan sangat kecil.
Saat tegangan aki mencapai sekitar 14 volt, lampu LED hijau akan meredup. Dan jika kondisinya dan pengaturannya tepat, biasanya terjadi jika mencas aki yang ukurannya kecil, lampu LED putih akan mulai menyala kembali. Sebagai indikator menandakan bahwa aki mulai penuh.
Resistor 1 (R1) berfungsi sebagai pengaman, jika rangkaian power suplai ini dihubungkan ke beberapa sirkuit dengan IC yang tidak tahan dengan tegangan tinggi yang 'bocor' akibat induksi dari trafo. Jadi R1 bisa dihilangkan jika kondisi dianggap aman.
Keunggulan rangkaian ini adalah sangat handal, karena tiada komponen aktif seperti transistor maupun IC (Integrated Circuit) yang rawan rusak. Sederhana cara kerjanya, sehingga mudah dimengerti, komponen banyak tersedia di pasaran, juga mudah dirangkai. Jikapun rusak, maka mudah juga diperbaiki.
Kelemahannya adalah tidak ada stabilisator tegangan. Tegangan bisa turun saat beban naik, dan tegangan kembali naik saat beban turun. Karena dioda membutuhkan tegangan maju (forward voltage) saat mengalirkan arus.
Tapi turun naiknya tegangan justru digunakan untuk mengaktifkan lampu-lampu indikator. Dan karena rangkaian disuplai dengan charger laptop yang stabil tegangannya, maka tegangan output dapat dianggap sudah cukup stabil, untuk aplikasi seperti mencas aki.
Secara teoritis efisiensi daya rendah, karena adanya kehilangan tegangan pada dioda dan berubah jadi panas. Pada kenyataannya, kenaikan temperatur dioda tidak signifikan.
The tools discussed in this article are used to check or trace long electrical wiring networks. Those long wires can't be traced by the continuity function on a multi-tester. Because the wires extend several meters and are passing through different rooms.
Simply by using a voltage tester, the other end of the wire can be found.
The wires being tested are all physically identical, for example: all wires have black insulation.
The circuit discussed here uses high voltage induction from a relay coil. The high induction voltage is fed to the end of a wire, the H-end in the image above. The other end is then traced using a voltage tester.
The negative terminal of the induction voltage is connected to ground (earth), so the voltage tester illuminates brightly.
This method allows one wire path can be found. Unlike a typical multi-tester, which requires two wire paths: the positive wire and the negative or neutral wire, to check continuity.
The induction voltage generated by the relay coil is relatively safe to touch. Although the voltage is high, the current is very weak, so the power is very small. It doesn't cause injury if touched, but usually only cause a shock.
These circuits are intentionally designed to be simple yet reliable and easy to operate. This avoids confusion when tracing electrical wires. Even if this tool damage, it's easily repaired due to its simple circuitry. The components are readily available and inexpensive.
All circuits are designed without transistors or integrated circuit (IC). Transistor and IC can fail when exposed to high voltage, making it confusing when tracing wires.
The voltage tester used is a standard type with a mini neon light, as it's reliable and readily available at a low price. It's not an electronic voltage tester, which is prone to damage and expensive.
Tracing electrical wires is difficult and high-risk job. Therefore, don't let complicated and confusing designs add to the difficulty.
24VDC RELAY CIRCUIT
This circuit uses only one component: a 24VDC relay, designated R in the schematic. The relay is powered by two 9V batteries, connected in series to produce a voltage of 18V.
The Common (Com) pin is connected to one of the coil pins. The positive high voltage (H) is generated from this Com pin.
The other coil pin is connected to the positive terminal of the battery.
The 24VDC relay, as shown in the photo above, has a coil resistance of approximately 1.6 kilo-ohms.
Photo of a 24VDC relay circuit.
The Normally Closed (NC) pin on the relay is connected to the negative terminal and ground. The NC pin is connected to the Com pin when the relay is not active.
To ensure the voltage tester light is bright, the negative terminal must be connected to ground, which can be connected to a nail on a concrete wall, steel frame, metal of water tap, etc.. If the negative terminal is not properly connected to ground, the voltage tester light will be dim.
Video of a 24VDC relay on YouTube.
How It Works:
When the relay coil is connected to the battery, a magnetic field is created in the active coil, as the coil is an electromagnet. The magnetic field will attract the relay switch, thereby cutting off the current from the NC pin. This will interrupt the flow of current to the coil.
The electromagnetic field formed when the coil is activated will collapse and induce current into the coil, resulting in a high voltage induction from the coil.
Because the connection between the switch and the NC pin is broken, the current of induction high voltage cannot flow: through the NC pin, through the battery, to the coil's negative terminal, or to ground.
The high-voltage current will flow through point H, through the long electrical cable being probed. It then travels to the voltage tester, the technician's body, and becomes neutral at ground.
When operating, the relay will vibrate and sound, indicating proper operation. This makes it easier to check if the device is working or faulty.
5VDC RELAY PAIR CIRCUIT
This circuit uses two 5VDC relays in series connection, R1 and R2. The circuit is also supplied with 18V.
In the first 5VDC relay (R1), one pin of the coil is connected to the positive terminal of the battery. The other pin is connected to the second relay (R2).
The 5VDC relay in the photo above has a coil resistance of approximately 125 ohms.
The photo above shows the induction voltage from two 5VDC relays, their coils connected in series, powering a voltage tester through the electric wire.
The first relay (R1) in the schematic uses only its coil; its switch is not used.
For the second 5VDC relay (R2), its pins are connected in exactly the same way as the 24VDC relay in the first circuit.
The above is YouTube video about this two relays device.
JOULE THIEF CIRCUIT
The Joule thief circuit uses a 5VDC relay. It is similar to the circuit in the previous Joule thief article, which was used to power a 3W 220VAC lamp.
The difference is that this circuit uses only the relay coil to produce high voltage.
The high-voltage supply is provided without any additional coils. This simplifies the process.
The 5VDC relay connection on this circuit is exactly the same as the 24VDC relay circuit above.
As shown in the photo above, the voltage tester lights up brightly because the circuit uses a capacitor (C) to collect current. This circuit can be powered by 9V or a single square battery.
The capacitor (C) used is 100 nanofarads and with a voltage rating 220 VAC.
If supplied with 18V, the voltage tester will light up brighter. However, this makes the circuit more complicated and increases the cost.
The diode (D) is a 1N4007; in this circuit, it prevents the high voltage induction energy accumulated in the capacitor from flowing backward, preventing the capacitor from discharging.
The above is YouTube video about this Joule Thief.
OTHER PROCEDURES:
One of the methods is to use two voltage testers, one as a feeder and the other for detection.
The feeder voltage tester is connected to the high-voltage 220 VAC power grid. This voltage tester applies a small current to the wire to be tested. Then, using another voltage tester, the end of the wire is probed.
Other method for source of induction voltage can also be used, such as a soldering iron supplied with alternating current (VAC). The metal tip of the soldering iron can generate an induction voltage to make the voltage tester glow brightly. The metal tip of the soldering iron is connected to one end of a wire. A voltage tester is used to check the other end if that wire.
However, both of these alternative methods require a high voltage source from the network, even though the wires of that network are being tested. Although this can be regulated using a system of several separated circuit breakers (MCBs), due to the high voltage and high power of the network, any error can result in a fatal accident. Furthermore, electrical wiring is often installed in difficult-to-access locations such as above ceiling, inside wall, under floor, under ground, in display case, cupboard, or large cabinet, hot, dirty and dusty, etc., making it prone to accidents.
CAUTION:
The high voltage from the induction coil, even at very low wattage, can damage sensitive electronic equipment, as it can reach voltage exceeding 220V.
Therefore, before performing the procedure with the tools mentioned above, it's best to unplug all electronic equipment, such as cell phone chargers, TVs, radios/stereos, computers, laptops, and other high-voltage sensitive devices, from the electrical network. This will prevent damage from exposure to high voltage from the coil.
The tools described here cannot work well for tracing grounded power lines, and neutral power lines.
Alat bantu yang dibahas di artikel ini digunakan untuk cek atau telusuri jaringan kabel listrik yang panjang. Yang mana tidak bisa dideteksi dengan fungsi kontinuitas pada multi tester. Karena panjangnya kabel yang terentang sejauh beberapa meter, dan juga karena berbeda ruangan.
Cukup dengan menggunakan tespen, ujung lainnya dari kabel bisa ditemukan.
Kabel yang dicek semua sama fisiknya, misal semua berwarna hitam insulatornya.
Rangkaian yang dibahas di sini, menggunakan tegangan tinggi induksi dari koil relai. Diumpankan ke ujung kabel, ujung H pada gambar di atas. Dan akan dicari ujung lainnya dengan bantuan tespen (test pen, volt tester).
Kutub negatif dari tegangan induksi dihubungkan ke tanah (bumi, ground), agar tespen menyala terang.
Dengan cara ini, satu jalur kabel bisa ditemukan. Tidak sebagaimana biasanya dengan multi tester, dibutuhkan 2 jalur kabel. Yaitu kabel positif, dan kabel negatif atau netral, untuk melakukan cek kontinuitasnya.
Tegangan induksi yang timbulkan koil cukup aman jika tersentuh tangan. Walau tegangannya tinggi, tapi arusnya lemah sekali, sehingga dayanya sangat kecil. Tidak menyebabkan cedera jika tersentuh, tapi biasanya hanya terkejut saja.
Sirkuit-sirkuit ini sengaja didesain sederhana tapi handal, dan mudah dioperasikan. Agar tidak membingungkan saat melakukan penelusuran kabel-kabel listrik. Kalaupun terjadi kerusakan pada sirkuit alat bantu ini, maka akan mudah diperbaiki karena rangkaiannya yang sederhana. Dan komponennya mudah dan murah didapat di pasaran.
Semua sirkuit didesain tanpa menggunakan transistor maupun IC. Karena transitor dan IC bisa gagal berfungsi jika terkena tegangan tinggi. Hal ini bisa membingungkan saat menelusuri kabel.
Tespen yang digunakan adalah tespen biasa dengan lampu neon mini, karena handal dan banyak tersedia di pasaran dengan harga murah. Bukan tespen elektronik yang rawan rusak dan mahal.
Pekerjaan menelusuri kabel listrik adalah pekerjaan sulit dan beresiko tinggi. Jadi jangan sampai malah alat bantunya menambah kesulitan pekerjaan, karena alat bantu yang berdesain rumit dan membingungkan.
RANGKAIAN RELAI 24VDC
Rangkaian ini hanya menggunakan satu buah komponen saja yaitu relai 24VDC, dengan kode R pada skema. Relai tersebut disuplai dengan dua buah baterai 9V, disusun serie agar tegangannya menjadi 18V.
Kaki atau pin Common (Com) dihubungkan ke salah satu kaki koil. Tegangan tinggi positif H didapat dari kaki Com ini.
Kaki koil lainnya dihubungkan ke kutub positif baterai.
Relai 24VDC sebagaimana foto di atas mempunyai resistansi koil sekitar 1,6 kilo ohm.
Foto rangkaian relai 24VDC.
Kaki Normally Closed (NC) pada relai dihubungkan ke kutub negatif dan tanah. Kaki NC pada posisi tersambung dengan Com, di saat relai tidak aktif.
Agar lampu tespen menyala terang. Kutub negatif harus dihubungkan ke tanah, bisa dihubungkan ke paku di dinding beton, rangka baja, metal keran air, dan lain-lain. Jika hubungan kutub negatif ke tanah kurang baik, maka nyala lampu tespen kurang terang.
Video relai 24VDC di Youtube.
Baca juga relai 24VDC untuk deteksi kabel dengan menggunakan fungsi Non-Contact Voltage pada multitester.
Cara Kerjanya Adalah:
Pada saat relai koil terhubung ke baterai, terjadi medan magnet pada koil yang aktif, karena koil adalah elektromagnet. Medan magnet akan menarik saklar relai, sehingga memutus arus listrik dari kaki NC. Maka arus listrik ke koil akan akan terputus.
Medan elektromagnet yang terbentuk saat koil aktif, akan runtuh dan menginduksi arus listrik ke koil. Sehingga timbul tegangan tinggi induksi pada koil.
Karena hubungan saklar dengan kaki NC sedang terputus. Maka arus listrik akibat induksi tegangan tinggi tidak bisa mengalir melalui: kaki NC, untuk melalui baterai menuju negatif koil, ataupun menuju bumi.
Arus listrik bertegangan tinggi akan mengalir melalui titik H, melewati kabel listrik panjang yang sedang ditelusuri. Selanjutnya menuju tespen, tubuh teknisi, dan menjadi netral di bumi.
Saat bekerja, relai akan bergetar dan berbunyi, sehingga bisa menjadi tanda bahwa relai sedang berfungsi baik. Hal ini memudahkan untuk memeriksa jikapun alat bantu ini rusak.
RANGKAIAN SEPASANG RELAI 5VDC
Pada rangkaian ini digunakan dua buah relai 5VDC yang disambung serie, yaitu R1 dan R2. Rangkaian ini juga disuplai dengan tegangan 18V.
Pada relai 5VDC pertama (R1), salah satu kaki koilnya terhubung dengan kutub positif baterai. Sedangkan kaki lainnya terhubung dengan relai ke dua (R2).
Relai 5VDC pada foto di atas mempunyai resistansi koil sekitar 125 ohm.
Pada foto di atas tampak tegangan induksi dari dua buah relai 5VDC yang diserie koilnya, sedang menyalakan tespen, melalui kabel listrik.
Relai pertama (R1) pada skema, hanya dipakai koilnya saja, saklarnya tidak dipakai.
Untuk relai 5VDC ke dua (R2), kaki-kakinya terhubung dengan cara sama persis dengan relai 24VDC pada rangkaian pertama.
Video YouTube tentang rangkaian dua relai ini.
RANGKAIAN JOULE THIEF
Rangkaian Joule thief menggunakan relai 5VDC. Mirip dengan rangkaian pada artikel Joule Thief sebelumnya, yang mana digunakan untuk menyalakan lampu 220VAC 3W.
Bedanya adalah pada rangkaian ini hanya menggunakan koil relai untuk menimbulkan tegangan tinggi, tanpa tambahan koil lainnya. Sehingga lebih sederhana.
Penyambungan relai 5VDC pada rangkaian ini, persis sama prinsipnya dengan rangkaian relai 24VDC di atas.
Sebagaimana foto di atas, tespen menyala terang, karena menggunakan kapasitor (C) sebagai pengumpul arus. Rangkaian ini bisa disuplai dengan tegangan 9V atau satu baterai kotak.
Kapasitor (C) yang digunakan senilai 100 nano farad dengan tegangan di atas 250 VAC.
Jika disuplai dengan 18V, maka tespen akan menyala lebih terang. Tapi tentu saja membuat rangkaian jadi lebih rumit dan menambah biaya.
Dioda (D) adalah 1N4007, pada rangkaian ini berfungsi untuk mencegah tegangan tinggi yang terkumpul di kapasitor mengalir berbalik arah. Agar kapasitor tidak kosong.
Video YouTube tentang rangkaian Joule Thief ini.
PROSEDUR LAIN:
Salah satu metodanya adalah menggunakan 2 buah tespen. Satu tespen sebagai pengumpan. Dan satu tespen lagi untuk mendeteksi.
Tespen pengumpan terhubung dengan tegangan tinggi jaringan listrik 220VAC. Tespen ini mengumpankan arus yang kecil ke kabel yang akan ditelusuri. Selanjutnya dengan tespen yang lain, ujung kabel tersebut dicari.
Bisa juga menggunakan sumber tegangan induksi lain, seperti solder yang disuplai tegangan bolak-balik VAC. Ujung metal solder dapat menghasilkan tegangan induksi untuk membuat tespen menyala terang. Ujung metal solder dihubungkan ke ujung kabel, yang akan dicari ujung lainnya.
Tapi kedua cara alternatif di atas membutuhkan sumber tegangan tinggi dari jaringan. Padahal jaringan listrik tersebut sedang diperiksa kabel-kabelnya. Walaupun bisa diatur dengan sistem beberapa MCB yang terpisah. Tapi karena adanya tegangan tinggi dengan daya besar dari jaringan listrik, jika terjadi kekhilafan, maka bisa berakibat kecelakaan fatal. Lagi pula jaringan kabel listrik biasanya dipasang di tempat-tempat yang sulit seperti: di atas plafon, di dalam dinding, di bawah lantai, di bawah tanah, di etalase / lemari / kabinet besar, dan lain-lain yang sulit diakses, panas, kotor berdebu, sehingga rawan kecelakaan.
PERHATIAN:
Tegangan tinggi dari induksi koil, walaupun berdaya sangat kecil, dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif. Karena dapat mencapai tegangan melebihi 220V.
Oleh karena itu, sebelum melaksanakan prosedur dengan alat-alat tersebut di atas, sebaiknya semua peralatan elektronik seperti: charger handphone, tv, radio tape / stereo set, komputer, laptop, dan lain-lain, yang sensitif tegangan tinggi, dilepas dari jaringan listrik. Untuk mencegah kerusakan akibat terkena tegangan tinggi dari koil.
Alat bantu yang dijelaskan di sini tidak dapat bekerja baik untuk menelusuri kabel listrik yang terhubung ke tanah, dan kabel listrik yang terhubung ke netral.
The Sansevieria plant, now botanically classified in the genus Dracaena, is a popular and hardy houseplant native to tropical Africa, particularly Madagascar, and South Asia. It includes about 70 or more species, many of which were historically contained within the genus Sansevieria.
In the photo above, shoots are seen growing among mature plants with yellow edges. The ground is covered with white coral rocks (pebbles) and paving blocks.
See also my high-resolution Sansevieria and other photos and videos of flora and fauna at Shutterstock.
Some other names include snake plant, mother-in-law's tongue, sword plant, or bow string hemp. Here's a rundown of what makes Sansevieria so popular:
Appearance:
* This is an evergreen perennial characterized by its stiff, upright, often sword-shaped leaves.
* Leaf shape, color, and size vary greatly between different species and cultivars. Some have flat, broad leaves, while others have cylindrical, spear-like leaves.
* Leaf color ranges from dark green to silvery gray, often showing variegation in the form of bands, stripes, or edges of light green, yellow, or white.
* Some varieties, such as the Bird's Nest Sansevieria (Dracaena trifasciata 'Hahnii'), have shorter leaves that grow in a rosette, a circular arrangement of leaves or of structures resembling leaves.
Sansevieria or mother-in-law's tongue can be propagated vegetatively by leaf cuttings, shoots, or plant division.
Care:
* Easy Care: Sansevieria are known for their hardiness, low maintenance. Their leaves are long-lived, rarely wilt and fall off, and are low-littering, making them suitable for beginners or busy people.
* Light: They thrive in bright, indirect light, but can adapt to low light conditions. However, growth may be slower and the variegation less visible in low light. Avoid the heat of direct sunlight during the day, which can burn the leaves.
* Watering: Although fairly tolerant of flooding, overwatering over a long period of time can rot the roots. Allow the soil to dry out completely between waterings; there is no need to water it every day. Ensure good drainage to prevent root blockage.
* Soil: They prefer well-draining soil, such as a potting mix for cacti or succulents.
* Temperature: An average room temperature between 60-85°F (16-29°C) is ideal.
* Humidity: Sansevieria prefers low humidity levels. Avoid misting them or keeping them in very humid environments.
* Fertilizing: They do not require much fertilizer.
Benefits:
* Air Purifier: Sansevieria are renowned for their ability to filter indoor air, removing toxins such as formaldehyde, benzene, xylene, toluene, and trichloroethylene. In particular, they can convert carbon dioxide into oxygen even at night.
* Low Maintenance: Their hardiness and minimal care requirements make them a great choice for many.
* Better sleep quality: By releasing oxygen at night, they can contribute to a healthier bedroom environment.
* Aesthetic appeal: With their varied shapes and striking foliage, they can add a touch of modern flair, fitting into any space.
* Adaptability: They can tolerate a wide range of indoor conditions.
Varieties:
There are many different varieties of Sansevieria, each with unique characteristics. Some popular examples include:
* Dracaena trifasciata 'Laurentii': Tall, sword-like leaves with yellow edges, as in the photo above, and the top photo.
* Dracaena trifasciata 'Zeylanica': Similar to Laurentii but without the yellow edges.
* Dracaena angolensis 'Starfish' (formerly Sansevieria cylindrica): Round, lance-like leaves that spread out, as seen in the photo above.
* Dracaena masoniana: Known as the Whalefin Snake Plant, it has single, broad leaves.
* Dracaena trifasciata 'Hahnii': A compact, bird's nest-shaped variety.
Toxicity:
Sansevieria plants are slightly toxic if ingested due to the presence of saponins. It is best to keep this plant out of the reach of curious pets and small children.
Conclusion:
Sansevieria are stylish, adaptable, and useful houseplants that are easy to care for and not fussy. They can purify indoor air, increasing oxygen levels. They are a popular choice for both experienced and novice plant enthusiasts. If they are of good quality, winning contests, their prices can skyrocket.
Tanaman Sansevieria, yang sekarang secara botani diklasifikasikan dalam genus Dracaena, adalah tanaman hias populer dan tangguh yang berasal dari daerah tropis Afrika, khususnya Madagaskar, dan Asia Selatan. Tanaman ini mencakup sekitar 70 spesies atau lebih, yang banyak di antaranya secara historis dikelompokkan dalam genus Sansevieria.
Pada foto di atas tampak tunasnya tumbuh di antara tanaman dewasa yang bertepi kuning. Tanah ditutup batu koral putih dan paving block.
Lihat juga foto dan video saya tentang flora fauna resolusi tinggi di Shutterstock.
Beberapa nama lainnya, seperti tanaman ular beludak, lidah mertua, pedang-pedangan, atau rami tali busur. Berikut ini adalah uraian tentang apa yang membuat Sansevieria begitu terkenal:
Penampilan:
* Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang selalu hijau yang ditandai dengan daunnya yang kaku, tegak, dan sering kali berbentuk pedang.
* Bentuk, warna, dan ukuran daun sangat bervariasi di antara spesies dan kultivar yang berbeda. Beberapa memiliki daun yang datar dan lebar, sementara yang lain memiliki dedaunan silindris seperti tombak.
* Warna daun berkisar dari hijau tua hingga abu-abu keperakan, sering kali menampilkan variegasi dalam bentuk pita, garis, atau tepi berwarna hijau muda, kuning, atau putih.
* Beberapa varietas, seperti Bird's Nest Sansevieria (Dracaena trifasciata 'Hahnii'), memiliki daun yang lebih pendek yang tumbuh dalam bentuk roset, susunan daun yang melingkar.
Sansevieria atau lidah mertua dapat diperbanyak secara vegetatif dengan cara stek daun, tunas, atau pembagian tanaman.
Perawatan:
* Perawatan Mudah: Sansevieria terkenal karena ketahanannya, rendah perawatan. Daunnya berumur panjang, jarang layu dan rontok, sedikit bersampah, sehingga cocok untuk pemula atau orang yang sibuk.
* Cahaya: Mereka tumbuh subur dalam cahaya terang dan tidak langsung, tetapi dapat beradaptasi dengan kondisi cahaya redup. Namun, pertumbuhan mungkin lebih lambat dan variegasi kurang terlihat dalam cahaya redup. Hindari panas sinar matahari langsung di siang hari, yang dapat membakar daun.
* Penyiraman: Walaupun cukup tahan kebanjiran, penyiraman berlebihan dalam jangka panjang dapat membusukkan akar. Biarkan tanah mengering sepenuhnya di antara penyiraman, tidak perlu disiram setiap hari. Pastikan drainase yang baik untuk mencegah pembusukan akar.
* Tanah: Mereka lebih menyukai tanah yang memiliki drainase yang baik, seperti tanah campuran untuk pot kaktus atau sukulen.
* Suhu: temperatur ruangan rata-rata antara 16-29°C (60-85°F) adalah yang ideal.
* Kelembapan: Sansevieria lebih menyukai tingkat kelembapan yang rendah. Hindari menyemprotnya atau menaruhnya di lingkungan yang sangat lembap.
* Pemupukan: tidak membutuhkan banyak pupuk.
Manfaat:
* Pemurnian udara: Sansevieria terkenal karena kemampuannya menyaring udara dalam ruangan, membuang racun seperti formaldehida, benzena, xilena, toluena, dan trikloroetilen. Khususnya, mereka dapat mengubah karbon dioksida menjadi oksigen bahkan di malam hari.
* Perawatan rendah: Ketahanannya dan kebutuhan perawatan yang minimal menjadikannya pilihan yang tepat bagi banyak orang.
* Kualitas tidur yang lebih baik: Dengan melepaskan oksigen di malam hari, mereka dapat berkontribusi pada lingkungan kamar tidur yang lebih sehat.
* Daya tarik estetika: Dengan bentuknya yang beragam dan dedaunan yang mencolok, mereka dapat menambahkan sentuhan keanggunan modern, cocok di berbagai ruang mana pun.
* Kemampuan beradaptasi: Mereka dapat mentoleransi berbagai kondisi dalam ruangan.
Varietas:
Terdapat beragam varietas Sansevieria, masing-masing dengan karakteristik unik. Beberapa contoh yang populer meliputi:
* Dracaena trifasciata 'Laurentii': Daun tinggi seperti pedang dengan tepi kuning, seperti pada foto di atas, dan foto paling atas.
* Dracaena trifasciata 'Zeylanica': Mirip dengan Laurentii tetapi tanpa tepi kuning.
* Dracaena angolensis 'Starfish' (sebelumnya Sansevieria cylindrica): Daun bundar seperti tombak yang menyebar, tampak pada foto di atas.
* Dracaena hanningtonii 'Fernwood Mikado': Daun ramping, melengkung, dan silindris.
* Dracaena masoniana: Dikenal sebagai Tanaman Ular Sirip Paus, yang memiliki daun tunggal dan lebar.
* Dracaena trifasciata 'Hahnii': Varietas kompak berbentuk sarang burung.
Toksisitas:
* Tanaman Sansevieria sedikit beracun jika tertelan karena adanya saponin. Sebaiknya jauhkan tanaman ini dari jangkauan hewan peliharaan dan anak kecil yang penasaran.
Kesimpulan:
Sansevieria adalah tanaman hias yang bergaya, mudah beradaptasi, dan bermanfaat, serta mudah dirawat, tidak rewel. Dapat membersihkan udara dalam ruangan, menambah kadar oksigen. Tanaman ini menjadi pilihan populer bagi penggemar tanaman berpengalaman maupun pemula. Jika berkualitas bagus, menang kontes, harganya bisa melambung tinggi.
The custard apple (Annona squamosa) is a small tree that produces sweet, heart-shaped fruit with green, knobbly skin and creamy white flesh. It is native to tropical America but is now cultivated in many parts of the world.
Plantation
Custard apple plantations are usually located in warm, tropical climates with well-drained soil. The tree is usually propagated from seed or by grafting.
The tree grows relatively quickly and can begin producing fruit within 3-5 years. A tree about 2 meters tall can already produce a lot of fruit. Because the tree is not too big, it can be planted in the home yard.
Planting
Custard apple trees need full sunlight, or at least 6 hours per day, and regular watering, especially during the dry season.
The tree in my yard was infested with mealybugs on the fruit. Fortunately, the fruit was only about 1.5 meters from the ground. So the mealybugs were easy to clean with a brush and water with a little detergent soap.
Harvesting
Custard apple is harvested when it is fully ripe but still somewhat hard. The fruit is usually picked by hand to avoid bruising the soft fruit.
If it is soft already, it will usually rot quickly. This is an obstacle to its distribution.
The fruit season is in January-March and September-November. It is a seasonal fruit that can be harvested twice a year. Some articles state that it can be harvested all year round.
YouTube video of harvesting custard apple fruit in the home yard.
Utilization
Custard apple is eaten fresh or processed into desserts, jams, and juices. This fruit is a good source of vitamins C and B, as well as fiber and antioxidants.
In Southeast Asia custard apple is called srikaya. And there is a popular Serikaya jam that is generally sold in Southeast Asia, but this jam is not made from srikaya (custard apple) fruit. Instead, it is made from coconut milk, egg and sugar. Only the name is about similar.
Economy
Custard apple cultivation is an important source of income for many farmers in tropical countries. This fruit is also exported to various parts of the world, where it is considered a delicacy. The taste and texture are somewhat similar to Soursop fruit. But custard apple is much smaller in size.
Srikaya (Annona squamosa) adalah pohon kecil yang menghasilkan buah manis berbentuk hati dengan kulit hijau berbonggol dan daging buah berwarna putih krem. Tanaman ini berasal dari daerah tropis Amerika tetapi sekarang dibudidayakan di banyak bagian dunia.
Perkebunan
Perkebunan srikaya biasanya terletak di daerah beriklim tropis yang hangat dengan tanah yang dikeringkan dengan baik. Pohon ini biasanya diperbanyak dari biji atau dengan mencangkok.
Pohon ini tumbuh relatif cepat dan dapat mulai menghasilkan buah dalam waktu 3-5 tahun. Dengan tinggi pohon sekitar 2 meter sudah bisa berbuah banyak. Karena pohonnya tidak terlalu besar, maka bisa ditanam di halaman rumah.
Penanaman
Pohon srikaya membutuhkan sinar matahari penuh, atau minimal 6 jam per hari, dan penyiraman secara teratur, terutama selama musim kemarau.
Pada pohon di halaman saya, terkena hama kutu putih pada buahnya. Untungnya posisi buah hanya sekitar 1,5 meter dari tanah. Sehingga kutu putih mudah dibersihkan dengan kuas dan air dengan sedikit sabun deterjen.
Pemanenan
Srikaya dipanen saat sudah matang sepenuhnya tetapi masih agak keras. Pohon ini biasanya dipetik dengan tangan untuk menghindari memar pada buah yang lembut.
Jika sudah lunak biasanya akan cepat membusuk. Hal ini merupakan kendala pada distribusinya.
Musim buah srikaya adalah pada bulan Januari-Maret dan September-November. Srikaya merupakan buah musiman yang dapat dipanen dua kali dalam satu tahun. Beberapa tulisan menyatakan Srikaya bisa berbuah sepanjang tahun.
Video YouTube panen buah Srikaya di halaman rumah.
Pemanfaatan
Srikaya dimakan segar atau diolah untuk dijadikan makanan penutup, selai, dan jus. Pohon ini merupakan sumber vitamin C dan B yang baik, serta serat dan antioksidan.
Akan tetapi selai serikaya yang umumnya beredar di pasaran di Asia Tenggara, bukan terbuat dari buah Srikaya. Melainkan terbuat dari santan, telur dan gula. Hanya namanya saja yang mirip.
Ekonomi
Budidaya srikaya merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak petani di negara tropis. Buah ini juga diekspor ke berbagai belahan dunia, di mana buah ini dianggap sebagai makanan lezat. Rasa dan textur agak mirip dengan buah Sirsak. Tapi Srikaya jauh lebih kecil ukurannya.
The poisonous but very useful decomposer. Yellow-spotted millipede is also known as yellow-dotted millipede, almond-scented millipede, cyanide millipede.
Orthomorpha coarctata is a species of millipede belonging to the Paradoxosomatidae family. Here are some important facts about this species:
Physical Characteristics
1. Body shape: Long, slender, and cylindrical, similar to a centipede.
2. Color: Dark brown or black with bright yellow or orange spots or dots along the back.
3. Size: Usually about 3-5 cm (1.2-2 inches) long.
Habitat and Distribution
1. Native area: Southeast Asia, including countries such as Indonesia, Malaysia, and Thailand.
2. Habitat: Found in humid environments, such as tropical forests, grasslands, and agricultural areas.
For region: Western North America, from British Columbia to California. With a slightly flattened back rather than cylindrical shape, it is known as Harpaphe haydeniana.
Behavior and Ecology
1. Food: Detritivores, feeding on decaying plant matter, fungi, and bacteria.
2. Burrowing behavior: Millipedes such as Orthomorpha coarctata are known to burrow in soil and leaf litter, helping to break down organic matter and recycle nutrients. However, their burrows are shallow, only about 1-2 cm, not as deep as wormholes. Some writings mention that millipede burrows in the soil reach a depth of 30 cm following rotten wood roots. Meanwhile, earthworm burrows can reach a depth of 2 meters from the ground surface.
Reproduction and Life Cycle
1. Mating: Male millipedes perform elaborate courtship rituals to attract female millipedes.
2. Eggs: Female millipedes lay eggs in protected locations, which hatch into legless larvae after a few weeks.
3. Molting: Young millipedes undergo several molts as they grow, eventually reaching adulthood after a few months.
Fun Facts
1. Unique name: The species name "coarctata" comes from the Latin word "coarctare," meaning "to press together," which likely refers to the millipede's body shape.
2. Important ecological role: As a detritivore, Orthomorpha coarctata helps break down organic matter, recycle nutrients, and contribute to soil health.
Orthomorpha coarctata, like many other centipedes, has a defense mechanism that involves releasing chemicals to deter predators. These chemicals can be toxic to some animals, but the level of toxicity varies depending on the species and the specific chemicals released.
Toxicity level:
Orthomorpha coarctata is considered mildly toxic. Its defensive secretions contain toxic chemicals that contain a variety of harmful chemicals, such as hydrochloric acid, hydrogen cyanide, organic acids, phenols, cresols, benzoquinones, and hydroquinones, which can cause:
1. Irritation: Skin and eye irritation in humans, especially if handled carelessly.
2. Allergic reactions: Some people may experience allergic reactions, such as itching, redness, or swelling, after exposure to centipede secretions.
Precautions:
If you need to handle Orthomorpha coarctata or other centipedes, take the following precautions:
1. Wear gloves: Protect your skin from potential irritants.
2. Avoid touching your eyes: Wash your hands thoroughly after handling millipedes.
3. Keep away from pets: Millipede secretions can be toxic to pets, especially if swallowed.
Important notes:
Although Orthomorpha coarctata is mildly toxic, it is usually not life-threatening to humans. If you experience serious symptoms or problems after exposure, seek medical attention immediately.
There are reports that they attack earthworms. Actually, these millipedes prefer to be above ground. While earthworms live in the soil. If earthworms come to the surface, they may be attacked by millipedes.
Millipedes, including the yellow-spotted millipede, generally have limited or blind vision. This is the explanation:
- Simple eyes: Millipedes have simple eyes, also known as ocelli, which can detect light and dark but cannot form images.
- No compound eyes: Unlike insects, millipedes do not have compound eyes, which consist of multiple lenses and can detect movement and detail.
- Poor eyesight: Millipedes rely more on their sense of touch and smell to navigate their environment.
Despite their limited vision, millipedes can:
- Detect vibrations: Millipedes can sense vibrations in the ground, helping them detect potential threats or prey.
- Follow chemical trails: Millipedes use their antennae to detect chemical cues, such as pheromones, to find food, mate, or shelter.
So, although millipedes may not have sharp eyesight, they have developed other senses to explore and interact with their environment.
According to Sand Diego Zoo, millipedes do feel with their legs, along with their antennae. Millipedes have tactile hairs on their limbs and antennae that act as sensory receptors, allowing them to detect touch and vibrations. They can also use their legs to feel the ground and navigate. They could possibly communicate by scent as well.
Application to Plant Seedlings
Because they can release poison and its aroma, body shape, as well as its striking color as a warning, millipedes have only few natural predators. Other animals tend to avoid millipedes.
Therefore, I use it to protect red cayenne pepper seedlings that are being planted. Millipedes do not eat living plants. Plant pests such as caterpillars, ants, whiteflies, snails, grasshoppers, flies, lizards, and others, will stay away. Because of the smell of the poison, cats, dogs, and mice also stay away. I don't know yet the reaction of squirrels, rabbits and marmots, and other disturbing herbivores or pests that eat plants.
The shape of the pot with a lip that has a thick and wide horizontal part of about 5 millimeters, prevents millipedes from getting out of the pot. Millipedes can walk on vertical wall. Despite their many legs, millipedes cannot walk on the underside of horizontal wall, such as ceiling or plafond.
The yellow spots on these millipedes make them look great as decorations in plant pots. The yellow spots contrast with the color of the soil, and they appear to be moving.
They are called detritivores because millipedes are organisms that decompose and eat dead and decaying organic matter, recycling it back into the ecosystem as energy and nutrients so that it can be reabsorbed by primary producers (plants, phytoplankton, oceanic cyanobacteria). So the presence of millipedes in pots can help decompose organic matter so that it produces compost for red cayenne peppers that are growing in the pot.
Used bottle of mineral water can be used as pot cover, so that millipedes cannot get out. In the photo above, the plastic water bottle is cut and the top end or cone is used to cover the pot. The cover also prevents pests from attacking the plants. Make sure the lip of the pot is tight with the inside of the cone of the mineral water bottle.
The photo above is a used mineral water bottle with the top cut off, and it is used as a plant pot. The top of the pot is slightly tapered inwards, so as to prevent the millipedes from escaping the pot.
If you are bothered by the presence of millipedes, then prevent or avoid damp places. You can do this by placing silica gel in the cupboard, moisture absorbers (such as: Vacplus, Natruth), desiccant (such as: Griot's garage, wisedry, wisesorb), dehumidifiers (such as: Tabyik, ToLife, NineSky), and so on. If necessary, insecticides are generally quite effective against millipedes.
Si pengurai yang beracun tapi banyak manfaatnya. Kaki seribu berbintik kuning, juga dikenal sebagai ulat gagak, luing, luwing, atau keluwing, Bahasa Inggris : yellow-dotted milipede, yellow-spotted millipede, almond-scented millipede, cyanide millipede.
Orthomorpha coarctata adalah spesies kaki seribu yang termasuk dalam famili Paradoxosomatidae. Berikut ini beberapa fakta penting tentang spesies ini:
Ciri-ciri Fisik
1. Bentuk tubuh: Panjang, ramping, dan silindris, mirip kelabang, juga mirip lipan.
2. Warna: Cokelat tua atau hitam dengan bintik-bintik atau titik-titik kuning atau jingga terang di sepanjang punggung.
3. Ukuran: Panjangnya biasanya sekitar 3-5 cm (1,2-2 inci).
Habitat dan Distribusi
1. Daerah asli: Asia Tenggara, termasuk negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
2. Habitat: Ditemukan di lingkungan yang lembap, seperti hutan tropis, padang rumput, dan daerah pertanian.
Perilaku dan Ekologi
1. Makanan: Detritivor, memakan bahan tanaman yang membusuk, jamur, dan bakteri.
2. Perilaku menggali: Kaki seribu seperti Orthomorpha coarctata diketahui menggali tanah dan serasah daun, membantu memecah bahan organik dan mendaur ulang nutrisi. Tapi lubangnya dangkal sekitar 1-2 cm saja, tidak sedalam lubang cacing. Beberapa tulisan menyebut lubang kaki seribu pada tanah mencapai kedalaman 30 cm mengikuti akar kayu yang busuk. Sedangkan lubang cacing tanah dapat mencapai kedalaman 2 meter dari permukaan tanah.
Reproduksi dan Siklus Hidup
1. Perkawinan: Kaki seribu jantan melakukan ritual pacaran yang rumit untuk menarik perhatian kaki seribu betina.
2. Telur: Kaki seribu betina bertelur di lokasi yang terlindungi, yang menetas menjadi larva tanpa kaki setelah beberapa minggu.
3. Pergantian kulit: Kaki seribu muda mengalami beberapa kali pergantian kulit saat mereka tumbuh, akhirnya mencapai usia dewasa setelah beberapa bulan.
Fakta Menarik
1. Nama unik: Nama spesies "coarctata" berasal dari kata Latin "coarctare," yang berarti "menekan bersama," yang kemungkinan merujuk pada bentuk tubuh kaki seribu.
2. Peran ekologis yang penting: Sebagai detritivor, Orthomorpha coarctata membantu memecah bahan organik, mendaur ulang nutrisi, dan berkontribusi terhadap kesehatan tanah.
Orthomorpha coarctata, seperti banyak lipan lainnya, memiliki mekanisme pertahanan yang melibatkan pelepasan zat kimia untuk mencegah predator. Zat kimia ini dapat beracun bagi beberapa hewan, tetapi tingkat toksisitasnya bervariasi tergantung pada spesies dan zat kimia spesifik yang dilepaskan.
Tingkat toksisitas:
Orthomorpha coarctata dianggap agak beracun. Sekresi pertahanannya mengandung zat kimia racun yang mengandung berbagai bahan kimia berbahaya, seperti asam klorida, hidrogen sianida, asam organik, fenol, kresol, benzokuinon, dan hidrokuinon, yang dapat menyebabkan:
1. Iritasi: Iritasi kulit dan mata pada manusia, terutama jika ditangani secara sembarangan.
2. Reaksi alergi: Beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi, seperti gatal, kemerahan, atau bengkak, setelah terpapar sekresi lipan.
Tindakan pencegahan:
Jika Anda perlu menangani Orthomorpha coarctata atau lipan lainnya, lakukan tindakan pencegahan berikut:
1. Kenakan sarung tangan: Lindungi kulit Anda dari potensi iritasi.
2. Hindari menyentuh mata: Cuci tangan Anda sampai bersih setelah memegang kaki seribu.
3. Jauhkan dari hewan peliharaan: Sekresi kaki seribu dapat menjadi racun bagi hewan peliharaan, terutama jika tertelan.
Catatan penting:
Meskipun Orthomorpha coarctata sedikit beracun, namun biasanya tidak mengancam jiwa manusia. Jika Anda mengalami gejala atau masalah serius setelah terpapar, segera cari pertolongan medis.
Untuk wilayah: Amerika Utara bagian Barat, dari British Columbia hingga California. Dengan bentuk rubuh agak pipih bukan silindris dikenal sebagai Harpaphe haydeniana.
Ada laporan yang menyebut mereka menyerang cacing tanah. Sebenarnya kaki seribu ini lebih suka di atas tanah. Sedangkan cacing tanah habitatnya di dalam tanah. Mungkin jika cacing tanah keluar ke permukaan, maka akan diserang kaki seribu.
Kaki seribu umumnya, termasuk kaki seribu berbintik kuning, memiliki penglihatan terbatas atau buta. Berikut penjelasannya:
- Mata sederhana: Kaki seribu memiliki mata sederhana, yang juga dikenal sebagai oselus, yang dapat mendeteksi terang dan gelap tetapi tidak dapat membentuk gambar.
- Tidak memiliki mata majemuk: Tidak seperti serangga, kaki seribu tidak memiliki mata majemuk, yang terdiri dari banyak lensa dan dapat mendeteksi gerakan dan detail.
- Penglihatan buruk: Kaki seribu lebih mengandalkan indra peraba dan penciuman untuk menjelajahi lingkungannya.
Meskipun penglihatannya terbatas, kaki seribu dapat:
- Mendeteksi getaran: Kaki seribu dapat merasakan getaran di tanah, membantu mereka mendeteksi potensi ancaman atau mangsa.
- Mengikuti jejak kimia: Kaki seribu menggunakan antena mereka untuk mendeteksi isyarat kimia, seperti feromon, untuk menemukan makanan, pasangan, atau tempat berlindung.
Jadi, meskipun kaki seribu mungkin tidak memiliki penglihatan yang tajam, mereka telah mengembangkan indra lain untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Kebun Binatang Sand Diego, kaki seribu dapat merasakan dengan kakinya, beserta antenanya. Kaki seribu memiliki rambut peraba pada tungkai dan antenanya yang berfungsi sebagai reseptor sensorik, yang memungkinkan mereka mendeteksi sentuhan dan getaran. Mereka juga dapat menggunakan kakinya untuk merasakan tanah dan menavigasi. Mereka mungkin juga dapat berkomunikasi melalui aroma.
Penerapan Pada Semai Tanaman
Karena dapat mengeluarkan racun dan aromanya, bentuk serta warna yang mencolok sebagai peringatan, maka tidak banyak predatornya. Hewan lain cenderung menghindar.
Video YouTube kaki seribu terjebak di dalam pot.
Video resolusi tinggi saya tentang kaki seribu di shutterstock.
Oleh karena itu saya gunakan untuk memproteksi bibit cabai rawit merah yang sedang bersemai. Kaki seribu tidak memakan tanaman yang masih hidup. Hama tanaman seperti ulat, semut, kutu kebul (kutu putih), siput, belalang, lalat, cicak, dan lain-lain, akan menjauh. Karena aroma racunnya, kucing, anjing, dan tikus juga menjauh. Saya belum tahu reaksi tupai, kelinci dan marmut, dan herbivora lainnya yang mengganggu atau hama yang memakan tanaman.
Bentuk pot dengan bibir yang mempunyai bagian horizontal yang tebal dan lebar sekitar 5 milimeter, mencegah kaki seribu keluar dari pot. Kaki seribu bisa berjalan di dinding vertikal. Walaupun kakinya sangat banyak, kaki seribu tidak bisa berjalan di sisi bawah dinding horizontal, seperti plafon atau langit-langit.
Bintik-bintik kuning pada kaki seribu ini, membuatnya tampak bagus sebagai hiasan di pot tanaman. Bintik-bintik kuning tersebut terlihat kontras dengan warna tanah, dan terlihat bergerak-gerak.
Disebut golongan detritivora karena kaki seribu adalah organisme yang menguraikan dan memakan bahan organik yang mati dan membusuk, mendaur ulangnya kembali ke ekosistem sebagai energi dan nutrisi sehingga dapat diserap kembali oleh produsen primer (tumbuhan, fitoplankton, sianobakteri samudra). Maka keberadaan kaki seribu pada pot, dapat membantu penguraian zat organik sehingga menghasilkan pupuk kompos bagi cabai rawit merah yang sedang bersemai di dalam pot tersebut.
Bekas botol atau galon air mineral dapat digunakan sebagai penutup pot, agar kaki seribu tidak bisa keluar. Pada foto di atas terlihat botol Le Minerale dipotong dan bagian atasnya atau kerucutnya digunakan untuk menutup pot. Penutup juga mencegah hama menyerang tanaman. Pastikan bibir pot rapat dengan bagian dalam kerucut dari botol air mineral.
Foto di atas adalah bekas botol air mineral yang dipotong bagian atasnya dan dijadikan pot tanaman. Bagian atas pot agak mengerucut ke dalam, sehingga mencegah kaki seribu keluar dari pot.
Jika Anda merasa terganggu dengan kehadiran kaki seribu, maka cegah atau hindari tempat-tempat lembab. Bisa dengan menempatkan silika gel pada lemari, penyerap lembab (seperyi: Bagus Serap Air, Dahlia Serap Lembab, Swallow Serap Air, AZKO), dehumidifier (seperti Deerma, Drytech, Kris), dan lain-lain. Jika memang perlu, pembasmi serangga umumnya cukup ampuh terhadap kaki seribu.