Pemasangan paving block dapat menggunakan batu bata merah dan batu split sebagai pondasi. Guna menghambat pertumbuhan tanaman gulma disela-sela paving.
Pada foto di atas, pondasi batu bata berguna untuk supaya paving block atau connecting block lebih stabil tidak banyak gerakan. Area paving ini nantinya hanya untuk menanggung beban orang, bukan untuk dilewati mobil.
Pemberian sedikit semen dan pasir sebagai landasan pada tanah, agar membuat susunan batu bata dan batu split di atasnya terkunci. Sehingga dapat mencegah batu split terbenam ke dalam tanah setelah beberapa lama terkena air. Juga membuat pondasi yang lebih kokoh menahan beban. Sehingga susunan paving tidak mudah amblas ataupun longsor.
Ketebalan lapisan semen pasir hanya sekitar 1 centimeter saja, karena ditujukan hanya untuk mengunci batu split, tidak untuk menutupi muka tanah dengan rapat.
Tampak pada foto, sepotong kayu panjang digunakan untuk meratakan sebaran batu split di atas lapisan semen, hingga sesuai tinggi bata merah.
Jika kesulitan meratakan batu split, bata merah bisa ditambahkan lebih banyak. Karena bentuknya yang teratur, bata merah lebih mudah diratakan permukaanya. Sementara batu split karena bentuknya tak beraturan, maka lebih sulit diratakan.
Batu split, batu pecah atau batu belah, bisa mengalirkan air hujan dari atas paving, menuju sela-sela semen, dan lalu menyerap ke dalam tanah, sehingga mencegah genangan air di atas paving.
Jika terlalu banyak semen, air akan sulit menyerap ke dalam tanah. Tapi tentu saja akan lebih kokoh menahan beban.
Jika menggunakan landasan yang banyak pasir, akan mudah menyebabkan lumut, gulma, rumput, dan tumbuh-tumbuhan kecil lainnya untuk dapat hidup dan merambat dari pasir, merambat di antara sela-sela paving dan muncul di permukaan paving.
Akar tanaman dapat lebih mudah merambat di antara butiran pasir, tapi akan sulit merambat di antara bongkahan batu split. Butiran pasir dapat membentuk rongga-rongga kapiler yang dapat menyimpan air, sehingga disukai akar tanaman.
Pada foto di atas, sebagian paving block sudah terpasang. Jika ternyata ada permukaan paving yang terlalu tinggi, bisa disetel dengan memukul-mukul batu split yang menonjol.
Sedikit semen boleh ditambahkan untuk menambal bagian yang kurang tinggi. Hindari gunakan banyak pasir untuk setel permukaan agar rata, karena pasir dapat ditumbuhi akar tanaman rambat.
Kelemahan landasan paving dengan batu split adalah: paving masih bisa bergerak saat diinjak kaki. Gunakan sedikit semen untuk mengunci paving yang terlalu banyak bergerak. Jika ukuran paving block cukup seragam, dan terpasang rapat dan rapi, maka gerakannya bisa diminimalkan.
Ada pendapat bahwa mencampur pasir dengan batu gamping atau kapur sebagai landasan paving, bisa mencegah gulma di atas paving. Tapi harga kapur cukup mahal. Juga kandungan kapur dapat mematikan tanaman yang sengaja dipelihara di sekitar paving.
A wood saw can be used to cut tall tree branches. By connecting it to a wooden pole. The saw blade has a drilled hole in the center of the blade. This hole is for installing screws to lock the blade to the wooden pole.
In the photo above, the screws used for fastening can use screws that are commonly used for light steel roof frame (zincalum roof truss). It can also be seen that a ring was added to widen the screw pressure, especially in the path at the base of the saw.
Photo of a saw with a wooden pole measuring 3x4 cm in cross section being used to cut a branch of a mango tree.
The length of the pole affects the cutting power. The longer the pole, the more it reaches high branches and twigs. But the cutting power will be weaker, because of the difficulty in moving the long and heavy pole.
The position of the branch, which is almost vertical above the head, is a position that is difficult to cut. Due to the weight of the pole, and less pressure on the saw towards the branch being cut. The position of the branch that is slightly horizontal to the worker is easier to cut.
With a pole length of around 4 meters, the position of the branch is almost directly above the head. This tool is capable of cutting hard mango tree branches, with a diameter of around 3-4 cm. For softer branches, such as plumeria tree branches, the diameter of the branch that can be cut can be larger.
Short poles, about 1 to 2 meters, can also be very effective to reach high branches. But workers have to climb the tree first, to get close to the branches to be cut. Then with a 1-2 meter pole the branch is reached and sawed.
The weakness of this tool is that the saw blade can bend if the movement is not correct. Bending of the blade can be prevented by advancing the screw further to the leading edge of the blade. But this brings the pole further forward towards the front end of the saw. Consequently, the saw's movement can be impeded by branches in areas where they are dense and tightly packed.
Another way to prevent the blade from bending is to add a metal bar as a reinforcing spine; a 1x1 cm angle iron can be used for this purpose. The downside is that the metal reinforcement adds weight to the saw, making it more difficult to handle, especially when using a long pole.
Gergaji kayu dapat digunakan untuk potong dahan atau cabang pohon yang tinggi. Dengan cara disambung pada galah kayu.
Bilah gergaji dibor sebuah lubang di tengah bilah. Lubang ini untuk pemasangan sekrup untuk mengunci bilah pada galah kayu.
Pada foto di atas, sekrup yang digunakan untuk mengikat, bisa mengunakan sekrup yang biasa dipakai untuk baja ringan. Terlihat juga ditambahkan ring agar tekanan sekrup melebar, terutama pada jalur di bagian pangkal gergaji.
Photo saat gergaji dengan galah kayu ukuran penampang 3x4 cm digunakan memotong dahan pohon mangga.
Panjang galah berpengaruh pada kekuatan potong. Semakin panjang galah, semakin menjangkau dahan dan ranting yang tinggi. Tapi akan semakin lemah daya potongnya, karena kesulitan menggerak-gerakkan galah yang panjang dan berat tersebut.
Posisi dahan yang hampir vertikal di atas kepala, adalah posisi yang sulit dipotong. Karena beratnya galah, dan kurang tekanan pada gergaji ke arah dahan yang sedang dipotong. Posisi dahan yang agak mendatar terhadap pekerja, adalah lebih mudah dipotong.
Dengan panjang galah sekitar 4 meter, posisi dahan hampir tepat di atas kepala. Alat ini mampu memotong dahan pohon mangga yang keras, dengan diameter sekitar 3-4 cm. Untuk dahan yang lebih lunak, seperti dahan pohon kemboja (plumeria), maka diameter dahan yang dapat dipotong bisa lebih besar.
Galah yang pendek, sekitar 1 sampai 2 meter, juga bisa sangat efektif, untuk menjangkau dahan yang tinggi. Tapi pekerja harus memanjat pohon tersebut terlebih dahulu, agar mendekat dengan dahan yang akan dipotong. Lalu dengan galah 1-2 meter itu dahan dijangkau dan digergaji.
Kelemahan dari alat ini adalah bilah gergaji bisa bengkok jika tidak tepat gerakannya. Bengkoknya bilah bisa dicegah dengan memajukan sekrup lebih ke ujung depan bilah. Tapi hal ini membuat galah lebih maju ke ujung depan gergaji. Sehingga gerakan gergaji bisa tertahan ranting-ranting, di area di mana rantingnya banyak dan rapat.
Cara lain untuk mencegah bilah bengkok, adalah dengan menambah batang besi sebagai tulang penguat. Bisa menggunakan besi siku 1x1 centimeter. Kekurangannya adalah tulang besi menambah berat gergaji. Sehingga akan menyulitkan terutama jika menggunakan galah panjang.
A 24VDC relay can be used to trace electrical wires up to several meters long. This makes it suitable for detecting electrical wires in structures such as houses, factories, warehouses, big buildings, or other structures, including electrical wires on ships.
This method allows to check a single wire path. Unlike a typical multitester, which requires two wire paths: a positive wire and a negative or neutral wire, to check continuity.
Photo of a 24VDC relay circuit that produces high voltage, transmitted through the power cable, and can be detected with just a voltage tester screwdriver. No multimeter is needed. The short power cable in the photo, in practice, will be a long power cable with both ends separated by several meters.
The induced voltage generated by the coil is relatively safe to touch. Although the voltage is high, the current is very weak, so the power is very small. It does not cause injury if touched, but usually only causes a bit shock.
The 24VDC relay is powered by two 9-volt batteries connected in series to produce 18 volts.
The relay is set to vibrate to generate an electromagnetic field (EMF). The relay pins are connected as follows:
The Common (Com) pin is connected to one of the coil pins. The high positive voltage (H) is generated from this Com pin, and can be detected with a voltage tester screwdriver.
The other coil pin is connected to the positive terminal of the battery.
The 24VDC relay, as shown in the photo above, has a coil resistance of approximately 1.6 kiloohms.
The Normally Closed (NC) pin on the relay is connected to the negative terminal and ground. The NC pin is connected to the Com position when the relay is inactive. When the relay operates or vibrates, the resulting induced voltage illuminates the voltage tester lamp.
The negative terminal of the battery must be connected to ground, which can be connected to a nail in a concrete wall, a steel frame, a metal water faucet, or something else. If the negative terminal is not properly connected to the ground, the voltage tester lamp will be dim.
Video of a 24VDC relay on YouTube during an NCV test.
The electromagnetic field generated by the relay can be detected with a digital multitester with a Non-Contact Voltage function. If the cable is connected directly to the Com terminal on the relay, the NCV on the multitester will detect a strong electromagnetic field.
The photo of the NCV function on Aneng's multi-tester detects an electromagnetic field in a piece of black insulated cable whose conductor is connected to a long coil of cable. The multi-tester display shows a very strong electromagnetic field detected, reaching full scale.
Also, read various other relay circuits for detecting long, hidden electrical cables.
In a long double-core (twin) cable, a weak electromagnetic field is detected in the adjacent cable not directly connected to the relay's Com pin. This type of cable is often used in electrical networks, usually with the code NYMHY, which is a double-core stranded cable with an insulated layer.
If the cable is broken, the electromagnetic field will be very weak in the broken section.
CAUTION:
The high voltage from the induction coil, even at very low wattage, can damage sensitive electronic equipment, as it can reach voltage exceeding 220V.
In a 24-volt relay or solenoid, the highest induced voltage (also known as inductive kick or flyback voltage) can easily reach hundreds to thousands of volts.
Therefore, before performing the procedure with the tools mentioned above, it's best to unplug all electronic equipment, such as cell phone chargers, TVs, radios/stereos, computers, laptops, and other high-voltage sensitive devices, from the electrical network. This will prevent damage from exposure to high voltage from the coil.
The tools described here cannot work well for tracing grounded power lines, and neutral power lines.
Relai 24VDC dapat digunakan untuk menelusuri kabel listrik yang panjang hingga beberapa meter. Sehingga cocok untuk deteksi kabel listrik pada bangunan seperti rumah, gedung, gudang, pabrik, atau bangunan lainnya, termasuk juga kabel listrik pada kapal.
Dengan cara ini, satu jalur kabel bisacdicek dan ditemukan. Tidak sebagaimana biasanya dengan multi tester, dibutuhkan 2 jalur kabel. Yaitu kabel positif, dan kabel negatif atau netral, untuk melakukan cek kontinuitasnya.
Tegangan induksi yang timbulkan koil cukup aman jika tersentuh tangan. Walau tegangannya tinggi, tapi arusnya lemah sekali, sehingga dayanya sangat kecil. Tidak menyebabkan cedera jika tersentuh, tapi biasanya hanya sedikit terkejut saja.
Relai 24VDC tersebut disuplai dengan 2 buah baterai 9 volt tersusun serie agar didapat tegangan 18 volt.
Relai dibuat bergetar agar menghasilkan medan elektromagnet (EMF, Electro Magnetic Field). Kaki-kaki relai terhubung sebagaimana skema berikut:
Kaki atau pin Common (Com) dihubungkan ke salah satu kaki koil. Tegangan tinggi positif H didapat dari kaki Com ini, dapat dideteksi dengan obeng tespen.
Kaki koil lainnya dihubungkan ke kutub positif baterai.
Relai 24VDC sebagaimana foto di atas mempunyai resistansi koil sekitar 1,6 kilo ohm.
Foto rangkaian relai 24VDC yang menghasilkan tegangan tinggi, ditransmisikan melalui kabel listrik, dan bisa dideteksi hanya dengan tespen. Tanpa perlu multitester. Kabel listrik pendek pada foto, pada prakteknya nanti adalah kabel listrik panjang dengan kedua ujung terpisah beberapa meter.
Kaki Normally Closed (NC) pada relai dihubungkan ke kutub negatif dan tanah. Kaki NC pada posisi tersambung dengan Com, di saat relai tidak aktif.
Pada saat relai bekerja atau bergetar, tegangan induksi yang dihasilkan dapat menyalakan lampu tespen dengan terang.
Kutub negatif baterai harus dihubungkan ke tanah, bisa dihubungkan ke paku di dinding beton, rangka baja, metal keran air, dan lain-lain. Jika hubungan kutub negatif ke tanah kurang baik, maka nyala lampu tespen kurang terang.
Video relai 24vdc di Youtube saat test NCV.
Medan elektromagnet yang dihasilkan relai dapat dideteksi dengan digital multi tester dengan fungsi Non-Contact Voltage.
Pada kabel yang terhubung langsung dengan kaki Com pada relai, NCV pada multi tester akan mendeteksi medan elektromagnet yang kuat.
Foto fungsi NCV pada multi tester Aneng mendeteksi adanya medan elektromagnetik, pada sepotong kabel dengan insulator hitam yang konduktornya terhubung dengan gulungan kabel panjang. Terlihat pada layar multi tester, medan elektromagnet terdeteksi sangat kuat hingga skala penuh (full scale).
Baca juga berbagai rangkaian relai lainnya untuk mendeteksi kabel listrik yang panjang dan tersembunyi.
Pada kabel inti ganda (double core, twin) yang panjang, kabel di sebelah yang tidak terhubung langsung dengan kaki Com relai, terdapat medan elektro magnet yang terdeteksi lemah. Kabel tipe ini sering digunakan pada jaringan listrik, biasanya dengan kode NYMHY, yaitu kabel serabut inti ganda dengan lapisan isolasi.
Jika kabel terputus, maka medan elektro magnet akan sangat lemah pada bagian kabel yang terputus itu.
PERHATIAN:
Tegangan tinggi dari induksi koil, walaupun berdaya sangat kecil, dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif. Karena dapat mencapai tegangan melebihi 220V.
Pada relay atau solenoida 24 volt, tegangan induksi tertinggi, juga dikenal sebagai tegangan induktif balik atau tegangan flyback, dapat dengan mudah mencapai ratusan hingga ribuan volt.
Oleh karena itu, sebelum melaksanakan prosedur dengan alat-alat tersebut di atas, sebaiknya semua peralatan elektronik seperti: charger handphone, tv, radio tape / stereo set, komputer, laptop, dan lain-lain, yang sensitif tegangan tinggi, dilepas dari jaringan listrik. Untuk mencegah kerusakan akibat terkena tegangan tinggi dari koil.
Alat bantu yang dijelaskan di sini tidak dapat bekerja baik untuk menelusuri kabel listrik yang terhubung ke tanah, dan kabel listrik yang terhubung ke netral.
Laptop chargers can be used to recharge car and motorcycle batteries by adjusting the voltage. Typically, laptop chargers are around 19 volts. Therefore, this voltage needs to be lowered to prevent overcharging and damage to the charger.
This procedure is quite easy, and the circuit is simple yet reliable, with readily available components and easy assembly.
The top photo shows this simple circuit that can be made using a matrix board, with recycled components.
There are two LED indicator lights for easy operation.
Also read about charging a battery with a laptop charger that uses a voltage regulator IC.
CAUTION: Before charging the battery, check the battery's water level. Keep the battery caps loose while charging to allow for proper gas ventilation. Overcharging can occur. The maximum charging voltage for dry-cell batteries is around 13.8 volts, while for wet-cell batteries it is around 14.4 volts. Please refer to your battery's specifications to prevent overcharging.
This simple circuit lowers the laptop charger voltage to match the battery's voltage and charging current.
The components used are:
D1 - D8 = BY127 diodes, average current 1 to 1.5 amperes
L1 = 5 mm green LED
L2 = 1 watt white LED, surface mount device (SMD)
Dz = 12 volt 1 watt zener diode
R1 = 2.7 kilo-ohm, 0.5 watt resistor
R2 = 6.8 kilo-ohm, 0.5 watt resistor
R3 = 120 ohm, 1 watt resistor
S = 1 to 3 amperes fuse, depending on the load size, in this case, the battery.
The maximum current required by the battery during charging is approximately 10 percent of its capacity. So, for a 36 ampere-hour battery, the maximum charging current is 3.6 amperes, if the battery is very discharged or has very low voltage.
The laptop charger used in this article has a voltage of 19 volts and a maximum current of 3.95 amperes, as shown in the following photo.
This makes it powerful enough to charge a 36 amperes-hour battery.
The circuit above reduces the 19-volt voltage from the laptop charger to around 13 to 14 volts by passing through several diodes.
The LEDs serve as indicators.
The white LED indicates that the system is working properly, and it is ready for use. The white LED lights up when the circuit is unloaded. This LED is intentionally made large to reduce the voltage so that the voltmeter reads more normally when unloaded.
The green LED lights up when a load draws current, such as when charging the battery. When the circuit is loaded, the white LED goes out.
Theoretically, if current flows through one diode, the output voltage will drop by 0.6 volts. This is because diodes require forward voltage.
When connected to a 19-volt laptop charger, the no-load output voltage measured through eight diodes is 15.4 volts.
It's important to note that, although this voltage may seem too high for charging a battery, the voltage will drop if the circuit is loaded. This is due to the nature of diodes, where the forward voltage increases as the current increases, so the output voltage will decrease as the output current increases.
When the circuit is unloaded, the white LED lights up brightly, indicating that the circuit is ready for use. Meanwhile, the green LED lights up very dimly.
If the circuit is loaded with a 220-ohms load, the voltage drops to 14.3 volts, with an output current of approximately 0.065 amperes. At this point, the white LED will dimly lit, while the green LED lights up brightly.
The voltage becomes 12.9 volts when the circuit is loaded with a 24-ohms load, with a current of approximately 0.5 amperes. At this point, the white LED will go out, while the green LED remains lit brightly.
The voltage becomes 12.5 volts when the circuit is loaded with a 12-ohms load, with a current of approximately 1 ampere. The green LED remains lit brightly. The white LED goes out because the voltage is insufficient to allow current to flow through the white LED and zener diode.
The voltage above is considered normal for battery charging. If the voltage is deemed too low, the number of diodes can be reduced to achieve a higher output voltage. Diodes are reduced starting from the output end (D8), for example: the output is taken from D7, or even from D6. The current supply connection to the white LED can be changed if the diode is reduced, or it may not be changed.
If the required continuous current is less than 0.5 amperes, for example for charging a motorcycle battery, a smaller diode such as the 1N4007 can be used. Because this diode is very popular, many manufacturers produce it, but sometimes the quality is less good.
See also the video on YouTube:
The charging current will decrease as the battery voltage increases. If the battery voltage is equal to the charger voltage, the charging current will be very small.
When the battery voltage reaches approximately 14 volts, the green LED will dim. If the conditions and settings are correct, as is typically the case when charging a small battery, the white LED will begin to light up again. This indicates that the battery is about to fully charged.
Resistor 1 (R1) serves as a safety measure if this power supply circuit is connected to several circuits with ICs that cannot withstand the high voltage leakage caused by induction from the transformer. Therefore, R1 can be omitted if conditions are deemed safe.
The advantage of this circuit is its high reliability, as it lacks active components such as transistors or ICs (Integrated Circuits) that are prone to damage. Its simple operation makes it easy to understand, the components are widely available on the market, and it is also easy to assemble. Even if damaged, it is easy to repair.
The disadvantage is the lack of a voltage stabilizer. The voltage can drop when the load increases, and the voltage rises again when the load decreases. This is because diodes require a forward voltage to conduct current.
However, this voltage fluctuation is used to activate the indicator lights. And because the circuit is supplied with a laptop charger with a stable voltage, the output voltage can be considered stable enough for applications such as battery charging.
Theoretically, power efficiency is low due to voltage loss in the diode and its conversion to heat. In reality, the temperature increase in the diode is insignificant.
Charger laptop dapat digunakan untuk mencas atau setrum aki mobil dan sepeda motor dengan menyesuaikan tegangannya. Biasanya tegangan charger laptop sekitar 19 volt. Jadi tegangan tersebut perlu diturunkan, agar aki tidak kelebihan tegangan (overcharged) dan charger tidak rusak.
Prosedur ini cukup mudah dan rangkaiannya sederhana namun handal, dengan komponen yang mudah didapat di pasaran, dan gampang dirangkai.
Terdapat dua lampu indikator LED agar memudahkan operasi.
PERHATIAN: sebelum cas aki dilakukan cek level air aki terlebih dulu. Dan tutup aki tetap dibiarkan longgar di lubangnya selama aki dicas agar ventilasi gas lebih baik. Cas berlebihan dapat meledakkan aki. Tegangan cas maximum untuk aki sel kering sekitar 13.8 volt, sedangkan untuk aki basah sekitar 14.4 volt, harap berpatokan pada spesifikasi aki anda untuk mencegah cas berlebihan (overcharged).
Rangkaian sederhana ini menurunkan tegangan charger laptop agar sesuai dengan tegangan dan arus cas aki.
Komponen yang digunakan adalah:
D1 - D8 = dioda BY127, arus rata- rata 1 sampai 1,5 ampere
L1 = LED warna hijau 5 mm
L2 = LED warna putih 1 watt, surface-mount device (SMD, dipasang pada permukaan)
Dz = dioda zener 12 volt 1 watt
R1 = resistor 2,7 kilo ohm, 0,5 watt
R2 = resistor 6,8 kilo ohm, 0,5 watt
R3 = resistor 120 ohm, 1 watt
S= sekring 1 sampai 3 ampere, tergantung besarnya beban, dalam hal ini aki.
Arus maximal yang dibutuhkan aki saat pengisian adalah sekitar 10 persen dari kapasitas aki. Jadi untuk aki 36 ampere jam, arus maximal cas adalah 3.6 ampere, jika aki tersebut sangat kosong atau sangat rendah tegangannya.
Charger laptop yang digunakan pada artikel ini mempunyai tegangan 19 volt dan arus maximal 3,95 ampere, sebagaimana foto berikut.
Sehingga cukup kuat untuk mengisi aki berkapasitas 36 ampere jam.
Rangkaian di atas akan menurunkan tegangan 19 volt dari charger laptop menjadi sekitar 13 sampai 14 volt dengan melalui beberapa dioda.
Lampu-lampu LED berfungsi sebagai indikator.
LED putih menandakan sistem bekerja baik dan siap digunakan. LED putih menyala saat rangkaian tanpa beban. LED ini sengaja dibuat besar, agar menurunkan tegangan sehingga terbaca lebih normal, saat tanpa beban.
LED hijau akan menyala saat adanya beban yang mengkonsumsi arus, misalnya saat sedang cas aki. Pada saat rangkaian diberi beban, maka LED putih akan padam.
Secara teoritis, jika arus melalui satu buah dioda, maka tegangan output akan turun sebesar 0,6 volt. Karena dioda membutuhkan tegangan maju (forward voltage).
Pada saat terkoneksi dengan charger laptop 19 volt. Tegangan output tanpa beban yang terukur dengan melalui 8 dioda adalah 15,4 volt.
Perlu diperhatikan, walau tegangan ini sepertinya terlalu tinggi untuk cas aki. Tegangan akan turun jika rangkaian diberi beban. Hal ini sesuai sifat dioda, yang mana tegangan maju (forward voltage) akan naik jika arus bertambah, sehingga tegangan output akan turun jika arus output meningkat.
Saat rangkaian tanpa beban, lampu LED putih menyala terang. Sebagai tanda rangkaian siap digunakan. Sedangkan lampu LED hijau menyala sangat redup.
Jika rangkaian diberi beban 220 ohm, maka tegangan turun menjadi 14,3 volt. Dengan arus output sekitar 0,065 ampere. Pada saat ini lampu LED putih mulai meredup, sedangkan LED hijau menyala terang.
Tegangan menjadi 12,9 volt jika diberi beban 24 ohm, dengan arus sekitar 0,5 ampere. Pada saat ini lampu LED putih sudah mulai padam. Sedangkan lampu LED hijau tetap menyala terang.
Tegangan menjadi 12,5 volt jika diberi beban 12 ohm. Dengan arus sekitar 1 ampere. LED hijau tetap menyala terang. LED putih padam, karena tegangan tidak cukup untuk memungkinkan arus melalui rangkaian LED putih dan zener.
Tegangan tersebut di atas termasuk normal untuk cas aki. Jika tegangan menjadi dinilai terlalu rendah, maka jumlah dioda bisa dikurangi, agar didapat tegangan output yang lebih tinggi. Dioda dikurangi mulai dari bagian akhir output (D8), misalnya: output diambil dari D7, atau bahkan dari D6. Koneksi suplai arus ke LED putih bisa dipindah jika dioda dikurangi, bisa juga tidak dipindah.
Jika arus kontinyu yang dibutuhkan kurang dari 0,5 ampere, misalnya untuk cas aki motor, maka bisa menggunakan dioda yang lebih kecil seperti 1N4007. Berhubung dioda ini sangat popular, banyak pabrikan yang memproduksi, tapi kadang kualitasnya kurang bagus.
Lihat juga videonya di Youtube:
Foto di bawah memperlihatkan susunan rangkaian yang sederhana sehingga bisa menggunakan papan matrix, dengan komponen-komponen bekas yang didaur-ulang.
Arus pengisian akan mengecil seiring naiknya tegangan aki. Jika tegangan aki sudah sama dengan tegangan charger maka arus pengisian akan sangat kecil.
Saat tegangan aki mencapai sekitar 14 volt, lampu LED hijau akan meredup. Dan jika kondisinya dan pengaturannya tepat, biasanya terjadi jika mencas aki yang ukurannya kecil, lampu LED putih akan mulai menyala kembali. Sebagai indikator menandakan bahwa aki mulai penuh.
Resistor 1 (R1) berfungsi sebagai pengaman, jika rangkaian power suplai ini dihubungkan ke beberapa sirkuit dengan IC yang tidak tahan dengan tegangan tinggi yang 'bocor' akibat induksi dari trafo. Jadi R1 bisa dihilangkan jika kondisi dianggap aman.
Keunggulan rangkaian ini adalah sangat handal, karena tiada komponen aktif seperti transistor maupun IC (Integrated Circuit) yang rawan rusak. Sederhana cara kerjanya, sehingga mudah dimengerti, komponen banyak tersedia di pasaran, juga mudah dirangkai. Jikapun rusak, maka mudah juga diperbaiki.
Kelemahannya adalah tidak ada stabilisator tegangan. Tegangan bisa turun saat beban naik, dan tegangan kembali naik saat beban turun. Karena dioda membutuhkan tegangan maju (forward voltage) saat mengalirkan arus.
Tapi turun naiknya tegangan justru digunakan untuk mengaktifkan lampu-lampu indikator. Dan karena rangkaian disuplai dengan charger laptop yang stabil tegangannya, maka tegangan output dapat dianggap sudah cukup stabil, untuk aplikasi seperti mencas aki.
Secara teoritis efisiensi daya rendah, karena adanya kehilangan tegangan pada dioda dan berubah jadi panas. Pada kenyataannya, kenaikan temperatur dioda tidak signifikan.
The rose, as seen in the photo above, is a popular cut flower in Indonesia. Roses can grow and thrive in both lowland and highland areas in Indonesia.
I tried planting it in a slightly shady spot next to a green wall, and it bloomed consistently. As the old flowers faded, new shoots emerged. It's perfect for homes with limited garden space. Perhaps because it originates from the subtropics, roses can remain productive even in slightly shady areas in tropical country.
Fossil records indicate that roses have existed for 30 million years in Europe, Asia, and North America. Roses are believed to have been first cultivated in China, where they were planted in the gardens of the Chou Dynasty, as described by Confucius (551–479 BC). Many of the cultivated roses we grow today are hybrids and selections of native Chinese species.
Here are some details about roses in Indonesia:
• Production: Indonesia produced approximately 169.10 million rose stems in 2022, making it the second-largest ornamental plant after chrysanthemums. East Java is the largest production center nationally.
• Varieties: Some well-known Indonesian rose varieties include 'Mawar Putri', 'Mawar Mega Putih', 'Mawar Pertiwi', and 'Mawar Megawati'. Hybrid Tea roses are also popular in Indonesia.
• Origin: Many roses considered "village roses" or local roses that have long been available in Indonesia are actually imported old rose varieties.
• Cultivation: Cultivated rose seedlings are often imported from other countries such as South China, South America, and the Netherlands.
The rose in the photo, with its full, creamy white petals and water droplets, is a hybrid variety commonly cultivated on rose farms in Indonesia.
View high-resolution of my photos and videos of roses and other flora on Shutterstock.
Roses require at least 6 to 8 hours of direct sunlight per day to thrive and bloom optimally. Full sunlight is essential for photosynthesis and flowering. A sunny location is ideal, but avoid the hot midday sun, which can cause wilting or drying of the plant, especially in summer. Morning sunlight is preferable, and using a shade net (paranet) can help regulate heat intensity.
Roses can bloom year-round if conditions are right. These include adequate sunlight, about 6 hours of morning sun, fertilization, pruning flowers before they wilt, and pruning wilted leaves. Water in the morning to keep the soil moist but not soggy.
Some rose species known for their frequent flowering include Knock Out Roses (continuous blooms and disease resistance), Polyantha Roses (small, clustered flowers, year-round flowering), China Roses (repeat-flowering, compact), and varieties like 'Tahitian Sunset' (repeat-flowering) and Kordes Jubilee and Magie (adaptive and frequent flowering).
Roses are fragrant. But not all roses are fragrant; about 20% of all roses are scentless, and modern varieties are often bred for appearance or durability, rather than fragrance, although wild roses and old garden roses tend to be more fragrant. Rose scents vary from strong and sweet to soft, fresh, or even nonexistent, depending on the variety and environmental factors.
Bunga mawar seperti yang terlihat pada foto di atas adalah salah satu jenis bunga potong unggulan yang populer di Indonesia. Bunga mawar dapat tumbuh dan berkembang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi di Indonesia.
Saya coba tanam di tempat yang agak teduh di samping tembok hijau, ternyata bisa selalu berbunga. Bunga lama layu, muncul lagi tunas bunga baru. Cocok untuk rumah dengan taman berlahan terbatas. Mungkin karena berasal dari daerah subtropis, mawar bisa tetap produktif walau di tempat agak teduh di negara tropis.
Catatan fosil menunjukkan bahwa mawar telah ada 30 juta tahun yang lalu di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Mawar diyakini pertama kali dibudidayakan di Tiongkok, di mana mawar ditanam di taman kekaisaran dinasti Chou seperti yang dijelaskan oleh Konfusius (551-479 SM). Banyak mawar budidaya yang kita tanam saat ini adalah hibrida dan hasil seleksi dari spesies asli Tiongkok.
Berikut adalah beberapa detail mengenai mawar di Indonesia:
• Produksi: Indonesia memproduksi sekitar 169,10 juta tangkai mawar pada tahun 2022, menjadikannya tanaman hias terbesar kedua setelah krisan. Jawa Timur adalah sentra produksi terbesar secara nasional.
• Varietas: Beberapa jenis mawar khas Indonesia yang dikenal antara lain 'Mawar Putri', 'Mawar Mega Putih', 'Mawar Pertiwi', dan 'Mawar Megawati'. Jenis mawar Hybrid Tea juga populer di Indonesia.
• Asal usul: banyak mawar yang dianggap "mawar kampung" atau mawar lokal yang sudah ada sejak lama di Indonesia sebenarnya adalah jenis mawar tua (old rose) yang diimpor.
• Budidaya: Bibit mawar yang dibudidayakan sering didatangkan dari negara lain seperti Cina Selatan, Amerika Selatan dan Belanda.
Bunga mawar pada foto, dengan kelopak putih krem yang penuh dan tetesan air, adalah varietas hibrida yang umum dibudidayakan di perkebunan mawar di Indonesia.
Lihat foto dan video mawar dan flora lainnya beresolusi tinggi di Shutterstock.
Bunga mawar membutuhkan sinar matahari langsung minimal 6 hingga 8 jam per hari agar tumbuh subur dan berbunga maksimal. Karena sinar matahari penuh sangat penting untuk fotosintesis dan pembungaan. Lokasi yang cerah sangat ideal, namun hindari matahari terik di siang bolong yang bisa membuat tanaman layu atau kering, terutama di musim panas; sinar matahari pagi lebih baik, dan penggunaan jaring peneduh (paranet) bisa membantu mengatur intensitas panas.
Bunga mawar dapat berbunga sepanjang tahun jika kondisinya tepat. Seperti sinar matahari yang cukup, sekitar 6 jam matahari pagi, pemupukan, pemangkasan bunga sebelum layu, daun layu juga dipangkas. Siram di pagi hari, agar tanahnya lembab tapi tidak becek.
Beberapa spesies mawar yang dikenal rajin berbunga antara lain Knock Out Roses (mekar terus-menerus dan tahan penyakit), Mawar Polyantha (bunga kecil berkelompok, berbunga sepanjang tahun), Mawar Cina (berbunga berulang, kompak), dan varietas seperti 'Tahitian Sunset' (berbunga berulang) serta Kordes Jubilee dan Magie (adaptif dan rajin berbunga).
Mawar beraroma harum. Tapi tidak semua bunga mawar beraroma harum; sekitar 20% dari semua jenis mawar tidak memiliki aroma, dan varietas modern sering kali dibiakkan untuk tampilan atau daya tahan, bukan wangi, meskipun mawar liar dan mawar taman tua cenderung lebih harum. Aroma mawar bervariasi dari kuat dan manis hingga lembut, segar, atau bahkan tidak ada sama sekali aromanya, tergantung pada varietas dan faktor lingkungan.
The tools discussed in this article are used to check or trace long electrical wiring networks. Those long wires can't be traced by the continuity function on a multi-tester. Because the wires extend several meters and are passing through different rooms.
Simply by using a voltage tester, the other end of the wire can be found.
The wires being tested are all physically identical, for example: all wires have black insulation.
The circuit discussed here uses high voltage induction from a relay coil. The high induction voltage is fed to the end of a wire, the H-end in the image above. The other end is then traced using a voltage tester.
The negative terminal of the induction voltage is connected to ground (earth), so the voltage tester illuminates brightly.
This method allows one wire path can be found. Unlike a typical multi-tester, which requires two wire paths: the positive wire and the negative or neutral wire, to check continuity.
The induction voltage generated by the relay coil is relatively safe to touch. Although the voltage is high, the current is very weak, so the power is very small. It doesn't cause injury if touched, but usually only cause a shock.
These circuits are intentionally designed to be simple yet reliable and easy to operate. This avoids confusion when tracing electrical wires. Even if this tool damage, it's easily repaired due to its simple circuitry. The components are readily available and inexpensive.
All circuits are designed without transistors or integrated circuit (IC). Transistor and IC can fail when exposed to high voltage, making it confusing when tracing wires.
The voltage tester used is a standard type with a mini neon light, as it's reliable and readily available at a low price. It's not an electronic voltage tester, which is prone to damage and expensive.
Tracing electrical wires is difficult and high-risk job. Therefore, don't let complicated and confusing designs add to the difficulty.
24VDC RELAY CIRCUIT
This circuit uses only one component: a 24VDC relay, designated R in the schematic. The relay is powered by two 9V batteries, connected in series to produce a voltage of 18V.
The Common (Com) pin is connected to one of the coil pins. The positive high voltage (H) is generated from this Com pin.
The other coil pin is connected to the positive terminal of the battery.
The 24VDC relay, as shown in the photo above, has a coil resistance of approximately 1.6 kilo-ohms.
Photo of a 24VDC relay circuit.
The Normally Closed (NC) pin on the relay is connected to the negative terminal and ground. The NC pin is connected to the Com pin when the relay is not active.
To ensure the voltage tester light is bright, the negative terminal must be connected to ground, which can be connected to a nail on a concrete wall, steel frame, metal of water tap, etc.. If the negative terminal is not properly connected to ground, the voltage tester light will be dim.
Video of a 24VDC relay on YouTube.
How It Works:
When the relay coil is connected to the battery, a magnetic field is created in the active coil, as the coil is an electromagnet. The magnetic field will attract the relay switch, thereby cutting off the current from the NC pin. This will interrupt the flow of current to the coil.
The electromagnetic field formed when the coil is activated will collapse and induce current into the coil, resulting in a high voltage induction from the coil.
Because the connection between the switch and the NC pin is broken, the current of induction high voltage cannot flow: through the NC pin, through the battery, to the coil's negative terminal, or to ground.
The high-voltage current will flow through point H, through the long electrical cable being probed. It then travels to the voltage tester, the technician's body, and becomes neutral at ground.
When operating, the relay will vibrate and sound, indicating proper operation. This makes it easier to check if the device is working or faulty.
5VDC RELAY PAIR CIRCUIT
This circuit uses two 5VDC relays in series connection, R1 and R2. The circuit is also supplied with 18V.
In the first 5VDC relay (R1), one pin of the coil is connected to the positive terminal of the battery. The other pin is connected to the second relay (R2).
The 5VDC relay in the photo above has a coil resistance of approximately 125 ohms.
The photo above shows the induction voltage from two 5VDC relays, their coils connected in series, powering a voltage tester through the electric wire.
The first relay (R1) in the schematic uses only its coil; its switch is not used.
For the second 5VDC relay (R2), its pins are connected in exactly the same way as the 24VDC relay in the first circuit.
The above is YouTube video about this two relays device.
JOULE THIEF CIRCUIT
The Joule thief circuit uses a 5VDC relay. It is similar to the circuit in the previous Joule thief article, which was used to power a 3W 220VAC lamp.
The difference is that this circuit uses only the relay coil to produce high voltage.
The high-voltage supply is provided without any additional coils. This simplifies the process.
The 5VDC relay connection on this circuit is exactly the same as the 24VDC relay circuit above.
As shown in the photo above, the voltage tester lights up brightly because the circuit uses a capacitor (C) to collect current. This circuit can be powered by 9V or a single square battery.
The capacitor (C) used is 100 nanofarads and with a voltage rating 220 VAC.
If supplied with 18V, the voltage tester will light up brighter. However, this makes the circuit more complicated and increases the cost.
The diode (D) is a 1N4007; in this circuit, it prevents the high voltage induction energy accumulated in the capacitor from flowing backward, preventing the capacitor from discharging.
The above is YouTube video about this Joule Thief.
OTHER PROCEDURES:
One of the methods is to use two voltage testers, one as a feeder and the other for detection.
The feeder voltage tester is connected to the high-voltage 220 VAC power grid. This voltage tester applies a small current to the wire to be tested. Then, using another voltage tester, the end of the wire is probed.
Other method for source of induction voltage can also be used, such as a soldering iron supplied with alternating current (VAC). The metal tip of the soldering iron can generate an induction voltage to make the voltage tester glow brightly. The metal tip of the soldering iron is connected to one end of a wire. A voltage tester is used to check the other end if that wire.
However, both of these alternative methods require a high voltage source from the network, even though the wires of that network are being tested. Although this can be regulated using a system of several separated circuit breakers (MCBs), due to the high voltage and high power of the network, any error can result in a fatal accident. Furthermore, electrical wiring is often installed in difficult-to-access locations such as above ceiling, inside wall, under floor, under ground, in display case, cupboard, or large cabinet, hot, dirty and dusty, etc., making it prone to accidents.
CAUTION:
The high voltage from the induction coil, even at very low wattage, can damage sensitive electronic equipment, as it can reach voltage exceeding 220V.
Therefore, before performing the procedure with the tools mentioned above, it's best to unplug all electronic equipment, such as cell phone chargers, TVs, radios/stereos, computers, laptops, and other high-voltage sensitive devices, from the electrical network. This will prevent damage from exposure to high voltage from the coil.
The tools described here cannot work well for tracing grounded power lines, and neutral power lines.
Alat bantu yang dibahas di artikel ini digunakan untuk cek atau telusuri jaringan kabel listrik yang panjang. Yang mana tidak bisa dideteksi dengan fungsi kontinuitas pada multi tester. Karena panjangnya kabel yang terentang sejauh beberapa meter, dan juga karena berbeda ruangan.
Cukup dengan menggunakan tespen, ujung lainnya dari kabel bisa ditemukan.
Kabel yang dicek semua sama fisiknya, misal semua berwarna hitam insulatornya.
Rangkaian yang dibahas di sini, menggunakan tegangan tinggi induksi dari koil relai. Diumpankan ke ujung kabel, ujung H pada gambar di atas. Dan akan dicari ujung lainnya dengan bantuan tespen (test pen, volt tester).
Kutub negatif dari tegangan induksi dihubungkan ke tanah (bumi, ground), agar tespen menyala terang.
Dengan cara ini, satu jalur kabel bisa ditemukan. Tidak sebagaimana biasanya dengan multi tester, dibutuhkan 2 jalur kabel. Yaitu kabel positif, dan kabel negatif atau netral, untuk melakukan cek kontinuitasnya.
Tegangan induksi yang timbulkan koil cukup aman jika tersentuh tangan. Walau tegangannya tinggi, tapi arusnya lemah sekali, sehingga dayanya sangat kecil. Tidak menyebabkan cedera jika tersentuh, tapi biasanya hanya terkejut saja.
Sirkuit-sirkuit ini sengaja didesain sederhana tapi handal, dan mudah dioperasikan. Agar tidak membingungkan saat melakukan penelusuran kabel-kabel listrik. Kalaupun terjadi kerusakan pada sirkuit alat bantu ini, maka akan mudah diperbaiki karena rangkaiannya yang sederhana. Dan komponennya mudah dan murah didapat di pasaran.
Semua sirkuit didesain tanpa menggunakan transistor maupun IC. Karena transitor dan IC bisa gagal berfungsi jika terkena tegangan tinggi. Hal ini bisa membingungkan saat menelusuri kabel.
Tespen yang digunakan adalah tespen biasa dengan lampu neon mini, karena handal dan banyak tersedia di pasaran dengan harga murah. Bukan tespen elektronik yang rawan rusak dan mahal.
Pekerjaan menelusuri kabel listrik adalah pekerjaan sulit dan beresiko tinggi. Jadi jangan sampai malah alat bantunya menambah kesulitan pekerjaan, karena alat bantu yang berdesain rumit dan membingungkan.
RANGKAIAN RELAI 24VDC
Rangkaian ini hanya menggunakan satu buah komponen saja yaitu relai 24VDC, dengan kode R pada skema. Relai tersebut disuplai dengan dua buah baterai 9V, disusun serie agar tegangannya menjadi 18V.
Kaki atau pin Common (Com) dihubungkan ke salah satu kaki koil. Tegangan tinggi positif H didapat dari kaki Com ini.
Kaki koil lainnya dihubungkan ke kutub positif baterai.
Relai 24VDC sebagaimana foto di atas mempunyai resistansi koil sekitar 1,6 kilo ohm.
Foto rangkaian relai 24VDC.
Kaki Normally Closed (NC) pada relai dihubungkan ke kutub negatif dan tanah. Kaki NC pada posisi tersambung dengan Com, di saat relai tidak aktif.
Agar lampu tespen menyala terang. Kutub negatif harus dihubungkan ke tanah, bisa dihubungkan ke paku di dinding beton, rangka baja, metal keran air, dan lain-lain. Jika hubungan kutub negatif ke tanah kurang baik, maka nyala lampu tespen kurang terang.
Video relai 24VDC di Youtube.
Baca juga relai 24VDC untuk deteksi kabel dengan menggunakan fungsi Non-Contact Voltage pada multitester.
Cara Kerjanya Adalah:
Pada saat relai koil terhubung ke baterai, terjadi medan magnet pada koil yang aktif, karena koil adalah elektromagnet. Medan magnet akan menarik saklar relai, sehingga memutus arus listrik dari kaki NC. Maka arus listrik ke koil akan akan terputus.
Medan elektromagnet yang terbentuk saat koil aktif, akan runtuh dan menginduksi arus listrik ke koil. Sehingga timbul tegangan tinggi induksi pada koil.
Karena hubungan saklar dengan kaki NC sedang terputus. Maka arus listrik akibat induksi tegangan tinggi tidak bisa mengalir melalui: kaki NC, untuk melalui baterai menuju negatif koil, ataupun menuju bumi.
Arus listrik bertegangan tinggi akan mengalir melalui titik H, melewati kabel listrik panjang yang sedang ditelusuri. Selanjutnya menuju tespen, tubuh teknisi, dan menjadi netral di bumi.
Saat bekerja, relai akan bergetar dan berbunyi, sehingga bisa menjadi tanda bahwa relai sedang berfungsi baik. Hal ini memudahkan untuk memeriksa jikapun alat bantu ini rusak.
RANGKAIAN SEPASANG RELAI 5VDC
Pada rangkaian ini digunakan dua buah relai 5VDC yang disambung serie, yaitu R1 dan R2. Rangkaian ini juga disuplai dengan tegangan 18V.
Pada relai 5VDC pertama (R1), salah satu kaki koilnya terhubung dengan kutub positif baterai. Sedangkan kaki lainnya terhubung dengan relai ke dua (R2).
Relai 5VDC pada foto di atas mempunyai resistansi koil sekitar 125 ohm.
Pada foto di atas tampak tegangan induksi dari dua buah relai 5VDC yang diserie koilnya, sedang menyalakan tespen, melalui kabel listrik.
Relai pertama (R1) pada skema, hanya dipakai koilnya saja, saklarnya tidak dipakai.
Untuk relai 5VDC ke dua (R2), kaki-kakinya terhubung dengan cara sama persis dengan relai 24VDC pada rangkaian pertama.
Video YouTube tentang rangkaian dua relai ini.
RANGKAIAN JOULE THIEF
Rangkaian Joule thief menggunakan relai 5VDC. Mirip dengan rangkaian pada artikel Joule Thief sebelumnya, yang mana digunakan untuk menyalakan lampu 220VAC 3W.
Bedanya adalah pada rangkaian ini hanya menggunakan koil relai untuk menimbulkan tegangan tinggi, tanpa tambahan koil lainnya. Sehingga lebih sederhana.
Penyambungan relai 5VDC pada rangkaian ini, persis sama prinsipnya dengan rangkaian relai 24VDC di atas.
Sebagaimana foto di atas, tespen menyala terang, karena menggunakan kapasitor (C) sebagai pengumpul arus. Rangkaian ini bisa disuplai dengan tegangan 9V atau satu baterai kotak.
Kapasitor (C) yang digunakan senilai 100 nano farad dengan tegangan di atas 250 VAC.
Jika disuplai dengan 18V, maka tespen akan menyala lebih terang. Tapi tentu saja membuat rangkaian jadi lebih rumit dan menambah biaya.
Dioda (D) adalah 1N4007, pada rangkaian ini berfungsi untuk mencegah tegangan tinggi yang terkumpul di kapasitor mengalir berbalik arah. Agar kapasitor tidak kosong.
Video YouTube tentang rangkaian Joule Thief ini.
PROSEDUR LAIN:
Salah satu metodanya adalah menggunakan 2 buah tespen. Satu tespen sebagai pengumpan. Dan satu tespen lagi untuk mendeteksi.
Tespen pengumpan terhubung dengan tegangan tinggi jaringan listrik 220VAC. Tespen ini mengumpankan arus yang kecil ke kabel yang akan ditelusuri. Selanjutnya dengan tespen yang lain, ujung kabel tersebut dicari.
Bisa juga menggunakan sumber tegangan induksi lain, seperti solder yang disuplai tegangan bolak-balik VAC. Ujung metal solder dapat menghasilkan tegangan induksi untuk membuat tespen menyala terang. Ujung metal solder dihubungkan ke ujung kabel, yang akan dicari ujung lainnya.
Tapi kedua cara alternatif di atas membutuhkan sumber tegangan tinggi dari jaringan. Padahal jaringan listrik tersebut sedang diperiksa kabel-kabelnya. Walaupun bisa diatur dengan sistem beberapa MCB yang terpisah. Tapi karena adanya tegangan tinggi dengan daya besar dari jaringan listrik, jika terjadi kekhilafan, maka bisa berakibat kecelakaan fatal. Lagi pula jaringan kabel listrik biasanya dipasang di tempat-tempat yang sulit seperti: di atas plafon, di dalam dinding, di bawah lantai, di bawah tanah, di etalase / lemari / kabinet besar, dan lain-lain yang sulit diakses, panas, kotor berdebu, sehingga rawan kecelakaan.
PERHATIAN:
Tegangan tinggi dari induksi koil, walaupun berdaya sangat kecil, dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif. Karena dapat mencapai tegangan melebihi 220V.
Oleh karena itu, sebelum melaksanakan prosedur dengan alat-alat tersebut di atas, sebaiknya semua peralatan elektronik seperti: charger handphone, tv, radio tape / stereo set, komputer, laptop, dan lain-lain, yang sensitif tegangan tinggi, dilepas dari jaringan listrik. Untuk mencegah kerusakan akibat terkena tegangan tinggi dari koil.
Alat bantu yang dijelaskan di sini tidak dapat bekerja baik untuk menelusuri kabel listrik yang terhubung ke tanah, dan kabel listrik yang terhubung ke netral.
The leaf size of Calathea zebrina varies depending on the variety and growing conditions, but its leaves are typically quite large, reaching up to about 22 cm in length and 10 cm in width, as is the case with the similar Calathea louisae. In general, Calathea zebrina plants can grow to a height of 30-90 cm and a width of 30-60 cm.
See also various photos and videos of plants with high-detail intensity on Shutterstock.
• Identification: This plant has large, bright green leaves with a distinctive dark green striped pattern, resembling a zebra, making it one of the most easily recognized Calathea species.
• This plant is part of the Marantaceae family and is primarily grown for its beautiful leaves and its ability to purify indoor air.
• Characteristics: Calathea zebrina is often referred to as the "praying plant" because its leaves fold up at night.
• Care: This plant is suitable for both shade and indoor use. It is an easy-care plant, and it is important not to overwater it.
• Hydroponic propagation method: Calathea cuttings can be planted in water, but this is only temporary. Repot them in soil once healthy roots have developed for better long-term growth.
Watch for signs of root rot: If the Calathea leaves turn yellow or wilt, it could be a sign that the roots are starting to rot from overwatering. Reduce watering immediately and ensure the pot has good air circulation.
• Indoors: Calathea are a popular choice for indoor plants because they prefer indirect light and can tolerate low light conditions. They thrive in a home environment, where humidity and temperature can be adjusted to a comfortable room temperature for humans. Direct sunlight can scorch the leaves and cause their bright colors to fade.
• Outdoors: In warm, tropical climates without frost, Calathea can be grown outdoors. They should be placed in a shady location, such as a location with partially shaded or filtered sunlight. This mimics their native rainforest habitat, where sunlight is partially blocked by the leaves of taller trees.
• Myth: There is a myth that snakes like this plant, but this is simply a myth.
Calathea zebrina can be propagated by division during transplanting. This is best done in spring in countries with four seasons. To do this, gently remove the plant from the soil or pot and separate the root ball. Carefully pull or cut the root ball and stem, ensuring each new division has part of the root system and at least one set of leaves or leaf buds.
Transplant each plant division into its own container with moist, well-draining soil, then place it in an area with high humidity. The light should be bright, but not direct sunlight.
Tanaman ini adalah salah satu spesies dari genus Calathea, yang terkenal karena daunnya yang bergaris-garis dan bertekstur seperti beludru. Berasal dari Brazil.
Ukuran daun Calathea zebrina bervariasi tergantung varietas dan kondisi pertumbuhan, namun daunnya. Biasanya cukup besar, daunnya bisa mencapai panjang hingga sekitar 22 cm dan lebar 10 cm, demikian juga untuk Calathea louisae yang mirip. Secara umum, tanaman Calathea zebrina bisa tumbuh hingga tinggi 30-90 cm dengan lebar 30-60 cm.
Lihat juga berbagai foto dan video tanaman dengan detail berintensitas tinggi di Shutterstock.
• Identifikasi: Tanaman ini memiliki daun besar berwarna hijau cerah dengan pola garis-garis hijau gelap yang khas, yang menyerupai pola zebra, menjadikannya salah satu jenis Calathea yang paling mudah dikenali.
• Tanaman ini merupakan bagian dari suku Ararut-ararutan (Marantaceae) dan terutama ditanam untuk dimanfaatkan keindahan daunnya, dan kemampuannya memurnikan udara di dalam ruang.
• Karakteristik: Calathea zebrina sering disebut sebagai "praying plant" (tanaman berdoa) karena daunnya dapat melipat pada malam hari.
• Perawatan: Tanaman ini cocok untuk diletakkan di tempat teduh atau di dalam ruangan. Termasuk tanaman yang mudah dirawat, dan penting untuk tidak menyiramnya secara berlebihan.
• Metode hidroponik untuk perbanyakan: stek Calathea bisa ditanam di air, tetapi ini hanya untuk sementara. Pindahkan kembali ke tanah setelah akar yang sehat tumbuh agar tanamannya bisa tumbuh lebih baik dalam jangka panjang.
Perhatikan tanda-tanda busuk akar: Jika daun Calathea menguning atau layu, itu bisa menjadi tanda akar mulai membusuk akibat terlalu banyak air. Segera kurangi penyiraman dan pastikan pot memiliki sirkulasi udara yang baik.
• Dalam ruangan: Calathea merupakan pilihan populer untuk dalam ruangan karena mereka lebih menyukai cahaya tidak langsung dan dapat mentolerir kondisi cahaya redup. Mereka tumbuh subur di lingkungan rumah, di mana kelembapan dan suhu dapat diatur sesuai suhu ruang yang nyaman juga bagi manusia. Sinar matahari langsung dapat menghanguskan daunnya dan menyebabkan warna cerahnya memudar.
• Luar Ruangan: Di daerah beriklim tropis yang hangat dan bebas embun beku, Calathea dapat ditanam di luar ruangan. Mereka harus ditempatkan di tempat yang teduh, seperti lokasi dengan sinar matahari yang agak terhalang-halang atau tersaring. Untuk meniru habitat hutan hujan asli mereka, di mana sinar matahari agak terhalang dedaunan pohon yang lebih tinggi.
• Tanaman ini dianggap tidak beracun bagi kucing, anjing, dan manusia atau anak kecil, menjadikannya pilihan yang aman untuk rumah tangga dengan anak kecil dan yang memiliki hewan peliharaan.
• Mitos: Terdapat mitos bahwa tanaman ini disukai ular, namun hal tersebut tidak benar dan hanya sekedar mitos.
Untuk memperbanyak Calathea zebrina adalah dengan pembagian selama pemindahan. Sebaiknya dilakukan di musim semi di negara dengan 4 musim. Untuk melakukannya, keluarkan tanaman secara perlahan dari tanah atau potnya, pisahkan umbi akar. Tarik atau potong dengan hati-hati rumpun akar dan batang, pastikan setiap pembagian baru memiliki sebagian sistem akar dan setidaknya satu set daun atau tunas daun.
Pindahkan setiap bagian tanaman ke dalam wadah tersendiri dengan tanah yang lembap dan memiliki drainase yang baik, lalu letakkan di area dengan tingkat kelembapan tinggi. Cahaya harus cukup terang, tapi tidak langsung terkena panas matahari.