Tanaman ini adalah salah satu spesies dari genus Calathea, yang terkenal karena daunnya yang bergaris-garis dan bertekstur seperti beludru. Berasal dari Brazil.
Ukuran daun Calathea zebrina bervariasi tergantung varietas dan kondisi pertumbuhan, namun daunnya. Biasanya cukup besar, daunnya bisa mencapai panjang hingga sekitar 22 cm dan lebar 10 cm, demikian juga untuk Calathea louisae yang mirip. Secara umum, tanaman Calathea zebrina bisa tumbuh hingga tinggi 30-90 cm dengan lebar 30-60 cm.
Lihat juga berbagai foto dan video tanaman dengan detail berintensitas tinggi di Shutterstock.
• Identifikasi: Tanaman ini memiliki daun besar berwarna hijau cerah dengan pola garis-garis hijau gelap yang khas, yang menyerupai pola zebra, menjadikannya salah satu jenis Calathea yang paling mudah dikenali.
• Tanaman ini merupakan bagian dari suku Ararut-ararutan (Marantaceae) dan terutama ditanam untuk dimanfaatkan keindahan daunnya, dan kemampuannya memurnikan udara di dalam ruang.
• Karakteristik: Calathea zebrina sering disebut sebagai "praying plant" (tanaman berdoa) karena daunnya dapat melipat pada malam hari.
• Perawatan: Tanaman ini cocok untuk diletakkan di tempat teduh atau di dalam ruangan. Termasuk tanaman yang mudah dirawat, dan penting untuk tidak menyiramnya secara berlebihan.
• Metode hidroponik untuk perbanyakan: stek Calathea bisa ditanam di air, tetapi ini hanya untuk sementara. Pindahkan kembali ke tanah setelah akar yang sehat tumbuh agar tanamannya bisa tumbuh lebih baik dalam jangka panjang.
Perhatikan tanda-tanda busuk akar: Jika daun Calathea menguning atau layu, itu bisa menjadi tanda akar mulai membusuk akibat terlalu banyak air. Segera kurangi penyiraman dan pastikan pot memiliki sirkulasi udara yang baik.
• Dalam ruangan: Calathea merupakan pilihan populer untuk dalam ruangan karena mereka lebih menyukai cahaya tidak langsung dan dapat mentolerir kondisi cahaya redup. Mereka tumbuh subur di lingkungan rumah, di mana kelembapan dan suhu dapat diatur sesuai suhu ruang yang nyaman juga bagi manusia. Sinar matahari langsung dapat menghanguskan daunnya dan menyebabkan warna cerahnya memudar.
• Luar Ruangan: Di daerah beriklim tropis yang hangat dan bebas embun beku, Calathea dapat ditanam di luar ruangan. Mereka harus ditempatkan di tempat yang teduh, seperti lokasi dengan sinar matahari yang agak terhalang-halang atau tersaring. Untuk meniru habitat hutan hujan asli mereka, di mana sinar matahari agak terhalang dedaunan pohon yang lebih tinggi.
• Tanaman ini dianggap tidak beracun bagi kucing, anjing, dan manusia atau anak kecil, menjadikannya pilihan yang aman untuk rumah tangga dengan anak kecil dan yang memiliki hewan peliharaan.
• Mitos: Terdapat mitos bahwa tanaman ini disukai ular, namun hal tersebut tidak benar dan hanya sekedar mitos.
Untuk memperbanyak Calathea zebrina adalah dengan pembagian selama pemindahan. Sebaiknya dilakukan di musim semi di negara dengan 4 musim. Untuk melakukannya, keluarkan tanaman secara perlahan dari tanah atau potnya, pisahkan umbi akar. Tarik atau potong dengan hati-hati rumpun akar dan batang, pastikan setiap pembagian baru memiliki sebagian sistem akar dan setidaknya satu set daun atau tunas daun.
Pindahkan setiap bagian tanaman ke dalam wadah tersendiri dengan tanah yang lembap dan memiliki drainase yang baik, lalu letakkan di area dengan tingkat kelembapan tinggi. Cahaya harus cukup terang, tapi tidak langsung terkena panas matahari.
The Peace Lily, also known as Spathiphyllum, is a popular houseplant characterized by its distinctive white flower-like structure, called a spathe, surrounding a central spike (spadix), as shown in the photo above. Its leaves are glossy and dark green.
This houseplant is widespread in Central America and the northern part of the South American continent. Two species are found in the Pacific islands: one on Cocos Island (S. laeve) and one in Indonesia and the Philippines (S. commutatum).
Photo of variegated peace lily leaves; also see other high-resolution houseplant photos and videos on Shutterstock.
• Growth and Size: Peace lilies have a moderate growth rate and can reach up to 1 meter (3 feet) in height.
• Care: This plant is relatively easy to grow and thrives in indirect light, and is suitable for shade and indoors. The soil should be kept moist; it can tolerate wet soil. Rehydrate after the top third soil dries out.
• Flowers: They can bloom twice a year. If conditions are right, they can flower year-round, and the flowers can last for several weeks. They can flower indoor or in shade.
• Air Purification: Peace lilies are known for their air-purifying properties, making them ideal for reducing indoor pollution.
• Toxicity: They can cause gastrointestinal upset if ingested, so it's important to keep them away from pets and children who might chew on them.
To propagate peace lilies, divide healthy, mature plants by removing them from their pots, carefully separating the root ball and clump into smaller pieces, and repotting them in their own containers or new locations with fresh, moist soil.
The Ambarella fruit, scientifically known as Spondias dulcis, is also known as the Golden Apple or Ambarella, a tropical fruit tree with edible fruit. Spondias dulcis is a versatile tree with a variety of uses, and its fruit is a popular ingredient in many tropical dishes.
• Origin and Distribution:
This plant is native to the Indo-Malaysian region to Tahiti and has spread widely throughout the tropics.
• Fruit Characteristics:
Ambarella fruit is oval, green when young, and turns yellowish-green when ripe. The flesh is crispy with a sweet-sour flavor.
The maximum tree height can reach 15 meters.
Mini Ambarella
The photo above shows a mini ambarella already bearing fruit, with a tree about 50 cm tall. The mini ambarella is a variety of ambarella plant that is smaller than the typical ambarella, both in terms of tree height and fruit size. This plant, also known as Bangkok ambarella, has the advantage of bearing fruit quickly and being able to bear fruit all year round.
Here are some important points about mini ambarella:
Size:
Mini ambarella trees reach a maximum height of around 2-3 meters, much shorter than regular ambarella.
Fruit:
Mini ambarella fruit is oval-shaped, has a sour and slightly sweet taste, and is perfect for making rujak (fruit salad), pickles, or preserves.
Advantages:
Mini ambarella is known for being very early-growing, meaning it bears fruit quickly. Some sources state that this plant can begin bearing fruit at 1-2 years old. Furthermore, mini ambarella trees can bear fruit all year round.
Care:
Mini ambarella is relatively easy to care for, and some even say it doesn't require special fertilization to produce fruit.
Suitable for Potted Plants:
Due to its relatively small size, mini ambarella is very suitable for growing in pots (potted flowering plants). Can be propagated by cuttings or grafting.
Ambarella trees generally begin to bear fruit 1-2 years after planting, especially the mini ambarella variety. The main harvest season for ambarella in Indonesia usually occurs during the rainy season, around January to March, although some also bear fruit outside of this season.
1. Food: The fruit is edible and can be eaten raw, cooked, or used in jams and preserves. In addition to the fruit, the leaf tips of the mini ambarella can also be used as a spice to add a sour flavor to dishes.
2. Medicine: The bark, leaves, and fruit of this tree have been used in traditional medicine for various purposes.
3. Wood: The wood is sometimes used to make furniture and other wood products.
Cultivation
Spondias dulcis prefers tropical climates with high humidity and warm temperatures.
This tree can grow in a variety of soil types, but prefers moist, but not soggy, soil with good drainage.
Ambarella trees require at least 6 hours of direct sunlight daily for healthy growth and optimal fruit production.
Buah kedondong, yang memiliki nama ilmiah Spondias dulcis, juga dikenal sebagai Ambarella atau Apel Emas, yang merupakan pohon buah tropis dengan buah yang dapat dimakan. Spondias dulcis adalah pohon serbaguna dengan beragam kegunaan, dan buahnya merupakan bahan populer dalam banyak masakan tropis.
• Asal dan Penyebaran:
Tanaman ini berasal dari wilayah Indo-Malaysia hingga Tahiti dan telah tersebar luas di seluruh daerah tropis.
• Ciri-ciri Buah:
Buah kedondong berbentuk lonjong, berwarna hijau saat muda, dan akan berubah menjadi hijau kekuningan saat matang. Daging buahnya renyah dengan rasa asam-manis.
Ketinggian pohon maximal.dapat mencapai 15 meter.
Kedondong Mini
Foto di atas adalah kedondong mini yang sudah berbuah dengan tinggi pohon sekitar 50 cm. Kedondong mini adalah varietas tanaman kedondong yang memiliki ukuran lebih kecil dari kedondong pada umumnya, baik dari segi tinggi pohon maupun ukuran buahnya. Tanaman ini juga dikenal dengan sebutan kedondong bangkok, dan memiliki keunggulan yaitu cepat berbuah (genjah) serta mampu berbuah sepanjang tahun.
Berikut adalah beberapa poin penting tentang kedondong mini:
Ukuran:
Pohon kedondong mini memiliki tinggi maksimal sekitar 2-3 meter, jauh lebih pendek dibandingkan kedondong biasa.
Buah:
Buah kedondong mini berbentuk lonjong seperti telur, rasanya asam dengan sedikit manis, dan sangat cocok untuk dibuat rujak, asinan, atau manisan.
Keunggulan:
Kedondong mini dikenal sangat genjah, artinya cepat berbuah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tanaman ini sudah bisa mulai berbuah pada usia 1-2 tahun. Selain itu, pohon kedondong mini juga mampu berbuah sepanjang tahun.
Perawatan:
Perawatan kedondong mini tergolong mudah, bahkan ada yang menyebutkan tidak memerlukan pemupukan khusus untuk bisa berbuah.
Cocok untuk Tabulampot:
Karena ukurannya yang relatif kecil, kedondong mini sangat cocok ditanam dalam pot (tabulampot, tanaman bunga dalam pot). Dapat diperbanyak dengan stek atau cangkok.
Pohon kedondong umumnya mulai berbuah pada usia 1-2 tahun setelah ditanam, terutama jenis kedondong mini. Musim panen utama kedondong di Indonesia biasanya terjadi pada musim hujan, yaitu sekitar bulan Januari hingga Maret, meskipun ada juga yang berbuah di luar musim tersebut.
Daunnya menyirip, dengan 5-11 helai daun.
Lihat berbagai foto flora saya dengan kualitas tinggi di Shutterstock.
Kegunaan
1. Makanan: Buahnya dapat dimakan dan dapat dimakan mentah, dimasak, atau digunakan dalam selai dan manisan. Selain buahnya, pucuk daun kedondong mini juga bisa dimanfaatkan sebagai bumbu dapur untuk memberikan rasa asam pada masakan.
2. Obat: Kulit kayu, daun, dan buah pohon ini telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keperluan.
3. Kayu: Kayunya terkadang digunakan untuk pembuatan furnitur dan produk kayu lainnya.
Budidaya
Spondias dulcis lebih menyukai iklim tropis dengan kelembapan tinggi dan suhu hangat.
Pohon ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, tetapi lebih menyukai tanah lembab tapi tidak becek atau berdrainase baik.
Pohon kedondong membutuhkan minimal 6 jam sinar matahari langsung setiap hari untuk pertumbuhan yang sehat dan produksi buah yang optimal.
Peperomia pellucida, is also known by common names such as: pepper elder, shining bush plant, crab claw herb, silverbush, rat-ear, man-to-man, clearweed, sirih Cina (Indonesia), luchi pata (West Bengal, India). An annual shallow-rooted herb. Found in damp shaded habitats all over Asia and America. About 15 to 45 cm height.
It is often considered as weed, then uprooted and thrown away, even though it has many benefits.
This plant likes moist and shady areas and can be found in various regions of the world, including the Neotropics (Central and South America, the Caribbean, and South Florida), Africa, Southeast Asia, and Australia.
This plant can grow up to 0.4 meters high and is characterized by its leaves that are about 1-3.5 cm wide, oval or triangular-ovate, also similar to the shape of a heart, light green, succulent, and stems that are branched and hairless.
See also my various photos with high-resolution details about pepper elder and other floras on Shutterstock.
Small flowers arranged in a stalk pointing upwards without hairs 2-6 cm long. The flowers are surrounded by round protective leaves.
The dry fruit that does not break is known as a nutlet. The fruit is round and about 0.5 mm wide.
Peperomia pellucida is traditionally used in folk medicine for a variety of ailments, including inflammation, pain, and certain skin conditions.
In traditional Indonesian medicine, crushed leaves are rubbed onto the head to relieve headaches during fever. The juice of the leaves is drunk to treat stomachaches and colic. In the Philippines, the plant is applied as a poultice to abscesses and boils. In India, a decoction of the plant is drunk to stop bleeding. In Brazil it is used to lower cholesterol and treat infections.
The plant is also edible and can be consumed raw, or cooked, used in salads, or as a tea or herbal drink.
Sirih Cina dengan nama latin Peperomia pellucida, juga dikenal dengan nama umum seperti: Ketumpang Air, Tumpang Air, Tumpang Angin, Daun Babawangan, Suruhan.
Sering dianggap gulma, lalu dicabut dan dibuang, padahal banyak manfaatnya.
Sirih Cina menyukai daerah lembab dan teduh dan dapat ditemukan di berbagai wilayah di dunia, termasuk Neotropik (Amerika Tengah dan Selatan, Karibia, dan Florida Selatan), Afrika, Asia Tenggara, dan Australia.
Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 0,4 meter dan ditandai dengan daunnya yang selebar sekitar 1- 3,5 cm, berbentuk bulat telur atau segitiga bulat telur, mirip juga bentuk hati, berwarna hijau muda, sukulen, dan batang yang bercabang dan tidak berbulu.
Lihat juga berbagai foto saya dengan detail resolusi tinggi tentang Sirih Cina dan flora lainnya di Shutterstock.
Berbunga-bunga kecil tersusun berjarak dalam setangkai mengarah ke atas tanpa bulu sepanjang 2-6 cm. Bunga-bunga tersebut dikelilingi oleh daun pelindung berbentuk bulat.
Buahnya kering yang tidak pecah dikenal sebagai nutlet. Buah ini berbentuk bulat dan lebarnya sekitar 0,5 mm.
Peperomia pellucida secara tradisional digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit, termasuk peradangan, nyeri, dan kondisi kulit tertentu.
Dalam pengobatan tradisional Indonesia, daun yang diremas dioleskan ke kepala untuk meredakan sakit kepala saat demam. Air perasan daunnya diminum untuk mengatasi sakit perut dan kolik. Di Filipina, tanaman ini dioleskan sebagai tapal untuk abses dan bisul. Di India, rebusan tanaman diminum untuk menghentikan pendarahan. Di Brasil digunakan untuk menurunkan kolesterol dan mengobati infeksi.
Tanaman ini juga dapat dimakan dan dapat dikonsumsi mentah, atau dimasak, digunakan dalam salad atau lalap, juga bisa sebagai teh atau jamu.
Plumeria rubra or Plumeria alba, also known as Frangipani. These flowers are characterized by five petals that are tightly pressed together at the base, creating a spiral effect in the center.
Frangipani are known for their fragrant flowers, which appear from early summer through fall. The scent is often described as sweet and quite strong, making it a popular choice for gardens and floral arrangements.
In various cultures, Plumeria has symbolic meaning. In Bali, this flower is used in prayer activities. In Hawaii, this flower is a popular flower for bouquets. This flower is also the national flower of Laos and Nicaragua.
Photo of red frangipani tree with yellow frangipani background. See also my detailed high-resolution photos of frangipani and other floras on Shutterstock.
Frangipani trees are relatively small, usually growing 15 to 25 feet tall, about 5 to 8 meters, with a shape like a vase or umbrella. This tree grows well in warm climates in tropical areas. The leaves are long, rough, and grow in clusters at the ends of branches. Although generally sturdy, the branches are somewhat brittle and contain a milky sap that can irritate the skin.
Frangipani is usually propagated by cuttings, because it grows faster. It can also be planted from seed.
Take branch cuttings from pruned tree branches and plant them. Select cuttings that are at least 50 cm long, with a stem diameter of over 4 cm and a hardened texture for optimal results.
The stem is planted about 10 cm deep in the ground.
Usually yellow Frangipani grows roots more easily. The stem can be dipped into a container of water mixed with soil, or muddy soil. Without worrying that the stem will rot.
Red Frangipani is usually more susceptible to stem and root rot in muddy soil. Some experts recommend that red Frangipani stem cuttings be left for 4-7 days in a dry, dark place. Until the scar is covered with callus. Then planted in moist, but not muddy soil.
Remove the older leaves from the lower part of the stem cuttings, leaving about 30-50% of the younger leaves intact. Also, cut off any flower stems to direct the cutting's energy towards root growth. Excessive leaves can lead to increased transpiration, causing the stem to wilt and potentially rot. Older leaves near the bottom are more prone to rot, which can spread to the rest of the stem.
After establishing a strong root system, this tree prefers full sun exposure throughout the day, which will encourage abundant flowering.
Plumeria milk sap contains compounds that can inhibit termite metabolism and act as a repellent, so termites will not attack plants.
Frangipani are susceptible to pests such as whiteflies, mealybugs, and spider mites. These pests can be controlled with appropriate pest control methods such as soapy water, insecticides. Soapy water is sprayed on to mealy bugs infested leaves, sometimes it needs to be brushed too.
This tree is included in the deciduous group. In horticulture and botany, the term "deciduous" means "shedding when mature" and "tending to shed", referring to trees and shrubs that shed their leaves seasonally, usually in the fall, dropping their petals, after flowering, and dropping their ripe fruit. Therefore, the surrounding area should be swept up frequently to remove fallen leaves and flowers.
The fragrant scent of frangipani flowers is believed to have a calming and relaxing effect in aromatherapy, and it is used in perfumes and other personal care products. The scent is also used in bouquets and flower arrangements, adding a touch and cultural meaning.
The fragrant scent of the flowers is also believed to repel mosquitoes.
Frangipani can be considered an easy plant to grow. It thrives with easy care. It can live in shade, but will flower diligently in a place with full sun, in warm temperatures. The soil should be well-drained, moist but not soggy or water-logged.
The Sansevieria plant, now botanically classified in the genus Dracaena, is a popular and hardy houseplant native to tropical Africa, particularly Madagascar, and South Asia. It includes about 70 or more species, many of which were historically contained within the genus Sansevieria.
In the photo above, shoots are seen growing among mature plants with yellow edges. The ground is covered with white coral rocks (pebbles) and paving blocks.
See also my high-resolution Sansevieria and other photos and videos of flora and fauna at Shutterstock.
Some other names include snake plant, mother-in-law's tongue, sword plant, or bow string hemp. Here's a rundown of what makes Sansevieria so popular:
Appearance:
* This is an evergreen perennial characterized by its stiff, upright, often sword-shaped leaves.
* Leaf shape, color, and size vary greatly between different species and cultivars. Some have flat, broad leaves, while others have cylindrical, spear-like leaves.
* Leaf color ranges from dark green to silvery gray, often showing variegation in the form of bands, stripes, or edges of light green, yellow, or white.
* Some varieties, such as the Bird's Nest Sansevieria (Dracaena trifasciata 'Hahnii'), have shorter leaves that grow in a rosette, a circular arrangement of leaves or of structures resembling leaves.
Sansevieria or mother-in-law's tongue can be propagated vegetatively by leaf cuttings, shoots, or plant division.
Care:
* Easy Care: Sansevieria are known for their hardiness, low maintenance. Their leaves are long-lived, rarely wilt and fall off, and are low-littering, making them suitable for beginners or busy people.
* Light: They thrive in bright, indirect light, but can adapt to low light conditions. However, growth may be slower and the variegation less visible in low light. Avoid the heat of direct sunlight during the day, which can burn the leaves.
* Watering: Although fairly tolerant of flooding, overwatering over a long period of time can rot the roots. Allow the soil to dry out completely between waterings; there is no need to water it every day. Ensure good drainage to prevent root blockage.
* Soil: They prefer well-draining soil, such as a potting mix for cacti or succulents.
* Temperature: An average room temperature between 60-85°F (16-29°C) is ideal.
* Humidity: Sansevieria prefers low humidity levels. Avoid misting them or keeping them in very humid environments.
* Fertilizing: They do not require much fertilizer.
Benefits:
* Air Purifier: Sansevieria are renowned for their ability to filter indoor air, removing toxins such as formaldehyde, benzene, xylene, toluene, and trichloroethylene. In particular, they can convert carbon dioxide into oxygen even at night.
* Low Maintenance: Their hardiness and minimal care requirements make them a great choice for many.
* Better sleep quality: By releasing oxygen at night, they can contribute to a healthier bedroom environment.
* Aesthetic appeal: With their varied shapes and striking foliage, they can add a touch of modern flair, fitting into any space.
* Adaptability: They can tolerate a wide range of indoor conditions.
Varieties:
There are many different varieties of Sansevieria, each with unique characteristics. Some popular examples include:
* Dracaena trifasciata 'Laurentii': Tall, sword-like leaves with yellow edges, as in the photo above, and the top photo.
* Dracaena trifasciata 'Zeylanica': Similar to Laurentii but without the yellow edges.
* Dracaena angolensis 'Starfish' (formerly Sansevieria cylindrica): Round, lance-like leaves that spread out, as seen in the photo above.
* Dracaena masoniana: Known as the Whalefin Snake Plant, it has single, broad leaves.
* Dracaena trifasciata 'Hahnii': A compact, bird's nest-shaped variety.
Toxicity:
Sansevieria plants are slightly toxic if ingested due to the presence of saponins. It is best to keep this plant out of the reach of curious pets and small children.
Conclusion:
Sansevieria are stylish, adaptable, and useful houseplants that are easy to care for and not fussy. They can purify indoor air, increasing oxygen levels. They are a popular choice for both experienced and novice plant enthusiasts. If they are of good quality, winning contests, their prices can skyrocket.
Tanaman Sansevieria, yang sekarang secara botani diklasifikasikan dalam genus Dracaena, adalah tanaman hias populer dan tangguh yang berasal dari daerah tropis Afrika, khususnya Madagaskar, dan Asia Selatan. Tanaman ini mencakup sekitar 70 spesies atau lebih, yang banyak di antaranya secara historis dikelompokkan dalam genus Sansevieria.
Pada foto di atas tampak tunasnya tumbuh di antara tanaman dewasa yang bertepi kuning. Tanah ditutup batu koral putih dan paving block.
Lihat juga foto dan video saya tentang flora fauna resolusi tinggi di Shutterstock.
Beberapa nama lainnya, seperti tanaman ular beludak, lidah mertua, pedang-pedangan, atau rami tali busur. Berikut ini adalah uraian tentang apa yang membuat Sansevieria begitu terkenal:
Penampilan:
* Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang selalu hijau yang ditandai dengan daunnya yang kaku, tegak, dan sering kali berbentuk pedang.
* Bentuk, warna, dan ukuran daun sangat bervariasi di antara spesies dan kultivar yang berbeda. Beberapa memiliki daun yang datar dan lebar, sementara yang lain memiliki dedaunan silindris seperti tombak.
* Warna daun berkisar dari hijau tua hingga abu-abu keperakan, sering kali menampilkan variegasi dalam bentuk pita, garis, atau tepi berwarna hijau muda, kuning, atau putih.
* Beberapa varietas, seperti Bird's Nest Sansevieria (Dracaena trifasciata 'Hahnii'), memiliki daun yang lebih pendek yang tumbuh dalam bentuk roset, susunan daun yang melingkar.
Sansevieria atau lidah mertua dapat diperbanyak secara vegetatif dengan cara stek daun, tunas, atau pembagian tanaman.
Perawatan:
* Perawatan Mudah: Sansevieria terkenal karena ketahanannya, rendah perawatan. Daunnya berumur panjang, jarang layu dan rontok, sedikit bersampah, sehingga cocok untuk pemula atau orang yang sibuk.
* Cahaya: Mereka tumbuh subur dalam cahaya terang dan tidak langsung, tetapi dapat beradaptasi dengan kondisi cahaya redup. Namun, pertumbuhan mungkin lebih lambat dan variegasi kurang terlihat dalam cahaya redup. Hindari panas sinar matahari langsung di siang hari, yang dapat membakar daun.
* Penyiraman: Walaupun cukup tahan kebanjiran, penyiraman berlebihan dalam jangka panjang dapat membusukkan akar. Biarkan tanah mengering sepenuhnya di antara penyiraman, tidak perlu disiram setiap hari. Pastikan drainase yang baik untuk mencegah pembusukan akar.
* Tanah: Mereka lebih menyukai tanah yang memiliki drainase yang baik, seperti tanah campuran untuk pot kaktus atau sukulen.
* Suhu: temperatur ruangan rata-rata antara 16-29°C (60-85°F) adalah yang ideal.
* Kelembapan: Sansevieria lebih menyukai tingkat kelembapan yang rendah. Hindari menyemprotnya atau menaruhnya di lingkungan yang sangat lembap.
* Pemupukan: tidak membutuhkan banyak pupuk.
Manfaat:
* Pemurnian udara: Sansevieria terkenal karena kemampuannya menyaring udara dalam ruangan, membuang racun seperti formaldehida, benzena, xilena, toluena, dan trikloroetilen. Khususnya, mereka dapat mengubah karbon dioksida menjadi oksigen bahkan di malam hari.
* Perawatan rendah: Ketahanannya dan kebutuhan perawatan yang minimal menjadikannya pilihan yang tepat bagi banyak orang.
* Kualitas tidur yang lebih baik: Dengan melepaskan oksigen di malam hari, mereka dapat berkontribusi pada lingkungan kamar tidur yang lebih sehat.
* Daya tarik estetika: Dengan bentuknya yang beragam dan dedaunan yang mencolok, mereka dapat menambahkan sentuhan keanggunan modern, cocok di berbagai ruang mana pun.
* Kemampuan beradaptasi: Mereka dapat mentoleransi berbagai kondisi dalam ruangan.
Varietas:
Terdapat beragam varietas Sansevieria, masing-masing dengan karakteristik unik. Beberapa contoh yang populer meliputi:
* Dracaena trifasciata 'Laurentii': Daun tinggi seperti pedang dengan tepi kuning, seperti pada foto di atas, dan foto paling atas.
* Dracaena trifasciata 'Zeylanica': Mirip dengan Laurentii tetapi tanpa tepi kuning.
* Dracaena angolensis 'Starfish' (sebelumnya Sansevieria cylindrica): Daun bundar seperti tombak yang menyebar, tampak pada foto di atas.
* Dracaena hanningtonii 'Fernwood Mikado': Daun ramping, melengkung, dan silindris.
* Dracaena masoniana: Dikenal sebagai Tanaman Ular Sirip Paus, yang memiliki daun tunggal dan lebar.
* Dracaena trifasciata 'Hahnii': Varietas kompak berbentuk sarang burung.
Toksisitas:
* Tanaman Sansevieria sedikit beracun jika tertelan karena adanya saponin. Sebaiknya jauhkan tanaman ini dari jangkauan hewan peliharaan dan anak kecil yang penasaran.
Kesimpulan:
Sansevieria adalah tanaman hias yang bergaya, mudah beradaptasi, dan bermanfaat, serta mudah dirawat, tidak rewel. Dapat membersihkan udara dalam ruangan, menambah kadar oksigen. Tanaman ini menjadi pilihan populer bagi penggemar tanaman berpengalaman maupun pemula. Jika berkualitas bagus, menang kontes, harganya bisa melambung tinggi.
Belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn) atau belimbing sayur adalah pohon buah tropis yang berasal dari Asia Tenggara, diperkirakan berasal dari Maluku, Indonesia.
Shutterstock foto belimbing resolusi tinggi dan foto-foto saya lainnya.
Ciri-ciri
1. Pohon: belimbing wuluh adalah pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh hingga setinggi 10 meter (33 kaki).
2. Daun: daunnya berseling, tunggal, dan memiliki rasa asam.
3. Buah: buahnya kecil, hijau, dan berbentuk silinder, menyerupai mentimun kecil. Panjangnya sekitar 4-6 cm (1,5-2,5 inci) dan lebarnya 1-2 cm (0,5-1 inci).
4. Rasa: buahnya memiliki rasa asam dan sedikit manis, sering digunakan dalam masakan dan sebagai bumbu.
Kegunaan
1. Kuliner: buah belimbing wuluh digunakan dalam berbagai hidangan, seperti kari, sup, dan salad.
2. Obat: buah, daun, dan akarnya digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk demam, rematik, dan masalah pencernaan.
3. Kosmetik: ekstrak buahnya terkadang digunakan dalam produk perawatan kulit karena sifat antioksidan dan antiradangnya.
Nilai Gizi
Buah belimbing wuluh kaya akan:
1. Vitamin C: penting untuk fungsi kekebalan tubuh dan produksi kolagen.
2. Antioksidan: membantu melindungi dari stres oksidatif dan peradangan.
3. Flavonoid: senyawa tanaman dengan sifat antiradang dan antimikroba.
4. Mineral: seperti kalium, magnesium, dan zat besi.
Budidaya
Pohon belimbing wuluh cocok dengan kondisi:
1. Iklim tropis: Suhu hangat antara 20-30°C (68-86°F).
2. Tanah yang lembab tetapi tidak tergenang air.
3. Cahaya matahari sekitar 50%, bisa di tempat agak teduh.
Secara keseluruhan, belimbing wuluh dapat ditanam di halaman rumah, buahnya serbaguna dan bergizi dengan berbagai kegunaan, mulai dari memasak hingga pengobatan tradisional dan kosmetik.
Pohon belimbing wuluh biasanya mulai berbuah setelah berumur 3-4 tahun setelah ditanam, dan dapat berbuah sepanjang tahun dengan panen terberat terjadi 3 kali dalam setahun.
Mengonsumsi belimbing wuluh dengan madu dan air hangat saat perut kosong di pagi hari merupakan praktik tradisional di beberapa budaya Asia, khususnya di Malaysia dan Indonesia. Berikut ini adalah rincian manfaat potensialnya:
Manfaat
1. Kesehatan pencernaan: rasa asam belimbing wuluh dapat membantu merangsang enzim pencernaan dan meningkatkan pencernaan.
2. Detoksifikasi: beberapa orang percaya bahwa sifat antioksidan dan antiperadangan belimbing wuluh dapat membantu mengeluarkan racun dari tubuh.
3. Meningkatkan kekebalan tubuh: kandungan vitamin C dalam belimbing wuluh dapat membantu mendukung fungsi kekebalan tubuh.
4. Membuat tubuh menjadi basa: madu memiliki sifat antimikroba, dan air hangat dapat membantu menghidrasi kembali tubuh setelah berpuasa semalaman.
Manfaat belimbing wuluh secara lebih rinci:
• Mengontrol tekanan darah
• Menurunkan demam
• Mengatasi hipertensi
• Mengatasi diabetes
• Menghambat pertumbuhan bakteri
• Mengatasi jerawat, bintik hitam, bekas luka, dan noda
• Mengurangi pembengkakan
• Melancarkan buang air besar
• Menjaga berat badan ideal
• Menyehatkan syaraf
Belimbing wuluh, meskipun kaya manfaat, juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan, terutama bagi penderita gangguan ginjal. Efek sampingnya meliputi pembentukan batu ginjal, keracunan, dan gangguan neurologis akibat kandungan oksalat dan neurotoksin.
Tindakan pencegahan
1. Reaksi alergi: jika Anda alergi terhadap belimbing wuluh atau madu, hindari mengonsumsi campuran ini.
2. Kontrol gula darah: madu mengandung gula yang tinggi, jadi penderita diabetes atau masalah gula darah harus memantau asupannya.
3. Kehamilan dan menyusui: seperti halnya makanan atau suplemen baru lainnya, konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi campuran ini, terutama jika Anda sedang hamil atau menyusui.
4. Interaksi dengan obat-obatan: jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan, konsultasikan dengan dokter untuk memastikan campuran ini tidak akan berinteraksi dengan obat-obatan Anda.
Petunjuk
1. Pilih belimbing wuluh segar: pilih buah belimbing wuluh segar dan hijau.
2. Siapkan campuran: iris belimbing wuluh tipis-tipis, campur dengan sesendok madu, dan tambahkan air hangat.
3. Konsumsi secukupnya: mulailah dengan jumlah sedikit (sekitar 1 sendok teh belimbing wuluh) dan sesuaikan dengan selera.
Bisa juga dengan belimbing yang diolesi madu terlebih dulu, lalu dimakan. Dan kemudian minum air hangat. Rasanya asam manis agak mirip rasa jeruk lemon.
Ingat, meskipun campuran ini mungkin menawarkan manfaat kesehatan yang potensial, penting untuk menjaga pola makan yang seimbang dan berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki masalah kesehatan tertentu.
Mencegah Kulit Kaki Kering dan Retak
Belimbing wuluh bisa membantu mencegah kulit kaki pecah-pecah karena kandungan vitamin C, asam oksalat, dan vitamin A yang dimilikinya. Nutrisi ini berperan dalam menjaga kesehatan kulit dan melindunginya dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, belimbing wuluh juga memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu mencegah infeksi pada kulit yang pecah.
Bersihkan kaki terlebih dahulu. Iris belimbing wuluh, lalu dioleskan ke kulit kaki terutama di bagian kulit yang retak atau pecah. Pastikan airnya membasahi kulit kaki yang retak. Diamkan sekitar 30 menit, lalu kaki dibilas, sebaiknya dengan air hangat. Bisa dilakukan sekali sehari.
Bisa juga dioleskan di sekitar kuku kaki. Berguna untuk melenturkan kulit di sekitar kuku kaki. Mencegah luka dan infeksi (cantengan) karena kulit tertusuk atau tergores kuku kaki.
Jika muncul iritasi atau reaksi alergi, segera hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan dokter.
Dari pengalaman saya, kulit kaki akan membaik signifikan sekitar 1 sampai 2 minggu. Tidak ada lagi kulit kaki yang kering dan retak.
The custard apple (Annona squamosa) is a small tree that produces sweet, heart-shaped fruit with green, knobbly skin and creamy white flesh. It is native to tropical America but is now cultivated in many parts of the world.
Plantation
Custard apple plantations are usually located in warm, tropical climates with well-drained soil. The tree is usually propagated from seed or by grafting.
The tree grows relatively quickly and can begin producing fruit within 3-5 years. A tree about 2 meters tall can already produce a lot of fruit. Because the tree is not too big, it can be planted in the home yard.
Planting
Custard apple trees need full sunlight, or at least 6 hours per day, and regular watering, especially during the dry season.
The tree in my yard was infested with mealybugs on the fruit. Fortunately, the fruit was only about 1.5 meters from the ground. So the mealybugs were easy to clean with a brush and water with a little detergent soap.
Harvesting
Custard apple is harvested when it is fully ripe but still somewhat hard. The fruit is usually picked by hand to avoid bruising the soft fruit.
If it is soft already, it will usually rot quickly. This is an obstacle to its distribution.
The fruit season is in January-March and September-November. It is a seasonal fruit that can be harvested twice a year. Some articles state that it can be harvested all year round.
YouTube video of harvesting custard apple fruit in the home yard.
Utilization
Custard apple is eaten fresh or processed into desserts, jams, and juices. This fruit is a good source of vitamins C and B, as well as fiber and antioxidants.
In Southeast Asia custard apple is called srikaya. And there is a popular Serikaya jam that is generally sold in Southeast Asia, but this jam is not made from srikaya (custard apple) fruit. Instead, it is made from coconut milk, egg and sugar. Only the name is about similar.
Economy
Custard apple cultivation is an important source of income for many farmers in tropical countries. This fruit is also exported to various parts of the world, where it is considered a delicacy. The taste and texture are somewhat similar to Soursop fruit. But custard apple is much smaller in size.
Srikaya (Annona squamosa) adalah pohon kecil yang menghasilkan buah manis berbentuk hati dengan kulit hijau berbonggol dan daging buah berwarna putih krem. Tanaman ini berasal dari daerah tropis Amerika tetapi sekarang dibudidayakan di banyak bagian dunia.
Perkebunan
Perkebunan srikaya biasanya terletak di daerah beriklim tropis yang hangat dengan tanah yang dikeringkan dengan baik. Pohon ini biasanya diperbanyak dari biji atau dengan mencangkok.
Pohon ini tumbuh relatif cepat dan dapat mulai menghasilkan buah dalam waktu 3-5 tahun. Dengan tinggi pohon sekitar 2 meter sudah bisa berbuah banyak. Karena pohonnya tidak terlalu besar, maka bisa ditanam di halaman rumah.
Penanaman
Pohon srikaya membutuhkan sinar matahari penuh, atau minimal 6 jam per hari, dan penyiraman secara teratur, terutama selama musim kemarau.
Pada pohon di halaman saya, terkena hama kutu putih pada buahnya. Untungnya posisi buah hanya sekitar 1,5 meter dari tanah. Sehingga kutu putih mudah dibersihkan dengan kuas dan air dengan sedikit sabun deterjen.
Pemanenan
Srikaya dipanen saat sudah matang sepenuhnya tetapi masih agak keras. Pohon ini biasanya dipetik dengan tangan untuk menghindari memar pada buah yang lembut.
Jika sudah lunak biasanya akan cepat membusuk. Hal ini merupakan kendala pada distribusinya.
Musim buah srikaya adalah pada bulan Januari-Maret dan September-November. Srikaya merupakan buah musiman yang dapat dipanen dua kali dalam satu tahun. Beberapa tulisan menyatakan Srikaya bisa berbuah sepanjang tahun.
Video YouTube panen buah Srikaya di halaman rumah.
Pemanfaatan
Srikaya dimakan segar atau diolah untuk dijadikan makanan penutup, selai, dan jus. Pohon ini merupakan sumber vitamin C dan B yang baik, serta serat dan antioksidan.
Akan tetapi selai serikaya yang umumnya beredar di pasaran di Asia Tenggara, bukan terbuat dari buah Srikaya. Melainkan terbuat dari santan, telur dan gula. Hanya namanya saja yang mirip.
Ekonomi
Budidaya srikaya merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak petani di negara tropis. Buah ini juga diekspor ke berbagai belahan dunia, di mana buah ini dianggap sebagai makanan lezat. Rasa dan textur agak mirip dengan buah Sirsak. Tapi Srikaya jauh lebih kecil ukurannya.
Si pengurai yang beracun tapi banyak manfaatnya. Kaki seribu berbintik kuning, juga dikenal sebagai ulat gagak, luing, luwing, atau keluwing, Bahasa Inggris : yellow-dotted milipede, yellow-spotted millipede, almond-scented millipede, cyanide millipede.
Orthomorpha coarctata adalah spesies kaki seribu yang termasuk dalam famili Paradoxosomatidae. Berikut ini beberapa fakta penting tentang spesies ini:
Ciri-ciri Fisik
1. Bentuk tubuh: Panjang, ramping, dan silindris, mirip kelabang, juga mirip lipan.
2. Warna: Cokelat tua atau hitam dengan bintik-bintik atau titik-titik kuning atau jingga terang di sepanjang punggung.
3. Ukuran: Panjangnya biasanya sekitar 3-5 cm (1,2-2 inci).
Habitat dan Distribusi
1. Daerah asli: Asia Tenggara, termasuk negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
2. Habitat: Ditemukan di lingkungan yang lembap, seperti hutan tropis, padang rumput, dan daerah pertanian.
Perilaku dan Ekologi
1. Makanan: Detritivor, memakan bahan tanaman yang membusuk, jamur, dan bakteri.
2. Perilaku menggali: Kaki seribu seperti Orthomorpha coarctata diketahui menggali tanah dan serasah daun, membantu memecah bahan organik dan mendaur ulang nutrisi. Tapi lubangnya dangkal sekitar 1-2 cm saja, tidak sedalam lubang cacing. Beberapa tulisan menyebut lubang kaki seribu pada tanah mencapai kedalaman 30 cm mengikuti akar kayu yang busuk. Sedangkan lubang cacing tanah dapat mencapai kedalaman 2 meter dari permukaan tanah.
Reproduksi dan Siklus Hidup
1. Perkawinan: Kaki seribu jantan melakukan ritual pacaran yang rumit untuk menarik perhatian kaki seribu betina.
2. Telur: Kaki seribu betina bertelur di lokasi yang terlindungi, yang menetas menjadi larva tanpa kaki setelah beberapa minggu.
3. Pergantian kulit: Kaki seribu muda mengalami beberapa kali pergantian kulit saat mereka tumbuh, akhirnya mencapai usia dewasa setelah beberapa bulan.
Fakta Menarik
1. Nama unik: Nama spesies "coarctata" berasal dari kata Latin "coarctare," yang berarti "menekan bersama," yang kemungkinan merujuk pada bentuk tubuh kaki seribu.
2. Peran ekologis yang penting: Sebagai detritivor, Orthomorpha coarctata membantu memecah bahan organik, mendaur ulang nutrisi, dan berkontribusi terhadap kesehatan tanah.
Orthomorpha coarctata, seperti banyak lipan lainnya, memiliki mekanisme pertahanan yang melibatkan pelepasan zat kimia untuk mencegah predator. Zat kimia ini dapat beracun bagi beberapa hewan, tetapi tingkat toksisitasnya bervariasi tergantung pada spesies dan zat kimia spesifik yang dilepaskan.
Tingkat toksisitas:
Orthomorpha coarctata dianggap agak beracun. Sekresi pertahanannya mengandung zat kimia racun yang mengandung berbagai bahan kimia berbahaya, seperti asam klorida, hidrogen sianida, asam organik, fenol, kresol, benzokuinon, dan hidrokuinon, yang dapat menyebabkan:
1. Iritasi: Iritasi kulit dan mata pada manusia, terutama jika ditangani secara sembarangan.
2. Reaksi alergi: Beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi, seperti gatal, kemerahan, atau bengkak, setelah terpapar sekresi lipan.
Tindakan pencegahan:
Jika Anda perlu menangani Orthomorpha coarctata atau lipan lainnya, lakukan tindakan pencegahan berikut:
1. Kenakan sarung tangan: Lindungi kulit Anda dari potensi iritasi.
2. Hindari menyentuh mata: Cuci tangan Anda sampai bersih setelah memegang kaki seribu.
3. Jauhkan dari hewan peliharaan: Sekresi kaki seribu dapat menjadi racun bagi hewan peliharaan, terutama jika tertelan.
Catatan penting:
Meskipun Orthomorpha coarctata sedikit beracun, namun biasanya tidak mengancam jiwa manusia. Jika Anda mengalami gejala atau masalah serius setelah terpapar, segera cari pertolongan medis.
Untuk wilayah: Amerika Utara bagian Barat, dari British Columbia hingga California. Dengan bentuk rubuh agak pipih bukan silindris dikenal sebagai Harpaphe haydeniana.
Ada laporan yang menyebut mereka menyerang cacing tanah. Sebenarnya kaki seribu ini lebih suka di atas tanah. Sedangkan cacing tanah habitatnya di dalam tanah. Mungkin jika cacing tanah keluar ke permukaan, maka akan diserang kaki seribu.
Kaki seribu umumnya, termasuk kaki seribu berbintik kuning, memiliki penglihatan terbatas atau buta. Berikut penjelasannya:
- Mata sederhana: Kaki seribu memiliki mata sederhana, yang juga dikenal sebagai oselus, yang dapat mendeteksi terang dan gelap tetapi tidak dapat membentuk gambar.
- Tidak memiliki mata majemuk: Tidak seperti serangga, kaki seribu tidak memiliki mata majemuk, yang terdiri dari banyak lensa dan dapat mendeteksi gerakan dan detail.
- Penglihatan buruk: Kaki seribu lebih mengandalkan indra peraba dan penciuman untuk menjelajahi lingkungannya.
Meskipun penglihatannya terbatas, kaki seribu dapat:
- Mendeteksi getaran: Kaki seribu dapat merasakan getaran di tanah, membantu mereka mendeteksi potensi ancaman atau mangsa.
- Mengikuti jejak kimia: Kaki seribu menggunakan antena mereka untuk mendeteksi isyarat kimia, seperti feromon, untuk menemukan makanan, pasangan, atau tempat berlindung.
Jadi, meskipun kaki seribu mungkin tidak memiliki penglihatan yang tajam, mereka telah mengembangkan indra lain untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Kebun Binatang Sand Diego, kaki seribu dapat merasakan dengan kakinya, beserta antenanya. Kaki seribu memiliki rambut peraba pada tungkai dan antenanya yang berfungsi sebagai reseptor sensorik, yang memungkinkan mereka mendeteksi sentuhan dan getaran. Mereka juga dapat menggunakan kakinya untuk merasakan tanah dan menavigasi. Mereka mungkin juga dapat berkomunikasi melalui aroma.
Penerapan Pada Semai Tanaman
Karena dapat mengeluarkan racun dan aromanya, bentuk serta warna yang mencolok sebagai peringatan, maka tidak banyak predatornya. Hewan lain cenderung menghindar.
Video YouTube kaki seribu terjebak di dalam pot.
Video resolusi tinggi saya tentang kaki seribu di shutterstock.
Oleh karena itu saya gunakan untuk memproteksi bibit cabai rawit merah yang sedang bersemai. Kaki seribu tidak memakan tanaman yang masih hidup. Hama tanaman seperti ulat, semut, kutu kebul (kutu putih), siput, belalang, lalat, cicak, dan lain-lain, akan menjauh. Karena aroma racunnya, kucing, anjing, dan tikus juga menjauh. Saya belum tahu reaksi tupai, kelinci dan marmut, dan herbivora lainnya yang mengganggu atau hama yang memakan tanaman.
Bentuk pot dengan bibir yang mempunyai bagian horizontal yang tebal dan lebar sekitar 5 milimeter, mencegah kaki seribu keluar dari pot. Kaki seribu bisa berjalan di dinding vertikal. Walaupun kakinya sangat banyak, kaki seribu tidak bisa berjalan di sisi bawah dinding horizontal, seperti plafon atau langit-langit.
Bintik-bintik kuning pada kaki seribu ini, membuatnya tampak bagus sebagai hiasan di pot tanaman. Bintik-bintik kuning tersebut terlihat kontras dengan warna tanah, dan terlihat bergerak-gerak.
Disebut golongan detritivora karena kaki seribu adalah organisme yang menguraikan dan memakan bahan organik yang mati dan membusuk, mendaur ulangnya kembali ke ekosistem sebagai energi dan nutrisi sehingga dapat diserap kembali oleh produsen primer (tumbuhan, fitoplankton, sianobakteri samudra). Maka keberadaan kaki seribu pada pot, dapat membantu penguraian zat organik sehingga menghasilkan pupuk kompos bagi cabai rawit merah yang sedang bersemai di dalam pot tersebut.
Bekas botol atau galon air mineral dapat digunakan sebagai penutup pot, agar kaki seribu tidak bisa keluar. Pada foto di atas terlihat botol Le Minerale dipotong dan bagian atasnya atau kerucutnya digunakan untuk menutup pot. Penutup juga mencegah hama menyerang tanaman. Pastikan bibir pot rapat dengan bagian dalam kerucut dari botol air mineral.
Foto di atas adalah bekas botol air mineral yang dipotong bagian atasnya dan dijadikan pot tanaman. Bagian atas pot agak mengerucut ke dalam, sehingga mencegah kaki seribu keluar dari pot.
Jika Anda merasa terganggu dengan kehadiran kaki seribu, maka cegah atau hindari tempat-tempat lembab. Bisa dengan menempatkan silika gel pada lemari, penyerap lembab (seperyi: Bagus Serap Air, Dahlia Serap Lembab, Swallow Serap Air, AZKO), dehumidifier (seperti Deerma, Drytech, Kris), dan lain-lain. Jika memang perlu, pembasmi serangga umumnya cukup ampuh terhadap kaki seribu.
Pisang tanduk nama latinnya Musa paradisiaca. Pohon pisang tanduk mempunyai tinggi batang 2,5–3 meter. Termasuk tinggi, jika dibanding pisang lainnya. Sehingga daunnya sering terbelah atau sobek karena tertiup angin.
Dari panen ini, satu tandan pisang mempunyai dua sisir. Setiap satu sisir terdiri dari 9 buah pisang. Sehingga total ada 18 buah pisang. Panjang buah pisang mencapai 30 cm.
Pada awalnya bunga pisang mencuat ke atas. Tampak seperti bakal daun tapi lebih pendek.
Bunga pisang tampak mirip dengan tangkai daun. Bakal bunga pisang terlihat kemerahan.
Foto di atas memperlihatkan bunga pisang yang sedang merekah, dan buah pisang sudah mulai tampak.
Tidak akan ada bunga yang tersisa, kelopak bunga akan gugur. Sehingga dalam bahasa Jawa, pisang tanduk disebut sebagai "pisang byar".
Rasa pisang ini manis, agak asam, dan lunak agak legit. Biasa dimasak jadi pisang goreng, atau dikukus.
Beberapa tunas pisang tumbuh subur di antara batang di halaman rumah. Nantinya tunas-tunas pisang tersebut akan dikurangi karena terlalu rapat.
Jarak antar pohon yang terlalu rapat menyebabkan tanaman berebut pasokan nutrisi dari tanah, juga kurang terpapar sinar matahari.
Hampir tidak ada perawatan khusus yang diberikan. Biasanya hanya pembersihan area di sekitar batang. Mencukur daun yang layu agar sinar matahari tidak terhalang. Pisang biasanya membutuhkan cahaya matahari sepanjang hari, minimal setengah hari (50%).
Tanahnya cukup lembab tapi tidak becek atau tergenang air. Perlu di beri jalur air di sekitar satu meter area pohon, agar tidak becek. Pada saat berbuah, pohon kadang perlu diberi tunjang agar tidak roboh.
Beberapa manfaat pisang tanduk bagi kesehatan adalah dapat menyehatkan liver (hati), penambah sel darah merah, meredakan gejala asma, menyehatkan otak, melancarkan pencernaan.
Kawat ram plastik atau matras atau kawat jaring plastik anti kucing. Diletakkan di atas tanah di dalam pot tanaman. Untuk mencegah kucing buang kotoran (buang air besar, BAB) di tanah tersebut.
Pada foto di atas terlihat pot besar dengan beberapa tanaman. Terletak di dekat lantai paving block. Sehingga mudah dijangkau kucing. Tanah yang gembur di sekitar tanaman, mudah dikorek kucing. Sehingga ideal bagi kucing untuk buang kotoran di pot tersebut.
Matras terbuat dari plastik sehingga awet tidak berkarat. Matras ini matras biasa. Bukan matras berpaku yang biasa digunakan agar tidak diinjak kucing atau anjing.
Jarak anyaman matras sekitar 1-2 centimeter.
Bagian tengah pot bisa dikosongkan tanpa matras. Karena kucing terhalang oleh tanaman. Tapi jika tanaman kurang rapat, maka harus ditutup matras.
Untuk sambungan antar matras, bisa dilakukan dengan mengkaitkan anyaman matras yang satu dengan anyaman matras yang lain.
Di atas matras bisa diletakkan batu koral. Pada foto terlihat banyak batu koral putih. Sebagai hiasan dan sebagai pemberat agar matras terkunci. Tapi jika terlalu banyak batu, tanah bisa kurang subur.
Jangan menebar batu koral kecil atau kerikil. Selain karena bisa lolos di lubang anyaman matras. Juga karena bisa dikais atau digeser dengan mudah oleh kucing. Sehingga kucing menganggap kerikil sama dengan pasir, lalu buang hajat.
Pada pot tersebut terlihat tanaman airis (neomarica longifolia, trimezia martinicensis), dan lavender (lavandula) yang beraroma manis dan dapat mengusir nyamuk.
Jika masih ada kucing yang berak di atas matras. Maka tancapkan paku 12 centimeter beberapa buah di sekitar tempat kucing berak. Kepala paku ditancapkan ke tanah, sehingga ujung lancip paku mengarah ke atas. Tinggi paku mencuat sekitar 5 centimeter di atas tanah.
Jangan memasang paku pada kayu atau landasan keras lainnya. Karena ujung paku yang lancip mengarah ke atas. Bisa berbahaya jika ada yang menginjak paku tersebut. Terutama pada pot yang rendah dan bisa diinjak kaki orang, seperti pada foto.
Tapi jika paku ditancapkan ke tanah yang gembur atau lunak, tanpa landasan yang keras. Maka paku akan tenggelam atau lebih masuk ke tanah jika terinjak orang. Tidak menancap pada kaki penginjak. Walau ujung lancipnya mengarah ke atas.
Jika perlu tumpulkan ujung lancip paku. Ganti paku jika sudah berkarat. Paku yang dicat dengan warna mencolok, yang kontras dengan warna sekitarnya, bisa lebih aman, dan terlindung dari karat.
Coconut cooking oil is quite popular for cooking, in addition to using palm oil or other cooking oils. This article discusses 3 ways to make coconut oil at home, namely:
1. heated with a stove while stirring
2. heated in a rice cooker without stirring
3. without heating to produce virgin coconut oil (VCO)
1. PROCESS WITH HEATING AND STIRRING
The process of making coconut oil by heating is the most popular, because this is the fastest process. But it requires heating and stirring. The heat will evaporate the water content in the coconut milk. So that the coconut milk runs out of water. And the coconut oil is left, with dregs contains: fiber, protein, and fat. This method is similar to how to cook Padang dishes such as rendang. Where coconut milk is used to boil meat, until the water in the coconut milk evaporates. Then the cooking method changed from boiling the meat, to frying the meat with coconut oil from the coconut milk.
The process of making coconut oil (Cocos nucifera L) by heating is as follows:
Choose an old coconut, peeled and cleaned the remaining hard skin from the coconut shell, take the flesh. The skin of the fruit flesh (testa) is a thin brown skin that wraps around the coconut flesh, usually not removed, to ensure coconut flesh contains more oil.
Grate the coconut meat using a grater. You can use a blender, juicer, and other electric tool (food processor). But make sure not to fill too much to avoid blender overload. Usually, coconut meat should be cut into small pieces, like dice about 1 cm in size. Then water is added to make it easier to chop and mix in a blender. Grated coconut is also available in the market.
Mix grated coconut with clean water, about 800 milliliters for 1 coconut, to form a good coconut milk. If you use coconut water (coconut juice) to make coconut milk, the coconut oil produced will taste a bit sweet. Suitable for making sweet foods such as cakes. Ready coconut milk is also widely sold in the market. Strain the coconut milk from the coarse coconut pulp. If you use a fine cloth filter, the oil will be cleaner. But it will also reduce the volume of oil produced. Because the oil is contained in the coconut pulps, and those pulps are also filtered.
Prepare a frying pan or wok and heat with a small flame then pour the coconut milk, stir slowly. If too much heat then it should be stirred more often. But too much heat will reduce the quality of the oil. The photo below shows that the foam that sticks to the pan is higher, while the foam on the face of the coconut milk is lower. Because some of the water has evaporated.
Due to the difference in specific gravity, the water will be at the bottom of the pan, because water is the heaviest. The oil will be on top, because it is lighter. Coconut dregs that still contain oil will be on top. Water will be difficult to evaporate because it is blocked by oil on top of it. So it needs to be lifted to the top by stirring it. The dregs containing the oil need to be directed downwards. So that they are exposed to the heat. And the oil is diluted, so that it comes out of the dregs. The dregs will stick together like foam, sometimes it is sticking to the pan if not stirred. If the water has been greatly reduced, the coconut milk will appear brown with a pool of oil on the surface, as in the photo below.
The photo below shows the golden color oil accumulating on a frying pan, with a dark brown dregs and slightly sticking to the pan due to high heat and insufficient stirring. After strain and pour into a container, the oil is ready to use.
With a small flame and continuous stirring, the results will be better. Even though it takes longer as shown in the photo below. Low heat process can take about 4 hours, depending on the amount of coconut milk, wide pan area to ensure water evaporates easily, stirring, and so on. Due to the long heating time, this method is less efficient if making less than 1 liter of oil.
The above oil on the frying pan comes from a single coconut. It can reach about 150 milliliters per coconut, so for 1 liter of oil it takes about 6 coconuts. Sulawesi (Celebes) coconuts can produce more oil per coconut.
If you want get a clear oil like water, then the heating should not be too long. Heating is immediately stopped when the dregs color is slightly brown. But the volume of oil will decrease slightly.
The coconut leftover (dregs, solids, pulp) is edible, tastes and smells good, and it is beneficial for health. Dregs can make dishes such as rendang, coconut oil fried rice, to be delicious. So those foods are included in the list of the world's most delicious foods (world best foods 2021). Coconut oil dregs is also called blondo (Indonesia) and latik (Philipines).
Blondo can also be used as a snack or processed into other foods like the recipes on Cookpad. If coconut milk uses coconut water, then dregs will taste sweet. Latik recipes are also available in Cookpad.
2. FERMENTATION AND HEATING BY RICE COOKER
A rice cooker can be used to make coconut cooking oil. Coconut milk is put into a plastic bag. Then placed in a dark place at room temperature so that the fermentation process occurs.
Light can cause photodegradation (decay by light) so that unwanted changes occur in: fats, pigments (colors), proteins, vitamins, aromas, and others.
After about an hour, the coconut milk will separate to become two parts, the top part is coconut cream (curd), and below is water. As the photo below.
In order to be used as cooking oil, coconut cream needs to be heated. Remove the water by making a hole in the bottom of the plastic bag.
The coconut cream left in the plastic bag is then put into the rice cooker. Set the rice cooker to the cooking position. The rice cooker will heat the coconut cream to a relatively constant temperature of 100 degrees Celsius. Because the rice cooker has an automatic heat regulator.
No need to stir the coconut cream often, you can even leave it like cooking rice. Non-stick Teflon coating on the rice cooker pan prevents dregs from sticking to the pan. The rice cooker does not need to be closed, so that the steam escapes easily.
Water absorbs more heat than oil. If all the water in the coconut milk evaporates, the temperature will rise suddenly beyond 100 degrees Celsius. And the rice cooker detects that temperature rise, it will automatically change from the cooking setting to warm setting. So what is left in the pan is coconut oil and dregs.
But the dregs produced by the rice cooker is still a bit moist, so it is less tasty when eaten. So dregs needs to be fried again to make it more tasty, or other food process.
This method with a rice cooker is more practical and less troublesome, because there is no need to stir continuously. Also because the water has been separated and removed from the coconut milk, the heating will be faster. In places where there are lots of coconut trees, the price of coconut is usually cheaper. So the process of producing coconut oil with this rice cooker can be cheap.
The oil produced by heating coconut milk has a smoke point of about 204 °C. The smoke point is the temperature when the oil evaporates releasing volatile compounds, so that the bluish-white smoke is clearly visible. The cooking process should not exceed this smoke point temperature. Because oil produces toxic compounds if the smoke point is exceeded. Aroma and taste can also change.
Above the smoke point temperature there is a flash point, the point at which vapors from oil can ignite in air, if in contact with a fire or spark.
3. VIRGIN COCONUT OIL
Coconut cream of the 2nd process can also get the oil out without being heated. If you leave it in a dark place long enough, the coconut cream will separate the oil. This oil is virgin coconut oil (VCO). But this process can take more than 12 hours, and it produces less oil. VCO can be drunk and efficacious for health.
The coconut cream, which has been separated from the water, is transferred from a plastic bag into a glass container, filled to the brim. Then covered with plastic and rubber, so as not to be exposed to outside air. Store in a dark place.
After about 12 to 24 hours, the coconut cream will separate into 3 parts.
The very bottom is a slightly cloudy water. The clear middle part is VCO. And the top white and slightly yellow is the fine coconut pulp. There is also coconut pulp or solids that settles to the bottom, if the oil contained in the pulp has been released.
Prepare a wide screener, put a thin layer of cotton to become a fine filter. Thicker cotton makes cleaner filtered oil. If the cotton is too thick, then the oil will be difficult to drip. If you use a funnel, the filtering will take longer, because the funnel is blocked. The cotton and dirt accumulate in the narrow hole, so the oil is difficult to drip.
Tissue paper can also be used to filter oil. But the paper is easily damaged and perforated if there is still water contained in the coconut pulp.
VCO has low smoke point around 177 °C. So VCO may not suitable for frying food, especially foods that require high temperatures. VCO is suitable for cooking by sauteing, or frying with a little water. Or other cooking methods with temperatures lower than the VCO smoke point.
Making VCO does not produce dry solids, because there is no heating. There is only the remaining coconut pulp containing minimum oil, or wet solids. The water used for coconut milk VCO is also not hot water. Because heat can reduce the quality of the VCO. But the water for the coconut milk must be boiled water, drinking water standards. So that there are no bacteria that contaminate the VCO.
Although it takes longer, to let the coconut milk in a dark place. Making VCO is actually easier and simpler, than other coconut oil manufacturing processes. Because it does not need heating and stirring. So that the working hours required are much less. Making VCO can be done as a sideline while doing other work, or even while napping or sleeping at night.
The coconut oil produced by the rice cooker can be seen in the following photo, in the glass on the left about 125 ml. Coconut oil is slightly golden yellow in color, with the remaining dregs settling at the bottom of the glass.
While in the glass on the right is the resulting VCO about 80 ml, it is clear like clear water. The oil in each one glass is produced from one old coconut.