Arachis pintoi, yang umumnya dikenal sebagai Kacang Pinto atau Kacang Landep, Kacang Hias. Sejenis kacang-kacangan tropis yang membentuk anyaman tikar padat dan rendah, biasanya dapat tumbuh hingga setinggi 10 hingga 20 cm. Daunnya tersusun atas empat helai anak daun berbentuk lonjong, dan bunganya berwarna kuning pucat hingga kuning lemon, menyerupai bunga kacang tanah kecil.
Lihat foto-foto landep saya yang beresolusi tinggi, juga foto tanaman lainnya, di Shutterstock.
• Asal dan Distribusi:
Berasal dari Amerika Selatan, khususnya Lembah Amazon di Brasil, tanaman ini telah diperkenalkan dan dibudidayakan di wilayah tropis lainnya karena kemampuan beradaptasinya.
• Kegunaan :
Arachis pintoi dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, termasuk sebagai padang rumput, penutup tanah, dan sebagai tanaman hias. Sebagai penutup tanah, tanaman landep ini dapat mencegah tumbuhnya gulma setelah 3-4 bulan ditanam, bahkan bisa lebih efektif daripada herbisida. Dapat mengurangi erosi, dan mejaga kelembaban tanah. Ia juga digunakan dalam beberapa budaya untuk ritual dan upacara, melambangkan harapan dan kegembiraan, dan dianggap sebagai jimat pembawa keberuntungan.
Sebagai tanaman leguminosa, kacang hias memiliki kemampuan untuk mengikat nitrogen dari udara dan menyimpan nitrogen di dalam tanah, yang bermanfaat untuk kesuburan tanah.
• Pertumbuhan Umumnya :
Tanaman ini merupakan legum atau tumbuhan polong yang merambat dan membentuk tunas, yang dapat membentuk hamparan yang padat. Mirip dengan kacang tanah, setelah penyerbukan, tangkai bunga memanjang dan tumbuh di dalam tanah untuk menghasilkan polong di bawah tanah.
Menyukai sinar matahari, setidaknya 60% per hari. Tanah yang lembab tapi tidak becek atau berdrainase yang baik.
Menyebar dengan rizoma atau batang bawah tanah horizontal yang tumbuh terus menerus yang mengeluarkan tunas lateral dan akar secara berkala.
Landep dapat diperbanyak dari biji. Tapi biasanya diperbanyak dengan cara stek batang. Karena metode perbanyakan stek lebih efektif dan lebih cepat dibandingkan menggunakan biji. Caranya adalah:
• Pilih batang yang sehat dan tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.
• Potong batang sepanjang 10-15 cm dengan pisau tajam.
• Buang daun pada bagian bawah stek, agar mengurangi penguapan air di saat akar belum tumbuh.
• Tanam stek pada media tanam yang lembab dan gembur.
• Jaga kelembaban media tanam dan berikan naungan hingga stek berakar. Biasanya daun baru juga sudah bermunculan.
• Pindahkan stek yang sudah berakar ke pot atau lahan yang lebih luas.
Jika belum lebat dan padat, landep kadang kalah dengan tanaman lain seperti rumput, ilalang, lumut, dan gulma lainnya. Sehingga tananam lain yang mengganggu perlu dicabut. Jika landep sudah lebat dan padat, maka tanaman lain biasanya akan kalah.
• Perawatan :
Tanaman ini dikenal karena ketangguhannya dan perawatannya yang mudah. Bisa disiram air sekali seminggu, agar tanah lembab, tidak kering, tapi juga tidak becek. Toleran terhadap lalu lintas pejalan kaki, dan tidak memerlukan pemangkasan intensif. Cocok untuk area di antara batu pijakan jalan setapak atau sebagai pengganti rumput untuk menutup tanah.
The Ambarella fruit, scientifically known as Spondias dulcis, is also known as the Golden Apple or Ambarella, a tropical fruit tree with edible fruit. Spondias dulcis is a versatile tree with a variety of uses, and its fruit is a popular ingredient in many tropical dishes.
• Origin and Distribution:
This plant is native to the Indo-Malaysian region to Tahiti and has spread widely throughout the tropics.
• Fruit Characteristics:
Ambarella fruit is oval, green when young, and turns yellowish-green when ripe. The flesh is crispy with a sweet-sour flavor.
The maximum tree height can reach 15 meters.
Mini Ambarella
The photo above shows a mini ambarella already bearing fruit, with a tree about 50 cm tall. The mini ambarella is a variety of ambarella plant that is smaller than the typical ambarella, both in terms of tree height and fruit size. This plant, also known as Bangkok ambarella, has the advantage of bearing fruit quickly and being able to bear fruit all year round.
Here are some important points about mini ambarella:
Size:
Mini ambarella trees reach a maximum height of around 2-3 meters, much shorter than regular ambarella.
Fruit:
Mini ambarella fruit is oval-shaped, has a sour and slightly sweet taste, and is perfect for making rujak (fruit salad), pickles, or preserves.
Advantages:
Mini ambarella is known for being very early-growing, meaning it bears fruit quickly. Some sources state that this plant can begin bearing fruit at 1-2 years old. Furthermore, mini ambarella trees can bear fruit all year round.
Care:
Mini ambarella is relatively easy to care for, and some even say it doesn't require special fertilization to produce fruit.
Suitable for Potted Plants:
Due to its relatively small size, mini ambarella is very suitable for growing in pots (potted flowering plants). Can be propagated by cuttings or grafting.
Ambarella trees generally begin to bear fruit 1-2 years after planting, especially the mini ambarella variety. The main harvest season for ambarella in Indonesia usually occurs during the rainy season, around January to March, although some also bear fruit outside of this season.
1. Food: The fruit is edible and can be eaten raw, cooked, or used in jams and preserves. In addition to the fruit, the leaf tips of the mini ambarella can also be used as a spice to add a sour flavor to dishes.
2. Medicine: The bark, leaves, and fruit of this tree have been used in traditional medicine for various purposes.
3. Wood: The wood is sometimes used to make furniture and other wood products.
Cultivation
Spondias dulcis prefers tropical climates with high humidity and warm temperatures.
This tree can grow in a variety of soil types, but prefers moist, but not soggy, soil with good drainage.
Ambarella trees require at least 6 hours of direct sunlight daily for healthy growth and optimal fruit production.
Buah kedondong, yang memiliki nama ilmiah Spondias dulcis, juga dikenal sebagai Ambarella atau Apel Emas, yang merupakan pohon buah tropis dengan buah yang dapat dimakan. Spondias dulcis adalah pohon serbaguna dengan beragam kegunaan, dan buahnya merupakan bahan populer dalam banyak masakan tropis.
• Asal dan Penyebaran:
Tanaman ini berasal dari wilayah Indo-Malaysia hingga Tahiti dan telah tersebar luas di seluruh daerah tropis.
• Ciri-ciri Buah:
Buah kedondong berbentuk lonjong, berwarna hijau saat muda, dan akan berubah menjadi hijau kekuningan saat matang. Daging buahnya renyah dengan rasa asam-manis.
Ketinggian pohon maximal.dapat mencapai 15 meter.
Kedondong Mini
Foto di atas adalah kedondong mini yang sudah berbuah dengan tinggi pohon sekitar 50 cm. Kedondong mini adalah varietas tanaman kedondong yang memiliki ukuran lebih kecil dari kedondong pada umumnya, baik dari segi tinggi pohon maupun ukuran buahnya. Tanaman ini juga dikenal dengan sebutan kedondong bangkok, dan memiliki keunggulan yaitu cepat berbuah (genjah) serta mampu berbuah sepanjang tahun.
Berikut adalah beberapa poin penting tentang kedondong mini:
Ukuran:
Pohon kedondong mini memiliki tinggi maksimal sekitar 2-3 meter, jauh lebih pendek dibandingkan kedondong biasa.
Buah:
Buah kedondong mini berbentuk lonjong seperti telur, rasanya asam dengan sedikit manis, dan sangat cocok untuk dibuat rujak, asinan, atau manisan.
Keunggulan:
Kedondong mini dikenal sangat genjah, artinya cepat berbuah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tanaman ini sudah bisa mulai berbuah pada usia 1-2 tahun. Selain itu, pohon kedondong mini juga mampu berbuah sepanjang tahun.
Perawatan:
Perawatan kedondong mini tergolong mudah, bahkan ada yang menyebutkan tidak memerlukan pemupukan khusus untuk bisa berbuah.
Cocok untuk Tabulampot:
Karena ukurannya yang relatif kecil, kedondong mini sangat cocok ditanam dalam pot (tabulampot, tanaman bunga dalam pot). Dapat diperbanyak dengan stek atau cangkok.
Pohon kedondong umumnya mulai berbuah pada usia 1-2 tahun setelah ditanam, terutama jenis kedondong mini. Musim panen utama kedondong di Indonesia biasanya terjadi pada musim hujan, yaitu sekitar bulan Januari hingga Maret, meskipun ada juga yang berbuah di luar musim tersebut.
Daunnya menyirip, dengan 5-11 helai daun.
Lihat berbagai foto flora saya dengan kualitas tinggi di Shutterstock.
Kegunaan
1. Makanan: Buahnya dapat dimakan dan dapat dimakan mentah, dimasak, atau digunakan dalam selai dan manisan. Selain buahnya, pucuk daun kedondong mini juga bisa dimanfaatkan sebagai bumbu dapur untuk memberikan rasa asam pada masakan.
2. Obat: Kulit kayu, daun, dan buah pohon ini telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keperluan.
3. Kayu: Kayunya terkadang digunakan untuk pembuatan furnitur dan produk kayu lainnya.
Budidaya
Spondias dulcis lebih menyukai iklim tropis dengan kelembapan tinggi dan suhu hangat.
Pohon ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, tetapi lebih menyukai tanah lembab tapi tidak becek atau berdrainase baik.
Pohon kedondong membutuhkan minimal 6 jam sinar matahari langsung setiap hari untuk pertumbuhan yang sehat dan produksi buah yang optimal.
Peperomia pellucida, is also known by common names such as: pepper elder, shining bush plant, crab claw herb, silverbush, rat-ear, man-to-man, clearweed, sirih Cina (Indonesia), luchi pata (West Bengal, India). An annual shallow-rooted herb. Found in damp shaded habitats all over Asia and America. About 15 to 45 cm height.
It is often considered as weed, then uprooted and thrown away, even though it has many benefits.
This plant likes moist and shady areas and can be found in various regions of the world, including the Neotropics (Central and South America, the Caribbean, and South Florida), Africa, Southeast Asia, and Australia.
This plant can grow up to 0.4 meters high and is characterized by its leaves that are about 1-3.5 cm wide, oval or triangular-ovate, also similar to the shape of a heart, light green, succulent, and stems that are branched and hairless.
See also my various photos with high-resolution details about pepper elder and other floras on Shutterstock.
Small flowers arranged in a stalk pointing upwards without hairs 2-6 cm long. The flowers are surrounded by round protective leaves.
The dry fruit that does not break is known as a nutlet. The fruit is round and about 0.5 mm wide.
Peperomia pellucida is traditionally used in folk medicine for a variety of ailments, including inflammation, pain, and certain skin conditions.
In traditional Indonesian medicine, crushed leaves are rubbed onto the head to relieve headaches during fever. The juice of the leaves is drunk to treat stomachaches and colic. In the Philippines, the plant is applied as a poultice to abscesses and boils. In India, a decoction of the plant is drunk to stop bleeding. In Brazil it is used to lower cholesterol and treat infections.
The plant is also edible and can be consumed raw, or cooked, used in salads, or as a tea or herbal drink.
Sirih Cina dengan nama latin Peperomia pellucida, juga dikenal dengan nama umum seperti: Ketumpang Air, Tumpang Air, Tumpang Angin, Daun Babawangan, Suruhan.
Sering dianggap gulma, lalu dicabut dan dibuang, padahal banyak manfaatnya.
Sirih Cina menyukai daerah lembab dan teduh dan dapat ditemukan di berbagai wilayah di dunia, termasuk Neotropik (Amerika Tengah dan Selatan, Karibia, dan Florida Selatan), Afrika, Asia Tenggara, dan Australia.
Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 0,4 meter dan ditandai dengan daunnya yang selebar sekitar 1- 3,5 cm, berbentuk bulat telur atau segitiga bulat telur, mirip juga bentuk hati, berwarna hijau muda, sukulen, dan batang yang bercabang dan tidak berbulu.
Lihat juga berbagai foto saya dengan detail resolusi tinggi tentang Sirih Cina dan flora lainnya di Shutterstock.
Berbunga-bunga kecil tersusun berjarak dalam setangkai mengarah ke atas tanpa bulu sepanjang 2-6 cm. Bunga-bunga tersebut dikelilingi oleh daun pelindung berbentuk bulat.
Buahnya kering yang tidak pecah dikenal sebagai nutlet. Buah ini berbentuk bulat dan lebarnya sekitar 0,5 mm.
Peperomia pellucida secara tradisional digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit, termasuk peradangan, nyeri, dan kondisi kulit tertentu.
Dalam pengobatan tradisional Indonesia, daun yang diremas dioleskan ke kepala untuk meredakan sakit kepala saat demam. Air perasan daunnya diminum untuk mengatasi sakit perut dan kolik. Di Filipina, tanaman ini dioleskan sebagai tapal untuk abses dan bisul. Di India, rebusan tanaman diminum untuk menghentikan pendarahan. Di Brasil digunakan untuk menurunkan kolesterol dan mengobati infeksi.
Tanaman ini juga dapat dimakan dan dapat dikonsumsi mentah, atau dimasak, digunakan dalam salad atau lalap, juga bisa sebagai teh atau jamu.
Plumeria rubra or Plumeria alba, also known as Frangipani. These flowers are characterized by five petals that are tightly pressed together at the base, creating a spiral effect in the center.
Frangipani are known for their fragrant flowers, which appear from early summer through fall. The scent is often described as sweet and quite strong, making it a popular choice for gardens and floral arrangements.
In various cultures, Plumeria has symbolic meaning. In Bali, this flower is used in prayer activities. In Hawaii, this flower is a popular flower for bouquets. This flower is also the national flower of Laos and Nicaragua.
Photo of red frangipani tree with yellow frangipani background. See also my detailed high-resolution photos of frangipani and other floras on Shutterstock.
Frangipani trees are relatively small, usually growing 15 to 25 feet tall, about 5 to 8 meters, with a shape like a vase or umbrella. This tree grows well in warm climates in tropical areas. The leaves are long, rough, and grow in clusters at the ends of branches. Although generally sturdy, the branches are somewhat brittle and contain a milky sap that can irritate the skin.
Frangipani is usually propagated by cuttings, because it grows faster. It can also be planted from seed.
Take branch cuttings from pruned tree branches and plant them. Select cuttings that are at least 50 cm long, with a stem diameter of over 4 cm and a hardened texture for optimal results.
The stem is planted about 10 cm deep in the ground.
Usually yellow Frangipani grows roots more easily. The stem can be dipped into a container of water mixed with soil, or muddy soil. Without worrying that the stem will rot.
Red Frangipani is usually more susceptible to stem and root rot in muddy soil. Some experts recommend that red Frangipani stem cuttings be left for 4-7 days in a dry, dark place. Until the scar is covered with callus. Then planted in moist, but not muddy soil.
Remove the older leaves from the lower part of the stem cuttings, leaving about 30-50% of the younger leaves intact. Also, cut off any flower stems to direct the cutting's energy towards root growth. Excessive leaves can lead to increased transpiration, causing the stem to wilt and potentially rot. Older leaves near the bottom are more prone to rot, which can spread to the rest of the stem.
After establishing a strong root system, this tree prefers full sun exposure throughout the day, which will encourage abundant flowering.
Plumeria milk sap contains compounds that can inhibit termite metabolism and act as a repellent, so termites will not attack plants.
Frangipani are susceptible to pests such as whiteflies, mealybugs, and spider mites. These pests can be controlled with appropriate pest control methods such as soapy water, insecticides. Soapy water is sprayed on to mealy bugs infested leaves, sometimes it needs to be brushed too.
This tree is included in the deciduous group. In horticulture and botany, the term "deciduous" means "shedding when mature" and "tending to shed", referring to trees and shrubs that shed their leaves seasonally, usually in the fall, dropping their petals, after flowering, and dropping their ripe fruit. Therefore, the surrounding area should be swept up frequently to remove fallen leaves and flowers.
The fragrant scent of frangipani flowers is believed to have a calming and relaxing effect in aromatherapy, and it is used in perfumes and other personal care products. The scent is also used in bouquets and flower arrangements, adding a touch and cultural meaning.
The fragrant scent of the flowers is also believed to repel mosquitoes.
Frangipani can be considered an easy plant to grow. It thrives with easy care. It can live in shade, but will flower diligently in a place with full sun, in warm temperatures. The soil should be well-drained, moist but not soggy or water-logged.
Tanaman Sansevieria, yang sekarang secara botani diklasifikasikan dalam genus Dracaena, adalah tanaman hias populer dan tangguh yang berasal dari daerah tropis Afrika, khususnya Madagaskar, dan Asia Selatan. Tanaman ini mencakup sekitar 70 spesies atau lebih, yang banyak di antaranya secara historis dikelompokkan dalam genus Sansevieria.
Pada foto di atas tampak tunasnya tumbuh di antara tanaman dewasa yang bertepi kuning. Tanah ditutup batu koral putih dan paving block.
Lihat juga foto dan video saya tentang flora fauna resolusi tinggi di Shutterstock.
Beberapa nama lainnya, seperti tanaman ular beludak, lidah mertua, pedang-pedangan, atau rami tali busur. Berikut ini adalah uraian tentang apa yang membuat Sansevieria begitu terkenal:
Penampilan:
* Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang selalu hijau yang ditandai dengan daunnya yang kaku, tegak, dan sering kali berbentuk pedang.
* Bentuk, warna, dan ukuran daun sangat bervariasi di antara spesies dan kultivar yang berbeda. Beberapa memiliki daun yang datar dan lebar, sementara yang lain memiliki dedaunan silindris seperti tombak.
* Warna daun berkisar dari hijau tua hingga abu-abu keperakan, sering kali menampilkan variegasi dalam bentuk pita, garis, atau tepi berwarna hijau muda, kuning, atau putih.
* Beberapa varietas, seperti Bird's Nest Sansevieria (Dracaena trifasciata 'Hahnii'), memiliki daun yang lebih pendek yang tumbuh dalam bentuk roset, susunan daun yang melingkar.
Sansevieria atau lidah mertua dapat diperbanyak secara vegetatif dengan cara stek daun, tunas, atau pembagian tanaman.
Perawatan:
* Perawatan Mudah: Sansevieria terkenal karena ketahanannya, rendah perawatan. Daunnya berumur panjang, jarang layu dan rontok, sedikit bersampah, sehingga cocok untuk pemula atau orang yang sibuk.
* Cahaya: Mereka tumbuh subur dalam cahaya terang dan tidak langsung, tetapi dapat beradaptasi dengan kondisi cahaya redup. Namun, pertumbuhan mungkin lebih lambat dan variegasi kurang terlihat dalam cahaya redup. Hindari panas sinar matahari langsung di siang hari, yang dapat membakar daun.
* Penyiraman: Walaupun cukup tahan kebanjiran, penyiraman berlebihan dalam jangka panjang dapat membusukkan akar. Biarkan tanah mengering sepenuhnya di antara penyiraman, tidak perlu disiram setiap hari. Pastikan drainase yang baik untuk mencegah pembusukan akar.
* Tanah: Mereka lebih menyukai tanah yang memiliki drainase yang baik, seperti tanah campuran untuk pot kaktus atau sukulen.
* Suhu: temperatur ruangan rata-rata antara 16-29°C (60-85°F) adalah yang ideal.
* Kelembapan: Sansevieria lebih menyukai tingkat kelembapan yang rendah. Hindari menyemprotnya atau menaruhnya di lingkungan yang sangat lembap.
* Pemupukan: tidak membutuhkan banyak pupuk.
Manfaat:
* Pemurnian udara: Sansevieria terkenal karena kemampuannya menyaring udara dalam ruangan, membuang racun seperti formaldehida, benzena, xilena, toluena, dan trikloroetilen. Khususnya, mereka dapat mengubah karbon dioksida menjadi oksigen bahkan di malam hari.
* Perawatan rendah: Ketahanannya dan kebutuhan perawatan yang minimal menjadikannya pilihan yang tepat bagi banyak orang.
* Kualitas tidur yang lebih baik: Dengan melepaskan oksigen di malam hari, mereka dapat berkontribusi pada lingkungan kamar tidur yang lebih sehat.
* Daya tarik estetika: Dengan bentuknya yang beragam dan dedaunan yang mencolok, mereka dapat menambahkan sentuhan keanggunan modern, cocok di berbagai ruang mana pun.
* Kemampuan beradaptasi: Mereka dapat mentoleransi berbagai kondisi dalam ruangan.
Varietas:
Terdapat beragam varietas Sansevieria, masing-masing dengan karakteristik unik. Beberapa contoh yang populer meliputi:
* Dracaena trifasciata 'Laurentii': Daun tinggi seperti pedang dengan tepi kuning, seperti pada foto di atas, dan foto paling atas.
* Dracaena trifasciata 'Zeylanica': Mirip dengan Laurentii tetapi tanpa tepi kuning.
* Dracaena angolensis 'Starfish' (sebelumnya Sansevieria cylindrica): Daun bundar seperti tombak yang menyebar, tampak pada foto di atas.
* Dracaena hanningtonii 'Fernwood Mikado': Daun ramping, melengkung, dan silindris.
* Dracaena masoniana: Dikenal sebagai Tanaman Ular Sirip Paus, yang memiliki daun tunggal dan lebar.
* Dracaena trifasciata 'Hahnii': Varietas kompak berbentuk sarang burung.
Toksisitas:
* Tanaman Sansevieria sedikit beracun jika tertelan karena adanya saponin. Sebaiknya jauhkan tanaman ini dari jangkauan hewan peliharaan dan anak kecil yang penasaran.
Kesimpulan:
Sansevieria adalah tanaman hias yang bergaya, mudah beradaptasi, dan bermanfaat, serta mudah dirawat, tidak rewel. Dapat membersihkan udara dalam ruangan, menambah kadar oksigen. Tanaman ini menjadi pilihan populer bagi penggemar tanaman berpengalaman maupun pemula. Jika berkualitas bagus, menang kontes, harganya bisa melambung tinggi.
Belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn) atau belimbing sayur adalah pohon buah tropis yang berasal dari Asia Tenggara, diperkirakan berasal dari Maluku, Indonesia.
Shutterstock foto belimbing resolusi tinggi dan foto-foto saya lainnya.
Ciri-ciri
1. Pohon: belimbing wuluh adalah pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh hingga setinggi 10 meter (33 kaki).
2. Daun: daunnya berseling, tunggal, dan memiliki rasa asam.
3. Buah: buahnya kecil, hijau, dan berbentuk silinder, menyerupai mentimun kecil. Panjangnya sekitar 4-6 cm (1,5-2,5 inci) dan lebarnya 1-2 cm (0,5-1 inci).
4. Rasa: buahnya memiliki rasa asam dan sedikit manis, sering digunakan dalam masakan dan sebagai bumbu.
Kegunaan
1. Kuliner: buah belimbing wuluh digunakan dalam berbagai hidangan, seperti kari, sup, dan salad.
2. Obat: buah, daun, dan akarnya digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk demam, rematik, dan masalah pencernaan.
3. Kosmetik: ekstrak buahnya terkadang digunakan dalam produk perawatan kulit karena sifat antioksidan dan antiradangnya.
Nilai Gizi
Buah belimbing wuluh kaya akan:
1. Vitamin C: penting untuk fungsi kekebalan tubuh dan produksi kolagen.
2. Antioksidan: membantu melindungi dari stres oksidatif dan peradangan.
3. Flavonoid: senyawa tanaman dengan sifat antiradang dan antimikroba.
4. Mineral: seperti kalium, magnesium, dan zat besi.
Budidaya
Pohon belimbing wuluh cocok dengan kondisi:
1. Iklim tropis: Suhu hangat antara 20-30°C (68-86°F).
2. Tanah yang lembab tetapi tidak tergenang air.
3. Cahaya matahari sekitar 50%, bisa di tempat agak teduh.
Secara keseluruhan, belimbing wuluh dapat ditanam di halaman rumah, buahnya serbaguna dan bergizi dengan berbagai kegunaan, mulai dari memasak hingga pengobatan tradisional dan kosmetik.
Pohon belimbing wuluh biasanya mulai berbuah setelah berumur 3-4 tahun setelah ditanam, dan dapat berbuah sepanjang tahun dengan panen terberat terjadi 3 kali dalam setahun.
Mengonsumsi belimbing wuluh dengan madu dan air hangat saat perut kosong di pagi hari merupakan praktik tradisional di beberapa budaya Asia, khususnya di Malaysia dan Indonesia. Berikut ini adalah rincian manfaat potensialnya:
Manfaat
1. Kesehatan pencernaan: rasa asam belimbing wuluh dapat membantu merangsang enzim pencernaan dan meningkatkan pencernaan.
2. Detoksifikasi: beberapa orang percaya bahwa sifat antioksidan dan antiperadangan belimbing wuluh dapat membantu mengeluarkan racun dari tubuh.
3. Meningkatkan kekebalan tubuh: kandungan vitamin C dalam belimbing wuluh dapat membantu mendukung fungsi kekebalan tubuh.
4. Membuat tubuh menjadi basa: madu memiliki sifat antimikroba, dan air hangat dapat membantu menghidrasi kembali tubuh setelah berpuasa semalaman.
Manfaat belimbing wuluh secara lebih rinci:
• Mengontrol tekanan darah
• Menurunkan demam
• Mengatasi hipertensi
• Mengatasi diabetes
• Menghambat pertumbuhan bakteri
• Mengatasi jerawat, bintik hitam, bekas luka, dan noda
• Mengurangi pembengkakan
• Melancarkan buang air besar
• Menjaga berat badan ideal
• Menyehatkan syaraf
Belimbing wuluh, meskipun kaya manfaat, juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan, terutama bagi penderita gangguan ginjal. Efek sampingnya meliputi pembentukan batu ginjal, keracunan, dan gangguan neurologis akibat kandungan oksalat dan neurotoksin.
Tindakan pencegahan
1. Reaksi alergi: jika Anda alergi terhadap belimbing wuluh atau madu, hindari mengonsumsi campuran ini.
2. Kontrol gula darah: madu mengandung gula yang tinggi, jadi penderita diabetes atau masalah gula darah harus memantau asupannya.
3. Kehamilan dan menyusui: seperti halnya makanan atau suplemen baru lainnya, konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi campuran ini, terutama jika Anda sedang hamil atau menyusui.
4. Interaksi dengan obat-obatan: jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan, konsultasikan dengan dokter untuk memastikan campuran ini tidak akan berinteraksi dengan obat-obatan Anda.
Petunjuk
1. Pilih belimbing wuluh segar: pilih buah belimbing wuluh segar dan hijau.
2. Siapkan campuran: iris belimbing wuluh tipis-tipis, campur dengan sesendok madu, dan tambahkan air hangat.
3. Konsumsi secukupnya: mulailah dengan jumlah sedikit (sekitar 1 sendok teh belimbing wuluh) dan sesuaikan dengan selera.
Bisa juga dengan belimbing yang diolesi madu terlebih dulu, lalu dimakan. Dan kemudian minum air hangat. Rasanya asam manis agak mirip rasa jeruk lemon.
Ingat, meskipun campuran ini mungkin menawarkan manfaat kesehatan yang potensial, penting untuk menjaga pola makan yang seimbang dan berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki masalah kesehatan tertentu.
Mencegah Kulit Kaki Kering dan Retak
Belimbing wuluh bisa membantu mencegah kulit kaki pecah-pecah karena kandungan vitamin C, asam oksalat, dan vitamin A yang dimilikinya. Nutrisi ini berperan dalam menjaga kesehatan kulit dan melindunginya dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, belimbing wuluh juga memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu mencegah infeksi pada kulit yang pecah.
Bersihkan kaki terlebih dahulu. Iris belimbing wuluh, lalu dioleskan ke kulit kaki terutama di bagian kulit yang retak atau pecah. Pastikan airnya membasahi kulit kaki yang retak. Diamkan sekitar 30 menit, lalu kaki dibilas, sebaiknya dengan air hangat. Bisa dilakukan sekali sehari.
Bisa juga dioleskan di sekitar kuku kaki. Berguna untuk melenturkan kulit di sekitar kuku kaki. Mencegah luka dan infeksi (cantengan) karena kulit tertusuk atau tergores kuku kaki.
Jika muncul iritasi atau reaksi alergi, segera hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan dokter.
Dari pengalaman saya, kulit kaki akan membaik signifikan sekitar 1 sampai 2 minggu. Tidak ada lagi kulit kaki yang kering dan retak.
The custard apple (Annona squamosa) is a small tree that produces sweet, heart-shaped fruit with green, knobbly skin and creamy white flesh. It is native to tropical America but is now cultivated in many parts of the world.
Plantation
Custard apple plantations are usually located in warm, tropical climates with well-drained soil. The tree is usually propagated from seed or by grafting.
The tree grows relatively quickly and can begin producing fruit within 3-5 years. A tree about 2 meters tall can already produce a lot of fruit. Because the tree is not too big, it can be planted in the home yard.
Planting
Custard apple trees need full sunlight, or at least 6 hours per day, and regular watering, especially during the dry season.
The tree in my yard was infested with mealybugs on the fruit. Fortunately, the fruit was only about 1.5 meters from the ground. So the mealybugs were easy to clean with a brush and water with a little detergent soap.
Harvesting
Custard apple is harvested when it is fully ripe but still somewhat hard. The fruit is usually picked by hand to avoid bruising the soft fruit.
If it is soft already, it will usually rot quickly. This is an obstacle to its distribution.
The fruit season is in January-March and September-November. It is a seasonal fruit that can be harvested twice a year. Some articles state that it can be harvested all year round.
YouTube video of harvesting custard apple fruit in the home yard.
Utilization
Custard apple is eaten fresh or processed into desserts, jams, and juices. This fruit is a good source of vitamins C and B, as well as fiber and antioxidants.
In Southeast Asia custard apple is called srikaya. And there is a popular Serikaya jam that is generally sold in Southeast Asia, but this jam is not made from srikaya (custard apple) fruit. Instead, it is made from coconut milk, egg and sugar. Only the name is about similar.
Economy
Custard apple cultivation is an important source of income for many farmers in tropical countries. This fruit is also exported to various parts of the world, where it is considered a delicacy. The taste and texture are somewhat similar to Soursop fruit. But custard apple is much smaller in size.
Srikaya (Annona squamosa) adalah pohon kecil yang menghasilkan buah manis berbentuk hati dengan kulit hijau berbonggol dan daging buah berwarna putih krem. Tanaman ini berasal dari daerah tropis Amerika tetapi sekarang dibudidayakan di banyak bagian dunia.
Perkebunan
Perkebunan srikaya biasanya terletak di daerah beriklim tropis yang hangat dengan tanah yang dikeringkan dengan baik. Pohon ini biasanya diperbanyak dari biji atau dengan mencangkok.
Pohon ini tumbuh relatif cepat dan dapat mulai menghasilkan buah dalam waktu 3-5 tahun. Dengan tinggi pohon sekitar 2 meter sudah bisa berbuah banyak. Karena pohonnya tidak terlalu besar, maka bisa ditanam di halaman rumah.
Penanaman
Pohon srikaya membutuhkan sinar matahari penuh, atau minimal 6 jam per hari, dan penyiraman secara teratur, terutama selama musim kemarau.
Pada pohon di halaman saya, terkena hama kutu putih pada buahnya. Untungnya posisi buah hanya sekitar 1,5 meter dari tanah. Sehingga kutu putih mudah dibersihkan dengan kuas dan air dengan sedikit sabun deterjen.
Pemanenan
Srikaya dipanen saat sudah matang sepenuhnya tetapi masih agak keras. Pohon ini biasanya dipetik dengan tangan untuk menghindari memar pada buah yang lembut.
Jika sudah lunak biasanya akan cepat membusuk. Hal ini merupakan kendala pada distribusinya.
Musim buah srikaya adalah pada bulan Januari-Maret dan September-November. Srikaya merupakan buah musiman yang dapat dipanen dua kali dalam satu tahun. Beberapa tulisan menyatakan Srikaya bisa berbuah sepanjang tahun.
Video YouTube panen buah Srikaya di halaman rumah.
Pemanfaatan
Srikaya dimakan segar atau diolah untuk dijadikan makanan penutup, selai, dan jus. Pohon ini merupakan sumber vitamin C dan B yang baik, serta serat dan antioksidan.
Akan tetapi selai serikaya yang umumnya beredar di pasaran di Asia Tenggara, bukan terbuat dari buah Srikaya. Melainkan terbuat dari santan, telur dan gula. Hanya namanya saja yang mirip.
Ekonomi
Budidaya srikaya merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak petani di negara tropis. Buah ini juga diekspor ke berbagai belahan dunia, di mana buah ini dianggap sebagai makanan lezat. Rasa dan textur agak mirip dengan buah Sirsak. Tapi Srikaya jauh lebih kecil ukurannya.
The poisonous but very useful decomposer. Yellow-spotted millipede is also known as yellow-dotted millipede, almond-scented millipede, cyanide millipede.
Orthomorpha coarctata is a species of millipede belonging to the Paradoxosomatidae family. Here are some important facts about this species:
Physical Characteristics
1. Body shape: Long, slender, and cylindrical, similar to a centipede.
2. Color: Dark brown or black with bright yellow or orange spots or dots along the back.
3. Size: Usually about 3-5 cm (1.2-2 inches) long.
Habitat and Distribution
1. Native area: Southeast Asia, including countries such as Indonesia, Malaysia, and Thailand.
2. Habitat: Found in humid environments, such as tropical forests, grasslands, and agricultural areas.
For region: Western North America, from British Columbia to California. With a slightly flattened back rather than cylindrical shape, it is known as Harpaphe haydeniana.
Behavior and Ecology
1. Food: Detritivores, feeding on decaying plant matter, fungi, and bacteria.
2. Burrowing behavior: Millipedes such as Orthomorpha coarctata are known to burrow in soil and leaf litter, helping to break down organic matter and recycle nutrients. However, their burrows are shallow, only about 1-2 cm, not as deep as wormholes. Some writings mention that millipede burrows in the soil reach a depth of 30 cm following rotten wood roots. Meanwhile, earthworm burrows can reach a depth of 2 meters from the ground surface.
Reproduction and Life Cycle
1. Mating: Male millipedes perform elaborate courtship rituals to attract female millipedes.
2. Eggs: Female millipedes lay eggs in protected locations, which hatch into legless larvae after a few weeks.
3. Molting: Young millipedes undergo several molts as they grow, eventually reaching adulthood after a few months.
Fun Facts
1. Unique name: The species name "coarctata" comes from the Latin word "coarctare," meaning "to press together," which likely refers to the millipede's body shape.
2. Important ecological role: As a detritivore, Orthomorpha coarctata helps break down organic matter, recycle nutrients, and contribute to soil health.
Orthomorpha coarctata, like many other centipedes, has a defense mechanism that involves releasing chemicals to deter predators. These chemicals can be toxic to some animals, but the level of toxicity varies depending on the species and the specific chemicals released.
Toxicity level:
Orthomorpha coarctata is considered mildly toxic. Its defensive secretions contain toxic chemicals that contain a variety of harmful chemicals, such as hydrochloric acid, hydrogen cyanide, organic acids, phenols, cresols, benzoquinones, and hydroquinones, which can cause:
1. Irritation: Skin and eye irritation in humans, especially if handled carelessly.
2. Allergic reactions: Some people may experience allergic reactions, such as itching, redness, or swelling, after exposure to centipede secretions.
Precautions:
If you need to handle Orthomorpha coarctata or other centipedes, take the following precautions:
1. Wear gloves: Protect your skin from potential irritants.
2. Avoid touching your eyes: Wash your hands thoroughly after handling millipedes.
3. Keep away from pets: Millipede secretions can be toxic to pets, especially if swallowed.
Important notes:
Although Orthomorpha coarctata is mildly toxic, it is usually not life-threatening to humans. If you experience serious symptoms or problems after exposure, seek medical attention immediately.
There are reports that they attack earthworms. Actually, these millipedes prefer to be above ground. While earthworms live in the soil. If earthworms come to the surface, they may be attacked by millipedes.
Millipedes, including the yellow-spotted millipede, generally have limited or blind vision. This is the explanation:
- Simple eyes: Millipedes have simple eyes, also known as ocelli, which can detect light and dark but cannot form images.
- No compound eyes: Unlike insects, millipedes do not have compound eyes, which consist of multiple lenses and can detect movement and detail.
- Poor eyesight: Millipedes rely more on their sense of touch and smell to navigate their environment.
Despite their limited vision, millipedes can:
- Detect vibrations: Millipedes can sense vibrations in the ground, helping them detect potential threats or prey.
- Follow chemical trails: Millipedes use their antennae to detect chemical cues, such as pheromones, to find food, mate, or shelter.
So, although millipedes may not have sharp eyesight, they have developed other senses to explore and interact with their environment.
According to Sand Diego Zoo, millipedes do feel with their legs, along with their antennae. Millipedes have tactile hairs on their limbs and antennae that act as sensory receptors, allowing them to detect touch and vibrations. They can also use their legs to feel the ground and navigate. They could possibly communicate by scent as well.
Application to Plant Seedlings
Because they can release poison and its aroma, body shape, as well as its striking color as a warning, millipedes have only few natural predators. Other animals tend to avoid millipedes.
Therefore, I use it to protect red cayenne pepper seedlings that are being planted. Millipedes do not eat living plants. Plant pests such as caterpillars, ants, whiteflies, snails, grasshoppers, flies, lizards, and others, will stay away. Because of the smell of the poison, cats, dogs, and mice also stay away. I don't know yet the reaction of squirrels, rabbits and marmots, and other disturbing herbivores or pests that eat plants.
The shape of the pot with a lip that has a thick and wide horizontal part of about 5 millimeters, prevents millipedes from getting out of the pot. Millipedes can walk on vertical wall. Despite their many legs, millipedes cannot walk on the underside of horizontal wall, such as ceiling or plafond.
The yellow spots on these millipedes make them look great as decorations in plant pots. The yellow spots contrast with the color of the soil, and they appear to be moving.
They are called detritivores because millipedes are organisms that decompose and eat dead and decaying organic matter, recycling it back into the ecosystem as energy and nutrients so that it can be reabsorbed by primary producers (plants, phytoplankton, oceanic cyanobacteria). So the presence of millipedes in pots can help decompose organic matter so that it produces compost for red cayenne peppers that are growing in the pot.
Used bottle of mineral water can be used as pot cover, so that millipedes cannot get out. In the photo above, the plastic water bottle is cut and the top end or cone is used to cover the pot. The cover also prevents pests from attacking the plants. Make sure the lip of the pot is tight with the inside of the cone of the mineral water bottle.
The photo above is a used mineral water bottle with the top cut off, and it is used as a plant pot. The top of the pot is slightly tapered inwards, so as to prevent the millipedes from escaping the pot.
If you are bothered by the presence of millipedes, then prevent or avoid damp places. You can do this by placing silica gel in the cupboard, moisture absorbers (such as: Vacplus, Natruth), desiccant (such as: Griot's garage, wisedry, wisesorb), dehumidifiers (such as: Tabyik, ToLife, NineSky), and so on. If necessary, insecticides are generally quite effective against millipedes.
Si pengurai yang beracun tapi banyak manfaatnya. Kaki seribu berbintik kuning, juga dikenal sebagai ulat gagak, luing, luwing, atau keluwing, Bahasa Inggris : yellow-dotted milipede, yellow-spotted millipede, almond-scented millipede, cyanide millipede.
Orthomorpha coarctata adalah spesies kaki seribu yang termasuk dalam famili Paradoxosomatidae. Berikut ini beberapa fakta penting tentang spesies ini:
Ciri-ciri Fisik
1. Bentuk tubuh: Panjang, ramping, dan silindris, mirip kelabang, juga mirip lipan.
2. Warna: Cokelat tua atau hitam dengan bintik-bintik atau titik-titik kuning atau jingga terang di sepanjang punggung.
3. Ukuran: Panjangnya biasanya sekitar 3-5 cm (1,2-2 inci).
Habitat dan Distribusi
1. Daerah asli: Asia Tenggara, termasuk negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
2. Habitat: Ditemukan di lingkungan yang lembap, seperti hutan tropis, padang rumput, dan daerah pertanian.
Perilaku dan Ekologi
1. Makanan: Detritivor, memakan bahan tanaman yang membusuk, jamur, dan bakteri.
2. Perilaku menggali: Kaki seribu seperti Orthomorpha coarctata diketahui menggali tanah dan serasah daun, membantu memecah bahan organik dan mendaur ulang nutrisi. Tapi lubangnya dangkal sekitar 1-2 cm saja, tidak sedalam lubang cacing. Beberapa tulisan menyebut lubang kaki seribu pada tanah mencapai kedalaman 30 cm mengikuti akar kayu yang busuk. Sedangkan lubang cacing tanah dapat mencapai kedalaman 2 meter dari permukaan tanah.
Reproduksi dan Siklus Hidup
1. Perkawinan: Kaki seribu jantan melakukan ritual pacaran yang rumit untuk menarik perhatian kaki seribu betina.
2. Telur: Kaki seribu betina bertelur di lokasi yang terlindungi, yang menetas menjadi larva tanpa kaki setelah beberapa minggu.
3. Pergantian kulit: Kaki seribu muda mengalami beberapa kali pergantian kulit saat mereka tumbuh, akhirnya mencapai usia dewasa setelah beberapa bulan.
Fakta Menarik
1. Nama unik: Nama spesies "coarctata" berasal dari kata Latin "coarctare," yang berarti "menekan bersama," yang kemungkinan merujuk pada bentuk tubuh kaki seribu.
2. Peran ekologis yang penting: Sebagai detritivor, Orthomorpha coarctata membantu memecah bahan organik, mendaur ulang nutrisi, dan berkontribusi terhadap kesehatan tanah.
Orthomorpha coarctata, seperti banyak lipan lainnya, memiliki mekanisme pertahanan yang melibatkan pelepasan zat kimia untuk mencegah predator. Zat kimia ini dapat beracun bagi beberapa hewan, tetapi tingkat toksisitasnya bervariasi tergantung pada spesies dan zat kimia spesifik yang dilepaskan.
Tingkat toksisitas:
Orthomorpha coarctata dianggap agak beracun. Sekresi pertahanannya mengandung zat kimia racun yang mengandung berbagai bahan kimia berbahaya, seperti asam klorida, hidrogen sianida, asam organik, fenol, kresol, benzokuinon, dan hidrokuinon, yang dapat menyebabkan:
1. Iritasi: Iritasi kulit dan mata pada manusia, terutama jika ditangani secara sembarangan.
2. Reaksi alergi: Beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi, seperti gatal, kemerahan, atau bengkak, setelah terpapar sekresi lipan.
Tindakan pencegahan:
Jika Anda perlu menangani Orthomorpha coarctata atau lipan lainnya, lakukan tindakan pencegahan berikut:
1. Kenakan sarung tangan: Lindungi kulit Anda dari potensi iritasi.
2. Hindari menyentuh mata: Cuci tangan Anda sampai bersih setelah memegang kaki seribu.
3. Jauhkan dari hewan peliharaan: Sekresi kaki seribu dapat menjadi racun bagi hewan peliharaan, terutama jika tertelan.
Catatan penting:
Meskipun Orthomorpha coarctata sedikit beracun, namun biasanya tidak mengancam jiwa manusia. Jika Anda mengalami gejala atau masalah serius setelah terpapar, segera cari pertolongan medis.
Untuk wilayah: Amerika Utara bagian Barat, dari British Columbia hingga California. Dengan bentuk rubuh agak pipih bukan silindris dikenal sebagai Harpaphe haydeniana.
Ada laporan yang menyebut mereka menyerang cacing tanah. Sebenarnya kaki seribu ini lebih suka di atas tanah. Sedangkan cacing tanah habitatnya di dalam tanah. Mungkin jika cacing tanah keluar ke permukaan, maka akan diserang kaki seribu.
Kaki seribu umumnya, termasuk kaki seribu berbintik kuning, memiliki penglihatan terbatas atau buta. Berikut penjelasannya:
- Mata sederhana: Kaki seribu memiliki mata sederhana, yang juga dikenal sebagai oselus, yang dapat mendeteksi terang dan gelap tetapi tidak dapat membentuk gambar.
- Tidak memiliki mata majemuk: Tidak seperti serangga, kaki seribu tidak memiliki mata majemuk, yang terdiri dari banyak lensa dan dapat mendeteksi gerakan dan detail.
- Penglihatan buruk: Kaki seribu lebih mengandalkan indra peraba dan penciuman untuk menjelajahi lingkungannya.
Meskipun penglihatannya terbatas, kaki seribu dapat:
- Mendeteksi getaran: Kaki seribu dapat merasakan getaran di tanah, membantu mereka mendeteksi potensi ancaman atau mangsa.
- Mengikuti jejak kimia: Kaki seribu menggunakan antena mereka untuk mendeteksi isyarat kimia, seperti feromon, untuk menemukan makanan, pasangan, atau tempat berlindung.
Jadi, meskipun kaki seribu mungkin tidak memiliki penglihatan yang tajam, mereka telah mengembangkan indra lain untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Kebun Binatang Sand Diego, kaki seribu dapat merasakan dengan kakinya, beserta antenanya. Kaki seribu memiliki rambut peraba pada tungkai dan antenanya yang berfungsi sebagai reseptor sensorik, yang memungkinkan mereka mendeteksi sentuhan dan getaran. Mereka juga dapat menggunakan kakinya untuk merasakan tanah dan menavigasi. Mereka mungkin juga dapat berkomunikasi melalui aroma.
Penerapan Pada Semai Tanaman
Karena dapat mengeluarkan racun dan aromanya, bentuk serta warna yang mencolok sebagai peringatan, maka tidak banyak predatornya. Hewan lain cenderung menghindar.
Video YouTube kaki seribu terjebak di dalam pot.
Video resolusi tinggi saya tentang kaki seribu di shutterstock.
Oleh karena itu saya gunakan untuk memproteksi bibit cabai rawit merah yang sedang bersemai. Kaki seribu tidak memakan tanaman yang masih hidup. Hama tanaman seperti ulat, semut, kutu kebul (kutu putih), siput, belalang, lalat, cicak, dan lain-lain, akan menjauh. Karena aroma racunnya, kucing, anjing, dan tikus juga menjauh. Saya belum tahu reaksi tupai, kelinci dan marmut, dan herbivora lainnya yang mengganggu atau hama yang memakan tanaman.
Bentuk pot dengan bibir yang mempunyai bagian horizontal yang tebal dan lebar sekitar 5 milimeter, mencegah kaki seribu keluar dari pot. Kaki seribu bisa berjalan di dinding vertikal. Walaupun kakinya sangat banyak, kaki seribu tidak bisa berjalan di sisi bawah dinding horizontal, seperti plafon atau langit-langit.
Bintik-bintik kuning pada kaki seribu ini, membuatnya tampak bagus sebagai hiasan di pot tanaman. Bintik-bintik kuning tersebut terlihat kontras dengan warna tanah, dan terlihat bergerak-gerak.
Disebut golongan detritivora karena kaki seribu adalah organisme yang menguraikan dan memakan bahan organik yang mati dan membusuk, mendaur ulangnya kembali ke ekosistem sebagai energi dan nutrisi sehingga dapat diserap kembali oleh produsen primer (tumbuhan, fitoplankton, sianobakteri samudra). Maka keberadaan kaki seribu pada pot, dapat membantu penguraian zat organik sehingga menghasilkan pupuk kompos bagi cabai rawit merah yang sedang bersemai di dalam pot tersebut.
Bekas botol atau galon air mineral dapat digunakan sebagai penutup pot, agar kaki seribu tidak bisa keluar. Pada foto di atas terlihat botol Le Minerale dipotong dan bagian atasnya atau kerucutnya digunakan untuk menutup pot. Penutup juga mencegah hama menyerang tanaman. Pastikan bibir pot rapat dengan bagian dalam kerucut dari botol air mineral.
Foto di atas adalah bekas botol air mineral yang dipotong bagian atasnya dan dijadikan pot tanaman. Bagian atas pot agak mengerucut ke dalam, sehingga mencegah kaki seribu keluar dari pot.
Jika Anda merasa terganggu dengan kehadiran kaki seribu, maka cegah atau hindari tempat-tempat lembab. Bisa dengan menempatkan silika gel pada lemari, penyerap lembab (seperyi: Bagus Serap Air, Dahlia Serap Lembab, Swallow Serap Air, AZKO), dehumidifier (seperti Deerma, Drytech, Kris), dan lain-lain. Jika memang perlu, pembasmi serangga umumnya cukup ampuh terhadap kaki seribu.
The Latin name for horn banana is Musa paradisiaca. Sometimes it is called "cooking banana" or "plantain". The horn banana tree has a trunk height of 2.5–3 meters. It is quite tall compared to other bananas. So the leaves are often torn by the wind.
From this harvest, one bunch of bananas typically has two combs. Each comb consists of about 9 bananas, resulting in a total of approximately 18 bananas per bunch. The length of each banana fruit can reach up to 30 cm.
Initially, the banana flower emerges upright, resembling a shorter, leaf-like bud.
The banana flower stalk resembles a leaf stem, and the developing flower buds appear reddish.
The images above depicts a blooming banana flower with emerging fruit.
Once the flowers have fully bloomed and their petals have fallen, the fruit begins to develop. This why in Javanese, this banana is referred to as "pisang byar".
The taste of this banana is sweet, slightly sour, soft, and slightly spongy and sticky. It is usually cooked as fried bananas or steamed.
As the above photo, several banana shoots grow well between the stems in the yard. Later, some of the banana shoots will be removed because they are too close together.
Too close distance between trees can cause them to compete for nutrients from the soil, and less sunlight exposure.
Little special care is required. Typically, the area around the trunk is kept clean, and wilted leaves are removed to allow sunlight to reach the plant. Bananas generally need full sunlight, or at least half a day of sun exposure.
The soil should be kept moist but not waterlogged or muddy. It's helpful to create a water channel about one meter around the tree to prevent waterlogging. When fruiting, the tree may need support to prevent it from falling over.
Some of the health benefits of horn bananas include improved liver health, increased red blood cell count, relief of asthma symptoms, enhanced brain health, and improved digestion.
There is almost no special care given. Usually just cleaning the area around the trunk. Shaving wilted leaves so that sunlight is not blocked. Bananas usually need sunlight all day, at least half a day (50%).
The soil is quite moist but not muddy or waterlogged. It is necessary to provide a water channel around one meter of the tree area, so that it is not muddy. When bearing fruit, the tree sometimes needs to be supported so that it does not fall over.
Some of the health benefits of horn bananas are that they can improve liver health, increase red blood cells, relieve asthma symptoms, improve brain health, and improve digestion.
Pisang tanduk nama latinnya Musa paradisiaca. Pohon pisang tanduk mempunyai tinggi batang 2,5–3 meter. Termasuk tinggi, jika dibanding pisang lainnya. Sehingga daunnya sering terbelah atau sobek karena tertiup angin.
Dari panen ini, satu tandan pisang mempunyai dua sisir. Setiap satu sisir terdiri dari 9 buah pisang. Sehingga total ada 18 buah pisang. Panjang buah pisang mencapai 30 cm.
Pada awalnya bunga pisang mencuat ke atas. Tampak seperti bakal daun tapi lebih pendek.
Bunga pisang tampak mirip dengan tangkai daun. Bakal bunga pisang terlihat kemerahan.
Foto di atas memperlihatkan bunga pisang yang sedang merekah, dan buah pisang sudah mulai tampak.
Tidak akan ada bunga yang tersisa, kelopak bunga akan gugur. Sehingga dalam bahasa Jawa, pisang tanduk disebut sebagai "pisang byar".
Rasa pisang ini manis, agak asam, dan lunak agak legit. Biasa dimasak jadi pisang goreng, atau dikukus.
Beberapa tunas pisang tumbuh subur di antara batang di halaman rumah. Nantinya tunas-tunas pisang tersebut akan dikurangi karena terlalu rapat.
Jarak antar pohon yang terlalu rapat menyebabkan tanaman berebut pasokan nutrisi dari tanah, juga kurang terpapar sinar matahari.
Hampir tidak ada perawatan khusus yang diberikan. Biasanya hanya pembersihan area di sekitar batang. Mencukur daun yang layu agar sinar matahari tidak terhalang. Pisang biasanya membutuhkan cahaya matahari sepanjang hari, minimal setengah hari (50%).
Tanahnya cukup lembab tapi tidak becek atau tergenang air. Perlu di beri jalur air di sekitar satu meter area pohon, agar tidak becek. Pada saat berbuah, pohon kadang perlu diberi tunjang agar tidak roboh.
Beberapa manfaat pisang tanduk bagi kesehatan adalah dapat menyehatkan liver (hati), penambah sel darah merah, meredakan gejala asma, menyehatkan otak, melancarkan pencernaan.
The old hoe has its handle replaced. The handle was rotten and was supported by large nails. The blade of the hoe head is dull and broken.
The broken hoe head was welded to the broken part. Then grind it to make it sharp.
After being repaired, the condition of the hoe looked like the following photo.
The new handle is planed carefully. So that the hoe can be installed with the handle inserted from the top of the handle, or from the grip part of the handle.
The lower part of the handle that is pinched by the hoe head hole should be a bit tight. This part is about 5-10 cm from the bottom end of the handle.
Leave the very bottom end of the handle with the largest part in cross-section, about 1-2 cm long. To lock the hoe so it doesn't slide down.
The following YouTube video shows the details of the process:
Do not strike the handle on the floor when lowering the hoe to the bottom end of the handle. Because the handle can crack and break if it hits the floor.
The hoe is pressed down onto the handle, by hitting the top part of hoe with a hammer and concrete chisel.
The handle is secured with 3 nails on top of the hoe. So that the hoe doesn't slide upwards.
There are 2 nails on the back part of the handle.
And there is 1 nail on the front part of the handle.
When a hoe is used, the back of the hoe tends to be loose when the hoe hits the ground. That is why 2 nails are installed on the back part of the handle.
A triangular iron peg is installed at the bottom end of the handle.
Power glue (super glue, cyanoacrylate) and sawdust are used to close the gap between the hoe and the handle. Also used to close cracks in wooden handle.
The angle of the hoe to the handle is around 75 degrees, as seen in the following photo.
The angle can be adjusted by planing the bottom end of the handle, until the desired shape or angle is obtained.
For garden or paddy field hoe, some use a 60 degrees angle. This is because the soil is loose and soft. And the hoe is operated by pulling it towards the body, shortly after the hoe is swung from above and plunges into the loose soil. So the soil is easy to be lifted, like using a shovel.
The longer the handle, the stronger the hoe will plunge into the ground. But the long handle is less agile in tight spaces.
The planing machine used in the video is a RYU electric grinder with flap disc sandpaper. If you don't have a planing machine or electric grinder, the planing process can be done manually. You can use a machete, large knife, wood chisel, to peel and shape the wooden handle to the desired shape.