Thursday, November 22, 2018

Flasher Lampu Rem Berkedip Frekuensi Disetel


Rangkaian flasher lampu rem elektronik sederhana ini menggunakan relay yang dikontrol oleh transistor agar frekuensinya bisa disetel dengan mudah dengan trimpot (trimmer potensiometer). Lihat video saat rangkaian diuji frekuensinya.


Lihat juga video saat sirkuit dipasang pada lampu rem ke tiga pada mobil, atau lampu rem tengah.



Berikut adalah daftar komponen dari rangkaian yang sederhana dan murah namun efektif sebagaimana skema di atas.

R = relay 5 kaki SPDT (Single Pole Double Throw) 12 volt
D = dioda 1N4007
T = transistor BC109C
Rb = trimpot 10 kiloohm
Rc = resistor 120 kiloohm
C = kondensor 33 mikrofarad 25 volt
B = lampu rem

SPDT Relay (R) dengan lima kaki. SPDT adalah singkatan dari Single Pole Double Throw. Dua kaki dari relay digunakan untuk mengaktifkan solenoid, dan tiga kaki lainya sebagai saklar. Kaki NC (Normally Closed) terhubung saat relay mati, kaki ini terhubung ke lampu dan menyuplai arus ke kondensor (C).

Flasher relay ini akan menyalakan lampu jika relay tidak aktif. Relay akan aktif saat tegangan kondensor di atas 0,6 volt. Jika relay aktif maka arus ke lampu dan kondensor akan terputus, karena relay menghubung ke kaki Normally Open (NO). Lampu akan mati. Kondensor akan menyuplai arus ke basis transistor, transistor menghubungkan solenoid ke negatif. Sehingga relai akan aktif beberapa saat, dan lampu tetap mati. Jika tegangan kondensor lebi rendah dari 0,6 volt, maka transistor memutus arus  dan solenoid relai akan mati. Selanjutnya kaki NC akan terhubung kembali, lampu menyala dan kondensor terisi kembali. Maka siklus akan berlanjut.


Tampak pada foto rangkaian, relai 12 volt berwarna oranye dengan merk Schrack tipe TN313012. Relai ini dapat mengalirkan arus searah sebesar maximal 7 ampere. Jadi untuk 12 volt maka daya maximal beban, dalam hal ini lampu, adalah = 12 x 7 = 84 watt.

Dioda (D) berfungsi untuk menghilangkan tegangan tinggi (spike) yang timbul saat arus ke solenoid terputus. Spike ini dapat merusak transistor. Spike timbul karena runtuhnya medan magnet di solenoid menginduksikan tegangan tinggi dengan arah arus yang kebalikan arus suplai. Itulah sebabnya dioda dipasang terbalik.

Transistor BC109C dari jenis NPN, akan mengalirkan arus dari solenoid relay ke negatif jika tegangan di kaki basis di atas 0,6 volt. Transistor ini mempunyai bodi metal, sehingga kalau kepanasan maka dapat dipasang pendingin. Dari hasil test temperatur transistor tidak naik sekalipun flasher diuji selama beberapa jam.

Trimpot (Rb) dengan nilai 10 kiloohm akan menentukan lamanya waktu pengosongan kondensor. Sehingga menentukan lamanya waktu relay aktif dan lampu mati. Maka frekwensi dapat berubah saat trimpot ini disetel. Semakin besar nilai Rb maka semakin lama pengosongan kondensor, semakin lama lampu mati, dan frekwensi semakin rendah.

Resistor (Rc) berukuran 120 kiloohm menentukan lamanya waktu pengisian kondensor. Dengan kata lain menentukan lamanya relay tidak aktif dan lampu menyala. Semakin besar nilainya maka makin lama lampu menyala. Resistor ini juga menentukan besar arus yang disuplai ke basis transistor. Sehingga menentukan juga besar arus yang disuplai ke solenoid relay. Jika arus relay terlalu kecil maka relay sulit untuk diaktifkan. Dari hasil test diketahui bahwa Rc senilai 330 kiloohm akan membuat relay sulit untuk diaktifkan.

Sebenarnya Rc juga dapat diganti trimpot agar dapat disetel. Tapi terlalu banyak setelan juga dapat merepotkan. Transistor juga memiliki batasan arus basis maximal, sehingga jika Rc diganti trimpot maka beresiko arus maximal basis terlampaui dan transistor rusak.

Kondensor (C) senilai 33 mikrofarad menentukan lamanya lampu menyala, sekaligus juga menentukan lamanya lampu mati. Semakin besar nilainya maka frekwensi akan semakin rendah.

Lampu rem (B) tersambung pada kaki Normally Close (NC) dari relay. Jika sistem tidak bekerja, maka lampu rem akan tetap menyala tapi tidak berkedip. Jadi dengan desain ini, masih aman untuk mobil atau motor yang menggunakan sirkuit ini, meskipun flasher ini tidak berfungsi dengan baik.

Pada video tampak adanya lampu LED sebagai indikator. Jika ingin menambah lampu LED 5 mm tersebut maka cukup disambung pada kaki relay dengan menggunakan resistor dengan nilai sekitar 2,2 kiloohm sudah cukup terang sinarnya. Pemasangan LED dapat dibaca juga pada artikel flasher relay sederhana.

Input tegangan 12 vdc disambung ke kabel positif dari lampu rem, atau kabel positif dari switch pedal rem.

Rangkaian ini juga dapat diaplikasikan sebagai flasher lampu sein (lampu belok). Cara mudah membuat Printed Circuit Board (PCB) dari rangkaian ini dapat dibaca pada artikel membuat PCB tanpa kimia.

Lampu rem berkedip adalah teknologi yang masih sangat baru. Sehingga peraturannya masih rancu di beberapa tempat. Untuk itu dibutuhkan kebijaksanaan pemirsa dalam menerapkan rangkaian ini pada mobil ataupun sepeda motor.

Tujuan lampu rem berkedip agar lebih terlihat. Karena lampu malam (lampu belakang) juga berwarna merah yang sama dengan lampu rem. Beberapa pabrikan seperti Mercedes Benz, Volvo, BMW, Honda sudah menerapkan lampu rem yang dapat berkedip pada beberapa model mobil dan sepeda motor.

Saat ini di belakang mobil balap formula satu (F1) dilengkapi lampu merah berkedip yang diaktifkan ketika kondisi agak berbahaya (seperti: hujan, kabut), atau ketika mobil memanen daya listrik dari putaran roda (energi kinetik) untuk mengisi baterai pada sistem turbo hybrid. Pengisian baterai akan membuat mobil melambat dan digunakan seperti saat memasuki tikungan, mirip teknik rem dengan engine brake. Selanjutnya tenaga baterai akan digunakan untuk akselerasi, seperti saat keluar dari tikungan.

No comments:

Post a Comment

Your positive comment will be highly appreciated to improve this site