Wednesday, October 10, 2018

Flasher Lampu Rem Berkedip dan Lampu Sein


Sekarang sedang populer lampu rem yang dapat berkedip. Tujuan lampu rem berkedip agar lebih terlihat. Karena lampu malam (lampu belakang) juga berwarna merah yang sama dengan lampu rem. Beberapa pabrikan seperti Mercedes Benz, Volvo, BMW, Honda sudah menerapkan lampu rem yang dapat berkedip pada beberapa model mobil dan sepeda motor.

Saat ini di belakang mobil balap formula satu (F1) dilengkapi lampu merah berkedip yang diaktifkan ketika kondisi agak berbahaya (seperti: hujan, kabut), atau ketika mobil memanen daya listrik dari putaran roda (energi kinetik) untuk mengisi baterai pada sistem turbo hybrid. Pengisian baterai akan membuat mobil melambat dan digunakan seperti saat memasuki tikungan, mirip teknik rem dengan engine brake. Selanjutnya tenaga baterai akan digunakan untuk akselerasi, seperti saat keluar dari tikungan.

Sirkuit elektronik flasher sederhana dan murah berikut ini dapat digunakan untuk membuat lampu rem berkedip. Bisa diaplikasikan pada lampu LED maupun lampu pijar (bohlam).


R = relay 5 kaki SPDT (Single Pole Double Throw) 12 volt
Dz = dioda zener 12 volt 1 watt
C = kondensor 470 mikrofarad 25 volt
R1 = 120 ohm resistor 1 watt
D = dioda 1N4007
LED  diameter 5 mm
R2 = 1kiloohm resistor 0,25 watt
B = lampu rem

Foto berikut memperlihatkan susunan komponen yang terpasang pada papan matrix.



Video di YouTube berikut memperlihatkan saat prototipe rangkaian sedang diuji-coba.



SPDT Relay (R) dengan lima kaki. SPDT adalah singkatan dari Single Pole Double Throw. Dua kaki dari relay digunakan untuk mengaktifkan solenoid, dan tiga kaki lainya sebagai saklar. Kaki NC (Normally Closed) terhubung saat relay mati, kaki ini terhubung ke lampu dan menyuplai arus ke kondensor (C). Flasher relay ini akan menyalakan lampu jika relai tidak aktif. Relay akan aktif saat kondensor hampir penuh. Jika relay aktif maka arus ke lampu dan kondensor akan terputus, karena relay menghubung ke kaki Normally Open (NO). Lampu akan mati. Kondensor akan menyuplai arus ke solenoid relai, sehingga relai tetap aktif beberapa saat, dan lampu tetap mati. Jika tegangan kondensor sudah rendah, maka solenoid relai akan mati. Selanjutnya kaki NC akan terhubung kembali, lampu menyala dan kondensor terisi kembali. Maka siklus akan berlanjut.

Tampak pada foto rangkaian, relai 12 volt berwarna oranye dengan merk Schrack tipe TN313012. Relai ini dapat mengalirkan arus searah sebesar maximal 7 ampere. Jadi untuk 12 volt maka daya maximal beban, dalam hal ini lampu, adalah = 12 x 7 = 84 watt.

Kondensor (C) menentukan frekuensi kedipan. Dengan nilai 470 mikro farad akan membuat kedipan dengan frekuensi sekitar 5 hertz, atau 5 kedipan per detik, cocok untuk lampu rem yang berkedip. Frekuensi juga akan bergantung pada relai yang digunakan.

Dengan nilai 1.500 mikro farad frekuensinya sekitar 1,5 hertz, cocok untuk lampu sein (lampu belok). Karena flasher ini bekerja dengan solenoid (elektromagnet), maka flasher ini membutuhkan kabel negatif. Sedangkan flasher orisinal pada kendaraan bermotor biasanya tidak membutuhkan kabel negatif (ground), karena bekerja berdasarkan panas akibat dilalui arus listrik yang menuju lampu. Flasher orisinal terbuat dari bimetal yang akan memutus arus ketika sudah panas, dan menyambung kembali segera setelah lebih dingin. Flasher lampu sein berbunyi tik-tok yang khas terjadi karena gerakan pelat bimetal tersebut.


Dioda zener (Dz) menstabilkan tegangan pada 12 volt. Karena tegangan pada kendaraan biasanya tidak stabil, dan menyebabkan perubahan frekuensi kedipan. Zener dan kondensor juga menghilangkan tegangan tinggi (spike) yang timbul saat relai berubah dari aktif menjadi mati. Tegangan spike dapat merusak transistor dan IC. Zener atau kondensor harus selalu terpasang saat relai diaktifkan menggunakan adaptor dengan transistor ataupun IC stabilisator tegangan. Perhatikan skema dan gambar di atas, pemasangan zener yang terbalik. Kaki katoda terhubung dengan positif dan kaki anoda terhubung dengan negatif atau ground. Arus akan mengalir dari katoda (K) menuju anoda (A) jika tegangan zener terlampaui, inilah yang menyebabkan zener digunakan sebagai stabilisator tegangan.

Resistor 1 (R1) menghubung kondensor (C) ke negatif (ground) saat pengisian kondensor. Semakin besar resistansi maka akan semakin lama pengisian kondensor, dan makin lama lampu menyala. Sebaliknya jika R1 dikecilkan maka lamanya waktu menyala lampu semakin sebentar. Arus yang melalui R1 juga melalui relai dan akan mengaktifkan relai. Jika R1 terlalu besar maka relai tidak akan bisa aktif karena arus terlalu lemah, walau kondensor sudah penuh. Dari test yang dilakukan, nilai terbesar R1 adalah sekitar 180 ohm, dengan nilai ini relai sudah mulai sulit untuk aktif.

Dioda (D) mencegah arus dari kondensor mengalir menuju lampu (B) saat relai aktif. Arus dari kondensor hanya boleh menuju solenoid relai, guna mengkontrol aktivasi relay.

Lampu LED berdiameter 5 mm adalah indikator saja, dapat diabaikan. Warna LED boleh memilih sesuai selera.

Resistor LED (R2) untuk membatasi arus agar LED tidak putus. Resistor ini bisa diabaikan jika LED tidak dipasang. Jika resistor dikecilkan maka LED akan semakin terang. Untuk ukuran diameter 5 mm, biasanya arus LED tidak boleh melampaui 20 miliampere.

Lampu (B) adalah lampu rem orisinal kendaraan. Bisa berupa lampu pijar (bohlam), maupun lampu LED (Light Emitting Diode).

Menurut saya sebaiknya flasher lampu rem tidak digunakan pada lampu rem yang berdampingan dengan lampu sein. Karena dapat rancu jika dilihat sekilas oleh pengemudi lain saat kecepatan tinggi. Posisi terbaik untuk lampu rem berkedip adalah pada lampu rem ke 3, atau lampu rem di tengah, di belakang mobil. Beberapa sepeda motor menggunakan lampu sein yang menggunakan tangkai dan terpisah dari lampu rem, maka bisa mencegah kerancuan jika lampu rem berkedip.

Harap pembaca menerapkan rangkaian ini secara bijaksana.




No comments:

Post a Comment

Your positive comment will be highly appreciated to improve this site